<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1653">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada An. A Dengan Diare Akut Dehidrasi Ringan Di Ruang Cempaka RSUD Goeteng Tarunadibrata Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Fajar Sutrisno</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2016]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, cair, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah (Hidayat, 2006). Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan  dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering  (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Depkes RI, 2011).
Penyakit diare sampai saat ini masih merupakan penyebab kematian utama di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. World Health Organization (WHO) memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal, dan sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun. Diare bukan hanya menjadi pembunuh di negara berkembang namun juga menjadi masalah utama di negara maju. Diperkirakan 82% kematian akibat gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah (WHO, 2012).
Melihat kondisi negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan, penyakit diare masih menjadi penyakit yang sering menyerang masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat kita yang masih belum menyadari akan pentingnya sarana air bersih (Nursalam, 2008).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007), penyakit diare menempati urutan ke-3 penyakit menular penyebab kematian pada semua umur di Indonesia. Angka kesakitan yang disebabkan oleh diare pada tahun 2010 mencapai 411 per 1000 penduduk. Tingginya angka kesakitan membuat penyakit diare sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Jumlah kasus KLB Diare pada tahun 2010 sebanyak 2.580 dengan kematian sebesar 77 kasus sedangkan pada tahun 2009 KLB Diare sebanyak 3.037 kasus dengan kematian sebesar 21 kasus (Dinas Kesehatan, 2010). Data profil kesehatan Indonesia menyebutkan tahun 2012 jumlah kasus diare yang ditemukan sekitar 213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289, dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Diperkirakan di Indonesia ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya (Depkes RI, 2012). 
Cakupan penemuan penderita diare di Jawa Tengah menunjukkan bahwa angka kesakitan diare pada tahun 2012 mencapai jumlah penderita 2.574 orang dengan 33,8% penderita diantaranya adalah balita (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2012). Data Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, menunjukkan bahwa penderita diare pada tahun 2013 berjumlah 13.875 kasus dan terdapat 5 kasus kematian yang disebabkan oleh penyakit diare. Tingginya angka kejadian diare disebabkan karena kebiasaan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang tidak tahu kebersihannya, faktor pemanfaatan air bersih yang kurang, dan kebersihan peralatan rumah tangga, juga penggunaan jamban yang jarang dibersihkan dapat mempengaruhi kejadian penyakit diare (Dinkes kabupaten Purbalingga, 2013)
Berdasarkan pra survey yang dilakukan oleh penulis  di ruang Cempaka yang merupakan ruang rawat inap anak RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata jumlah pasien rawat inap diare pada anak tahun 2013 sejumlah 364 pasien, pada tahun 2014 pasien rawat inap diare pada anak meningkat dengan jumlah 390 pasien sedangkan  pada tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2014 dengan jumlah pasien rawat inap sebanyak 368 pasien. Data pasien diare pada anak terhitung dari tanggal 1 Januari 2016 – 31 mei 2016 di ruang Cempaka RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sebanyak 71  pasien rawat inap.
Penatalaksanaan pemberian Asuhan Keperawatan pada anak dengan  Diare di RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga diantaranya adalah  untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien dengan memberikan cairan intra vena dan menganjurkan pasien untuk bed rest total selama di rawat di Rumah sakit. Pasien anak yang menderita diare, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemungkinan timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir dan darah. Gejala muntah dapat timbul setelah atau sebelum diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat ketidakseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit,  gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi), selaput bibir mulut dan kulit nampak kering (Muttaqin & Sari, 2011).
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko diare antara lain kurangnya air bersih untuk kebersihan perorangan dan kebersihan rumah tangga, air yang tercemar tinja, pembuangan tinja yang tidak benar, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak layak, khususnya makanan pendamping ASI. Tindakan pencegahan diare antara lain menjaga  kebersihan lingkungan, personal hygiene, pemberian ASI dan gizi secara terus menerus, serta imunisasi ( Tattik, 2011).
Berdasarkan data pra survey yang sudah dilakukan oleh penulis di RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, kasus diare merupakan kasus yang tergolong masih tinggi penderitanya dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melaksanakan asuhan keperawatan mulai pada proses pengkajian sampai dengan melakukan proses evaluasi pada pasien An. A dengan diare di RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Dehidrasi Ringan]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Diare Akut]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0365]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="317" url="" path="/1611Fajar_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada An. A Dengan Diare Akut Dehidrasi Ringan Di Ruang Cempaka RSUD Goeteng Tarunadibrata Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1653]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-14 14:15:22]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-15 17:43:59]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>