<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1739">
<titleInfo>
<title><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. L DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE DI RUANG ICU RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Wiharto Putro Santoso</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2017]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Gagal jantung merupakan penyebab kematian kardiovaskuler, dan kondisi seperti ini juga menurunkan kualitas hidup, karena itu perburukan akut pada gagal jantung kronik harus dicegah secara dini (Nugroho et al., 2016). Menurut data WHO (World Health Organization), mengatakan bahwa 17,3 juta orang meninggal akibat gangguan kardiovaskular pada tahun 2008 dan lebih dari 23 juta orang akan meninggal setiap tahun dengan gangguan kardiovaskular (WHO, 2013).
Gagal jantung sering juga disebut dekompensasi, insufisiensi jantung, atau inkompeten jantung (Baradero et al., 2008). Pada kondisi gagal jantung kongestif adanya peningkatan tekanan vaskular pulmonal akibat gagal jantung kiri menyebabkan averload tekanan serta gagal jantung kanan (Wijaya dan Putri, 2013). Penyebab gagal jantung dapat dibagi menjadi dua, meliputi penyakit pada miokard antara lain infark miokardium, miokarditis, fibrosis miokardium, dan aneurisma vantrikular dan gangguan yang mengakibatkan kelebihan beban ventrikel antara lain stenosis aorta, stenosis pulmonal, hipertensi sistemis, dan hipertensi pulmonal (Baradero et al., 2008).
Pada penelitian di Amerika, resiko berkembangnya gagal jantung adalah 20% untuk usia lebih dari 40 tahun, dengan kejadian >650.000 kasus baru yang didiagnosis gagal jantung selama beberapa dekade terakhir. Kejadian gagal jantung meningkat dengan bertambahnya usia, tingkat kematian untuk gagal jantung sekitar 50% dalam waktu 5 tahun (Yancy, 2013).
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi gagal jantung di Indonesia sekitar 0,3% meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur 65-74 tahun 0,5%, untuk yang terdiagnosis dokter, menurun sedikit pada umur 75 tahun 0,4%, tetapi untuk yang terdiagnosis dokter atau gejala tertinggi pada umur 75 tahun 1,1%. Dari hasil yang terdiagnosis dokter prevalensi lebih tinggi pada perempuan 0,2%, di banding laki-laki 0,1%. Berdasarkan didiagnosis dokter atau gejala prevalensi sama banyaknya antara laki-laki dan perempuan yaitu 0,3%. Prevalensi gagal jantung berdasarkan dokter tertinggi di Yogyakarta 0,25%, disusul jawa timur 0,19% dan di jawa tengah 0,18% (Riskesdas, 2013).
Prevalensi faktor risiko jantung dan pembuluh darah, seperti makan makanan asin 24,5%, kurang sayuran dan buah 93,6%, kurang aktivitas fisik 49,2%, perokok setiap hari 23,7% dan konsumsi alkohol 4,6% ( Depkes RI, 2009). Penyebab gagal jantung dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu pertama, gangguan yang langsung merusak jantung, seperti infark miokardium, miokarditis, fibrosis miokardium, dan aneurisma ventrikular. Kedua, gangguan yang mengakibatkan kelebihan beban ventrikel. Kelebihan beban ventrikel dibagi atas, preload dan afterload. Preload adalah volume darah ventrikel akhir diastolik. Kontraksi jantung menjadi kurang efektif apabila volume ventrikel sudah melampaui batasnya. Meningkatnya preload dapat diakibatkan oleh regurgitasi aorta atau mitral. Afterload adalah kekuatan yang harus dikeluarkan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh (sistem sirkulasi). Meningkatnya afterload dapat diakibatkan oleh stenosis aorta, stenosis pulmonal, hipertensi sistemis, dan hipertensi pulmonal. Penyakit jantung hipersensitif adalah perubahan pada jantung sebagai akibat dari hipertensi yang berlangsung terus-menerus dan meningkatkan afterload. Jantung membesar sebagai kompensasi terhadap beban pada jantung. Apabila hipertensi tidak teratasi, kegagalan jantung dapat terjadi (Baradero et al., 2008).
