<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1689">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. B Dengan Artritis Rheumatoid Di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Heru Prakoso</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2016]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Menurut Helmi (2012) arthritis rheumatoid adalah penyakit peradangan sistemis kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan manifestasi pada sendi perifer dengan pola sistemis. Konstitusi gejala, termasuk kelelahan, malaise, dan kekakuan pada pagi hari. Pada arthritis rheumatoid sering melibatkan organ ekstra-artikular seperti kulit, jantung, paru-paru, dan mata. Artritis rheumatoid menyebabkan kerusakan sendi dan dengan demikian sering menyebabkan mobiditas dan kematian yang cukup besar.
	Artritis rheumatoid merupakan penyakit yang menyerang persendian dan struktur di sekitarnya. Masyarakat pada umumnya menganggap artritis adalah penyakit sepele karena tidak menimbulkan kematian. Padahal jika tidak segera ditangani artritis bisa membuat anggota tubuh berfungsi tidak normal, mulai dari benjol-benjol, sendi kaku, sulit berjalan, bahkan kecacatan seumur hidup. Rasa sakit yang timbul bisa sangat mengganggu dan membatasi aktivitas kegiatan sehari-hari. Artritis rheumatoid merupakan salah satu penyebab nyeri sendi, khususnya sendi-sendi kecil di daerah pergelangan tangan dan jari-jari. Keluhan kaku, nyeri dan bengkak akibat penyakit artritis rheumatoid dapat berlangsung terus-menerus dan semakin lama semakin berat tetapi ada kalanya berlangsung selama beberapa hari dan kemudian sembuh dengan pengobatan. Namun demikian, kebanyakan penyakit artritis rheumatoid berlangsung kronis, yaitu sembuh dan kambuh kembali secara berulang ulang sehingga menyebabkan kerusakan sendi secara menetap. Keluhan kaku dan nyeri sendi pada penyakit artritis rheumatoid adakalanya disertai oleh perasaan mudah lelah. (Mubarak,2012)
	Menurut Artritis Foundation (2006), jumlah penderita reumatik atau gangguan sendi kronis lainnya di Amerika Serikat terus meningkat. Pada tahun 1990 terdapat 38 juta penderita dari sebelumnya 35 juta pada tahun 1985. Data tahun 1998 memperlihatkan hampir 43 juta atau 1 dari 6 orang di Amerika menderita gangguan sendi, dan pada tahun 2005 jumlah penderita reumatik sudah mencapai 66 juta atau hampir 1 dari 3 orang mengalami gangguan sendi. Sebanyak 42,7 juta diantaranya telah terdiagnosis sebagai reumatik dan 23,2 juta sisanya adalah penderita dengan keluhan nyeri sendi kronis. Sedangkan pravelensi arthritis rheumatoid di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Zeng QY mencapai 23,6% sampai  31,3% (Nainggolan,2009)	
	Prevalensi penyakit sendi di Indonesia berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7%. Prevalensi berdasarkan diagnosis atau gejala meliputi provinsi Bali (19,3%), diikuti Aceh (18,3%), Jawa Barat (17,5%) dan Papua (15,4%). Prevalensi penyakit sendi tertinggi berada di provinsi Nusa Tenggara Timur (33,1%), Jawa Barat (32,1%), dan Jawa Tengah (25,5%). (Riskesdas,2013)
	Data pelayanan kesehatan dari tahun ketahun menunjukan proporsi kasus rematik di Jawa Tengah mengalami peningkatan dibanding kasus penyakit tidak menular. Secara keseluruhan pada tahun 2007 proporsi kasus penyakit rematik sebesar 17,34% meningkat menjadi 29,35% pada tahun 2008, kemudian pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 39,47% (Wiyono, 2010) 
	Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan Januari 2016 di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap didapatkan data jumlah lansia yang menderita artritis rheumatoid sebanyak 20 lansia,  salah satunya adalah  yang diderita oleh Tn. B.
Arthritis biasanya telah diderita selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, yang paling ditakuti dari arthritis rheumatoid adalah akan menimbulkan kecacatan baik ringan seperti kerusakan sendi maupun berat seperti kelumpuhan. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya kualitas hidup seseorang yang berakibat terbatasnya aktivitas dan terjadinya depresi. Dampak lain dari arthritis rheumatoid juga menimbulkan kegagalan organ bahkan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, perubahan citra diri serta resiko tinggi akan terjadinya cidera. (Mubarak,2012)
Selain itu, penderita artritis rheumatoid dengan keterbatasan mobilitas memiliki kemungkinan terjadinya penurunan kekuatan otot sebesar 30 - 70% dibandingkan orang normal. Secara fungsional, kelainan tangan pada artritis rheumatoid secara dramatis dapat mengurangi kapasitas fungsi lengan secara keseluruhan, salah satunya adalah gangguan pada deksteritas tangan. Selain secara farmakologis, penatalaksanaan artritis rheumatoid juga mencakup program rehabilitasi medik, seperti terapi istirahat, latihan terapeutik, terapi dengan modalitas fisis, ortosis, terapi okupasi dan terapi psikologis. (Widiani, 2011)
	Berdasarkan latar belakang dan data tersebut diatas, penulis berpendapat bahwa Artritis Rheumatoid masih memerlukan penanganan secara komprehensif karena mengganggu pemenuhan Activity Daily Lifes atau bisa disingkat ADLs dan kenyamanan pada lansia. Keikut sertaan klien akan sangat membantu dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Artritis Rheumatoid]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Keperawatan Gerontik]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0337]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="352" url="" path="/1646Heru_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. B Dengan Artritis Rheumatoid Di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1689]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-15 15:18:08]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-15 17:31:41]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>