<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1797">
<titleInfo>
<title><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN CA OVARIUM DI RUANG TERATAI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Vivian Saputri</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2017]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Kesehatan merupakan hal yang begitu penting bagi manusia. Ironisnya banyak sekali penyakit yang terlambat dideteksi sehingga mencapai tahap kronis yang pada akhirnya sulit untuk ditangani. Padahal setiap penyakit sebelum mencapai tahap kronis atau stadium tinggi, umumnya menunjukkan gejala-gejala penyakit masih dalam tahap ringan. Sayangnya karena ketidaktahuan, maka pasien tidak memperlihatkan hal tersebut. Salah satu penyakit yang biasanya sulit dideteksi adalah kanker (Rohayani, 2010).
Kanker adalah pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal (tumbuh sangat cepat dan tidak terkontrol), menginfiltrasi, menekan jaringan tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi organ tubuh (Dyayadi, 2009). Menurut Rohayani (2010), kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan berubah menjadi sel kanker, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lain sehingga dapat menyebabkan kematian.
Menurut Prawirohardjo (2014), kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari kanker alat genital perempuan. Berdasarkan data pusat Patologi Anatomi di Indonesia kanker ovarium merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah kanker payudara dan kanker servik (Rambe, Asri & Adrial, 2014).
Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50-70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru (Wingo, 1995 dalam Padila, 2013).
World Health Organization (WHO) dalam Rambe, Asri & Adrial (2014), mengklasifikasikan tumor ganas ovarium berdasarkan histopatologi menjadi tiga jenis yaitu tumor ganas ovarium epitel, tumor ganas ovarium germinal dan tumor ganas ovarium stroma. Jenis-jenis tumor yang berasal dari sel yang berbeda tersebut mempunyai karakteristik padat, tampilan klinis, tampilan patologi dan perangai biologi yang berbeda.
Etiologi dari kanker ovarium belum bisa dimengerti dengan jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dikaitkan dengan insiden kanker ovarium. Umur adalah faktor yang penting dan penyakit timbul pada usia 50-60 tahun. Faktor yang lain adalah hereditas, endokrin, lingkungan, makanan dan virus. Wanita yang masuk risiko tinggi adalah nulipara. Apabila seorang wanita pernah mengalami kanker payudara, kemungkinan ia akan memperoleh kanker ovarium adalah 2 kali. Kontak dengan bedak talek dan asbes, makanan tinggi daging, lemak hewan, konsumsi susu yang banyak (karena lemak dalam susu), juga dikaitkan dengan insiden kanker (Baradero, Dayrit & Siswadi, 2007).


Berdasarkan laporan Global of Cancer (2012), angka kejadian kanker ovarium pada tingkat global adalah 3,6 per 100.000 penduduk, sedangkan angka kematiannya 4,3 per 100.000 penduduk. Dari sumber yang sama, insiden dan mortalitas kanker ovarium di Asia menempati urutan kesembilan penyakit-penyakit kanker yang diderita oleh wanita pada semua usia. Situasi yang sama juga ditemukan di Indonesia. Kanker ovarium merupakan sepuluh besar penyebab kematian kanker pada wanita semua usia, dengan jumlah kematian 122,125 jiwa atau 3,8% (Adisasmita, Maryani & Dwipoyono, 2016).
Menurut Rambe, Asri & Adrial (2014),  tumor ganas ovarium merupakan tumor ginekologik kedua terbanyak di Amerika Serikat. Pada tahun 2013 ditemukan 22.240 kasus baru dengan angka kematian 14.030 (5%). Insiden tumor ganas ovarium di Eropa Barat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah geografi lain seperti Amerika Utara, Afrika dan China yaitu kurang lebih 12 wanita tiap 100.000 penduduk.
Rata-rata kejadian kanker ovarium tinggi pada negara industri kecuali jepang. Kejadian rendah terjadi di negara non industri. Insiden tertinggi menurut usia, terjadi pada usia 50-60 tahun, kurang lebih 30% neoplasma ovarium pada wanita pascamenopause ganas, sedangkan kira-kira 7% neoplasma ovarium pada wanita pramenopause (Hidayat, Andrijono, Mihardjo & Siregar, 2008).