Pada kasus gagal jantung kongestif, orang yang menderita gagal jatung kongestif memperlihatkan gejala yang khas seperti pembengkakan ditungkai kaki, atau pergelengan kaki, sesak nafas dan kelelahan ketika mengerahkan tenaga. Kondisi ini dapat mempengaruhi kedua sisi jantung, hanya sisi kanan jantung atau hanya sisi kiri jantung. Gagal jantung kongestif dapat bersifat kronis (sedang berlangsung) atau akut (gejala yang muncul tiba-tiba). Pemberian obat-obatan dapat meringankan gejala gagal jantung kongestif, untuk mencegah bertambah buruknya keadaan ini penyebab awalnya harus didiagnosis dan dirawat terlebih dahulu (Abata, 2014).
Obat pilihan untuk kegagalan jantung kongestif/ Congestive Heart Failure adalah digoksin (Lanoxin) juga perlu dipantau kecepatan denyut apikal dan nadi. Dokter perlu diberitahu sebelum obat diberikan apabila frekuensi nadi 60 denyut per menit. Respons terhadap obat perlu dikaji seperti edema, berat badan menurun, pengeluaran cairan lebih banyak dari pada asupan dan tidak ada dispnea atau sianosis (Baradero et al., 2008). Terapi obat untuk kondisi gagal jantung difokuskan pada komponen akhir sindrom ini, beban volume berlebih (kongesti) dan disfungsi miokardial (gagal jantung) dengan strategi pengobatan diutamakan pada penggunaan diuretik dan glikosida jantung. Terapi nitrat dan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard (Nugroho et al., 2016). 
Diuretik diberikan hanya apabila tanda-tanda kegagalan jantung tidak membaik setelah digitalis dan pengurangan natrium diberikan. Tujuan terapi diuretik adalah mengurangi beban jantung dengan mengurangi volume cairan berlebihan dan dapat mengurangi preload (Baradero et al., 2008). Beta-Blocker direkomendasikan pada semua gagal jantung ringan, sedang dan berat yang stabil baik karena iskemi atau kardiomiopati non iskemi dalam pengobatan standar seperti diuretik atau penyakit enzim konversi angiotensin, dengan syarat tidak ditemukan adanya kontraindikasi terhadap penyakit beta. Sampai saat ini hanya beberapa karvedilol metoprolol suksinat dan nebivolol (Sudoyo et al., 2010). 	
Penatalaksanaan non farmakologis yang dapat dilakukan seperti tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresi berbaring. Oksigen juga berperan untuk mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal, selain itu pembatasan natrium ditunjukkan untuk mencegah, atau mengurangi edema (Nugroho et al.,2016).
Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang pedoman penyelenggaraan pelayanan ICU dirumah sakit, ICU adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi dibawah direktur pelayanan) dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa dengan prognosis dubia. Perawat memiliki peran penting dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah sakit mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam pelayanan di rumah sakit meliputi pelaksanaan asuhan keperawatan serta kegiatan yang mendukung pelayanan keperawatan di rumah sakit. Asuhan keperawatan intensif merupakan kegiatan praktek keperawatan intensif yang diberikan pada pasien/ keluarga. Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi pengkajian, masalah/ diagnosa keperawatan, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi (Nursalam, 2008).
Berdasarkan data tahun 2015 terdapat kasus Congestive Heart Failure sebanyak 19 orang, ruang ICU RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sebanyak 11 laki- laki dan 8 perempuan. Pada tahun 2016 yang penulis didapat dari RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, penyakit Congestive Heart Failure (CHF) menempati urutan pertama sebagai penyakit yang paling sering dialami, dengan total penderita Congestive Heart Failure (CHF) sebanyak 26 orang dari total 89 pasien dengan penyakit lainnya, laki-laki sebanyak 15 orang dan perempuan 11 orang. Berdasarkan data tersebut didapat penderita gagal jantung kongestif yaitu sebanyak 29 % dan prosentasi antara wanita dan pria pada rentang usia 45 sampai 64 tahun dan >65 tahun.
Perawat dalam melaksanakan proses keperawatan harus mampu melakukan tahapan pengkajian, analisa data, rencana tindakan, proses implementasi, proses evaluasi dan mendokumentasikan asuhan keperawatan. Beberapa peran di unit perawatan intensif adalah mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien kritis. Tujuan dari keperawatan ini adalah mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi monitoring yang ketat, disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut.</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Congestive Heart Failure]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0416]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="402" url="" path="/1697Wiharto_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. L DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE DI RUANG ICU RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1739]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-18 10:04:30]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-18 10:05:03]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>