<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1710">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada An. T Dengan Bronkopneumonia Di Ruang Cempaka RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Teti Barokah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2016]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan di suatu negara. Masa perkembangan tercepat dalam kehidupan An. Terjadi pada masa balita. Masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap serangan penyakit. Terjadinya gangguan kesehatan pada masa tersebut, dapat berakibat negatif bagi pertumbuhan anak seumur hidupnya (Soetjiningsih, 2008).
Dewasa ini anak-anak sangat rentan dengan berbagai penyakit yang disebabkan karena kuman, virus, bakteri, jamur, kurang gizi, daya tahan tubuh rendah, tidak minum Asi, lingkungan yang dapat memudahkan terjadinya penyakit akut ini, anak yang tertular bisa mengidap penyakit penyakit radang paru-paru bervariasi dari derajat ringan hingga berat.Infeksi saluran napas bawah, termasuk pneumonia dan influenza masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang maupun negara maju (Misnadiarly, 2008).
Bronkopneumonia merupakan penyumbang kematian balita di dunia sekitar 1,6 – 2,2 juta balita dengan proporsi 19%. WHO mencatat bahwa insiden pada tahun 2010 dinegara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara di Eropa lainnya yang menderita penyakit bronkopneumonia sekitar 45.000 orang. Negara-negara berkembang seperti Afrika dan Asia Tenggara sekitar 70%kematian pada anak usia 0 – 6 tahun disebabkan bronkopneumonia (WHO, 2006).
WHO (Word Health Organization)memperkirakan angka kejadian pneumonia di negara dengan angka kematian bayi di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15 – 20% per tahun pada golongan usia balita. Pneumonia ini merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya sangat tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi terdapat juga di neraga maju seperti Amerika, Kanada dan negara-negara Eropa lainnya (WHO, 2006).
Di Amerika, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor satu setelah kardiovaskuler dan TBC. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak menyerang anak balita. Menurut WHO sekitar 800.000 hingga 1 juta anak yang meninggal tiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF (United Nations International Children’s Fund) dan WHO menyebut pneumonia sebagai penyebab kematian anak balita tertinggi, meliputi penyakit-penyakit lain campak dan malaria (UNICEF, 2006).
Di Indonesia pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Data morbiditas pneumonia di Indonesia pertahun berkisar rata-rata 45.000 ribu orang. Dari populasi balita berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia berkisar 2,3 juta jiwa. Penyebab kematian anak balita tertinggi, meliputi penyakit-penyakit lain seperti campak, dan malaria (Depkes, 2009).
Angka kematian pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan 21% pada tahun 2006. Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.Kejadian Pneumonia di Indonesia pada balita diperkirakan antara 10 – 20% per tahun. Diperkirakan bahwa 10% dari penderita pneumonia akan meninggal bila tidak diberi pengobatan. Di Indonesia pneumonia merupakan penyebab kematian utama pada anak dibawah 5 tahun. Pada tahun 1999 insiden pneumonia pada anak usia 0 – 4 tahun adalah 5,8 per 1000 anak dan rata-rata kematian di RS yang disebabkan bronkopneumonia adalah 8,84 % (Depkes, 2009).
Penyakit bronkopneumonia di Indonesia berada di posisi delapan dari sepuluh penyakit yang dirawat di Rumah Sakit di seluruh Indonesia. Setelah diare, demam berdarah dengue, tipoid, demam penyebabnya tidak diketahui, dyspepsia, hipertensi, ISPA. Sepuluh penyakit terbanyak rawat jalan rumah sakit dan dua puluh satu penyakit direkapitulasi profil kesehatan kabupaten atau kota di Jawa Tengah dan diketahui bronkopneumonia yang merupakan penyakit yang sering didapat pada anak-anak menempati ukuran sepuluh setelah faringitis dan campak, dengan presentasi sebesar 1,53%. Pada tahun 2001 presentasinya meningkat 1,61% setelah bronchitis akut (Litbangkes, 2008).
Bronkopneumonia merupakan penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang biasanya didahului dengan infeksi saluran pernapasan bagian atas dan sering dijumpai dengan gejala awal batuk kering dan produktif, dyspnea, demam tinggi, napas cepat dan dangkal, muntah, dan diare. Disebabkan oleh infeksi dari kuman atau bakteri juga didukung oleh kondisi lingkungan dan gizi pada anak (Hidayat, 2009).
Salah satu penyebab bronkopneumonia pada anak adalah karena kebiasaan yang kurang bersih pada anak. Dampak dari kebiasaan yang salah dan tidak disadari ini dapat menimbulkan gangguan saluran pernapasan dan kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kondisi anaknya, sehingga pada umumnya anak dengan bronkopneumonia dibawa kerumah sakit jika kondisinya sudah parah, antara lain dengan gejala sesak napas, sianosis, dan pernapasan cuping hidung (Misnadiarly, 2008).
Bronkopneumonia dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak karena kondisi lingkungan dan gizi sangat berpengaruh pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mencukupi kebutuhan energi sehari-hari dan tumbuh kembang (Nurjazuli, 2009).
Berdasarkan data yang didapat dari Rumah Sakit dr. R. Goeteng Taroenadibrata, kasus Bronkopneumonia pada anak di ruang Cempaka pada bulan Oktober - Desember tahun 2014 sebanyak 21 anak. Peran perawat sangat besar dalam upaya membantu dan mencegah angka kesakitan atau angka kematian.  Pelayanan yang benar dan komprehensif dapat diterapkan melalui asuhan keperawatan yang optimal guna menghindari komplikasi lebih lanjut .
</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Bronkopneumonia]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0331]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="373" url="" path="/1667Teti_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada An. T Dengan Bronkopneumonia Di Ruang Cempaka RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1710]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-16 08:45:07]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-16 08:45:39]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>