Angka kejadian kanker ovarium di Indonesia sebesar 20% dari semua organ reproduksi. Rata-rata insiden diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita (Prawirohardjo, 2008 dalam Astuti, 2014). Dari beberapa penelitian di Indonesia, angka kejadian kanker ovarium bervariasi antara 7,4% hingga 30,5% dari seluruh keganasan ginekologi (Sahil, 2007 dalam Astuti, 2014).
Menurut Dwipoyono (2007), salah satu masalah yang sering dihadapi dalam penanganan kanker ovarium adalah hampir sebagian besar penderita (75%) datang dalam stadium yang sudah lanjut. Hal ini disebabkan kanker ovarium jarang memberikan keluhan yang spesifik sebelum penyakitnya menjadi lanjut dan seperti sudah diperkirakan prognosisnya sangat berhubungan dengan stadiumnya. Faktor prognostik diantaranya dapat dikelompokkan sebagai faktor-faktor patologik seperti: jenis histologik, bentuk lesi dan derajat diferensiasi sel, faktor-faktor biologik: ploidi sel, ekspresi proto-onkogen dan onkogen, faktor-faktor klinis: stadium menurut Federation International of Ginecologies and Obstetricians (FIGO) 1987, sisa tumor pasca operasi, asites, usia pasien dan penampilan pasien.
Pengobatan utama untuk kanker ovarium adalah pembedahan untuk mengangkat kedua telur, kedua indung telur dan rahim disertai pengangkatan kelenjar getah bening perut dan panggul. Pada kanker stadium lanjut, setelah pembedahan mungkin perlu dilakukan kemoterapi atau terapi penyinaran (Nugroho & Utama, 2014). Asuhan keperawatan yang optimal diberikan pada pasien dengan kanker ovarium untuk meminimalkan komplikasi setelah pembedahan (Yarbro, Wujcik & Gobel, 2011 dalam Astuti, 2014). Pemberian asuhan keperawatan ini dengan menggunakan pendekatan teori keperawatan yang diaplikasikan dalam setiap tahapan proses keperawatan (Pilliteri, 2003 dalam Astuti, 2014). Pasien kanker diharapkan dapat menerima, beradaptasi dan memanajemen gejala yang ditimbulkan akibat terapi yang dilakukan. Tujuan akhir asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien kanker ovarium adalah peningkatan kualitas hidup (Yarbro, Wujcik & Gobel, 2011 dalam Astuti, 2014). 
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rekam Medis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, angka kejadian penyakit kanker ovarium tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan baik di ruang rawat inap maupun rawat jalan. Untuk ruang rawat inap pada tahun 2014 sebanyak 281 pasien, tahun 2015 sebanyak 559 pasien dan tahun 2016 sebanyak 651 pasien. Sedangkan untuk ruang rawat jalan pada tahun 2014 sebanyak 455 pasien, tahun 2015 sebanyak 464 pasien dan tahun 2016 sebanyak 688 pasien. 
Menurut data dari Rekam Medis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, untuk pasien dengan penyakit kanker ovarium yang menjalani  rawat inap di ruang Teratai sebanyak 275 pasien pada tahun 2014, pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi 216 pasien. Tetapi, pada tahun 2016 pasien dengan penyakit kanker ovarium meningkat dengan jumlah 299 pasien yang dirawat di ruang Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Dengan meningkatnya jumlah pasien dengan kanker ovarium di RSUD Prof. Dr Margono Soekarjo Purwokerto, sangat penting bagi kita sebagai tenaga kesehatan dalam memperhatikan masalah kesehatan terutama kesehatan reproduksi.
</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[Ovarium]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-0397]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="460" url="" path="/1757Vivian_awal.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN CA OVARIUM DI RUANG TERATAI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1797]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-19 09:04:58]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2017-12-19 09:05:40]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>