<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1703">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada TN. R Dengan Demam Typhoid Di Ruang Flamboyan RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Yuni Setianingsih</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2016]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penyakit demam typhoid merupakan penyakit infeksi pada usus halus yang disebabkan oleh bakteri  Salmonella typhi (Siba, 2012). Salmonella typhi mempunyai beberapa macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida yang disebut endotoksin), antigen H (flagella), antigen Vi dan Outer Membrane Proteins (Nasrudin, dkk, 2007).
        Penyakit demam typhoid mempunyai tanda-tanda yang khas berupa perjalanan yang cepat dan berlangsung kurang lebih 3 minggu. Hal ini terjadi karena adanya endotoksin dari bakteri yang masuk secara oral melalui makanan yang terkontaminasi (Djoko, 2010). Endotoksin dapat merangsang produksi sitokin. Produksi sitokin menyebabkan gejala-gejala sistemik, antara lain demam, muntah, sakit kepala, anoreksia, diare, dan konstipasi. Demam merupakan gejala sistemik yang paling sering muncul pada kasus demam typhoid (Dimitrov, dkk, 2007).
       Demam typhoid sangat erat kaitannya  dengan kualitas kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan seperti lingkungan kumuh, kebersihan tempat-tempat umum yang kurang bersih, serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat (Siba, 2012).
Di dunia pada tanggal tanggal 27 September 2011 sampai dengan 11 Januari 2012 WHO (World Health Organization) mencatat sekitar 42.564 orang menderita demam typhoid dan 214 orang meninggal. Data  survey tahun 2012 memperkirakan  di  Indonesia  ada   600.000–1,3 juta  kasus  demam  typhoid dan setiap tahunnya  terdapat 20.000 jiwa yang meninggal dunia.  Rata-  rata  di  Indonesia, penyakit ini biasanya menyerang anak-anak usia pra sekolah dan orang dewasa yang bisa mencapai angka  sebesar   91%  terhadap kasus demam  typhoid (WHO, 2013).
Prevalensi demam typhoid di Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0,10% lebih tinggi dibandingkan dengan angka tahun 2009 sebesar 0,08%. Kasus tertinggi demam typhoid adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 3.993 kasus  (18,91%)  dibanding  dengan  jumlah  keseluruhan  kasus demam  typhoid  di kabupaten  atau  kota  lain  di  Jawa  Tengah. Kasus  tertinggi  kedua  adalah  Kabupaten  Sukoharjo  yaitu  3.164 kasus  (14,25%) dan  apabila  dibandingkan  dengan  jumlah  keseluruhan kasus demam typhoid di Kabupaten Sukoharjo adalah sebesar 10,99%. Rata-rata kasus typhoid  di Jawa Tengah adalah 635,60 kasus (Dinkes Jateng, 2011).
Kasus demam typhoid di RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga periode 1 Januari 2015 sampai dengan 31 Desember 2015 sejumlah 2098 orang, pada pasien typhoid yang berjenis kelamin laki-laki  sebanyak 907 orang, perempuan sejumlah 1191 orang, serta yang meninggal dunia sebanyak 9 orang.
Apabila demam typhoid ini tidak segera ditangani maka akan menyebabkan terjadinya komplikasi diantaranya : perdarahan dan robeknya bagian usus, peradangan otot jantung, peradangan selaput jantung, peradangan paru-paru, peradangan ginjal, serta peradangan selaput otak dan bahkan pada komplikasi yang berat dapat menyebabkan kematian pada penderita demam typhoid (Krisna, 2015).
</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Demam Typhoid]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0327]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="366" url="" path="/1660Yuni_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada TN. R Dengan Demam Typhoid Di Ruang Flamboyan RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1703]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-16 08:19:26]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-16 08:19:59]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>