<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1693">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada AN. D Dengan Kekurangan Energi Protein Ringan Di Wilayah Kerja Puskesmas Purbalingga Kabupaten Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Tulus Haris Wicaksono</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2016]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Nutrisi yang tepat merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan normal anak. Namun, jika nutrisi yang dibutuhkan oleh anak justru kurang dari kebutuhan anak, pertumbuhan dan perkembangan anak pun juga akan terganggu. Anak yang tidak terpenuhi kebutuhan nutrisinya sangat berisiko untuk mengalami kurang gizi. Kurang gizi ini akan berdampak pada terhambatnya  pertumbuhan anak, anak rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan (Almatsier, 2009). 
Gizi buruk (malnutrisi) merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, khususnya di berbagai negara berkembang (World Health Organization, 2004). The United Nations Children’s Fund  (UNICEF) pada tanggal 12 September 2008, menyatakan malnutrisi sebagai penyebab 1/3 dari 9,2 juta kematian pada anak -anak di bawah usia 5 tahun di dunia. UNICEF juga memberitakan tentang terdapatnya kemunduran signifikan dalam kematian anak secara global di tahun 2007, tetapi tetap terdapat rentang yang sangat jauh antara negara – negara kaya dan miskin, khususnya di Afrika dan Asia Tenggara.
 
Malnutrisi  dalam bentuk apapun meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit dan kematian. Malnutrisi energi-protein, misalnya, merupakan sebuah peran utama dari semua kematian anak di bawah 5 tahun setiap tahunnya di negara – negara berkembang (WHO, 2004).World Food Programme (WFP, 2010) memperkirakan 13 juta anak di Indonesia menderita malnutrisi. Ada beberapa wilayah di indonesia, yang sekitar 50% bayi dan anak – anak mempunyai berat badan rendah.Masalah Kekurangan Energi Protein (KEP) ini masih tersebar luas di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan besaran masalah gizi di Indonesia yaitu gizi kurang sebesar 17,9 %, pendek 35,6 %, kurus 13,3 % dan gemuk 14,2 %. Namun, bila dibandingkan angka prevalensi gizi kurang tahun 2007 (18,4 %) dengan tahun 2010, penurunan prevalensi gizi kurang sangat kecil yaitu 0,5 % (Rencana kerja pembinaan gizi masyarakat, 2013).
Menurut data yang terdapat dalam “Profil Kesehatan Kabupaten Purbalingga Tahun 2013”, jumlah balita yang ada sejumlah 69.159 anak, dari jumlah tersebut yang datang dan ditimbang sebanyak 57.282 anak (82,80%). Dari jumlah balita yang ditimbang yang mengalami gizi lebih sejumlah 1.399 anak (2,44%), balita dengan gizi baik sejumlah 53.728 anak (93,80%), balita dengan gizi kurang sejumlah 1.691 anak (2,95%) dan balita yang menderita gizi buruk (BB/U) sejumlah 464 anak (0,81%).  Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Purbalingga masih ditemukan  balita dengan status gizi buruk (BB/U). Jika dibandingkan dengan tahun 2012 dengan prosentase 0,56% maka kasus gizi buruk cenderung terjadi peningkatan. Untuk kasus gizi buruk (BB/TB) pada tahun 2013 terdapat 61 kasus dan semuanya telah mendapatkan penanganan perawatan. Pada “Profil Kesehatan Kabupaten Purbalingga Tahun 2014”, jumlah balita yang ada sejumlah 67.345 anak, dari jumlah tersebut yang datang dan ditimbang sejumlah 56.495 anak (83,90%). Jumlah balita BGM sebanyak 867 (1,50%) sedangkan kasus gizi buruk pada tahun 2014 terdapat 80 kasus yang terdiri dari 69 kasus lama (0,12%) dan kasus kambuhan tahun sebelumnya sebanyak 11 (0,02%) kasus. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan 11 kasus (0,02%).
Terhadap perkembangan anak, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak, diantaranya anak akan menjadi apatis,gangguan berbicara dan gangguan perkembangan yang lain, sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan intellegence quotient (IQ), penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah. Kurang gizi berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa (Harwina, 2011).
Dari data pra survey yang dilakukan di Puskesmas Purbalingga, kabupaten Purbalingga pada tanggal 6 Agustus 2016, masih terdapat 2 anak yang menderita gizi buruk berdasarkan pengukuran berat badan/tinggi badan (BB/TB). Prosedur tata laksana kegiatan penanggulangan balita dengan gizi buruk di puskesmas menurut Pedoman Tata Laksana Anak Gizi Buruk (2006) meliputi penjaringan balita Kekurangan Energi Protein (KEP) yaitu kegiatan penentuan ulang status gizi balita berdasarkan berat badan dan perhitungan tinggi badan yang sebenarnya dalam hitungan bulan pada saat itu dengan cara balita dihitung kembali umurnya dengan tepat dalam hitungan bulan, balitaditimbang berat badannya dengan menggunakan timbangan dacin, berdasarkan hasil perhitungan umur dan hasil perhitungan berat badan tersebut tentukan status gizi dengan Kartu Menuju Sehat atau standar antropometri.
Kegiatan penanganan Kekurangan Energi Protein (KEP) meliputi program Pemberian Makanan Tambahan yaitu upaya intervensi bagi balita dan anak yang menderita KEP untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita dan anak agar meningkat status gizinya dalam status gizi baik (pita hijau dalam KMS), pemeriksaan dan pengobatan yaitu pemeriksaan dan pengobatan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta guna diobati seperlunya sehingga balita KEP tidak semakin parah kondisinya. Terkait masalah gizi ini, asuhan keperawatan bertujuan memberikan bimbingan pada keluarga balita dan anak dengan KEP agar mampu merawat balita dan anak dengan KEP sehingga dapan mencapai status gizi baik melalui kunjungan rumah dengan kesepakatan keluarga agar bisa dilaksanakan secara berkala, suplementasi gizi untuk jangka pendek (Harwina, 2011).
Suplementasi gizi meliputi : pemberian vit A (berwarna biru untuk bayi 6 – 11 bulan dosis 100.000 IU dan berwarna merah untuk balita usia 12 – 59 bulan dengan dosis 200.000 IU); kapsul minyak beryodium adalah larutan yodium dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg yodium diberikan 1 kali dalam setahun (Panduan Suplementasi Vit A, 2012) .
Pelayanan rutin yang dilakukan di Puskesmas berupa 10 langkah penting, yaitu dengan mengatasi dan mencegah hipoglikemia, mengatasi dan mencegah hipotermia, mengatasi dan mencegah dehidrasi, mengoreksi ganffuan keseimbangan elektrolit, mengobati atau mencegah infeksi, memulai pemberian makanan, fasilitasi tumbuh kejar (catch and growth), koreksi defisiensi nutrien mikro, melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental, dan siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.Dalam pelayanan KEP berat atau gizi buruk terdapat tiga fase yaiu fase stabilisasi, transisi dan rehabilitasi. Petugas dituntut terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase.
</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Energi Protein Ringan]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0321]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="356" url="" path="/1650Tulus_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada AN. D Dengan Kekurangan Energi Protein Ringan Di Wilayah Kerja Puskesmas Purbalingga Kabupaten Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1693]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-15 17:53:05]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-15 17:53:50]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>