<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2166">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Masalah Defisit Perawatan Diri]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Laelatul Amanah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Kesehatan  jiwa  adalah  kondisi  dimana  seorang  individu  dapat berkembang  secara  fisik,  mental, spiritual, dan  sosial  sehingga individu  tersebut  menyadari  kemampuan  sendiri,  dapat  mengatasi tekanan,  dan  dapat bekerja secara  produktif.  orang dengan  masalah kejiwaan  adalah  orang  yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial,  pertumbuhan  dan  perkembangan,  dan/atau  kualitas hidup sehingga memiliki resiko memiliki gangguan  jiwa (UU No/18/2014  dalam  Hastuti,  2017).
      Gangguan  jiwa  merupakan  gangguan dalam cara berpikir (cognitive),  kemauan  (volition), emosi  (affective), dan  tindakan (psychomotor).  Seseorang dapat dikatakan sehat, bukan hanya dilihat dari fisiknya saja namun juga  dilihat  dari  segi  jiwa  atau lingkungannya.  Seiring  dengan kesulitan ekonomi saat ini, jumlah penderita gangguan jiwa semakin meningkat  (Gaol, 2012).
      Data  statistik  yang  dikemukakan  oleh  World  Health  Organitation  (WHO)   (2012)   menyebutkan  bahwa  sekitar  450  juta orang  di  dunia  mengalami  masalah  gangguan  kesehatan  jiwa.  Sepertiga  diantaranya  terjadi  di  Negara  berkembang.  Data  yang ditemukan  oleh  peneliti  di  Harvard  University  dan  University  College  London,  yang  dimuat  dalam  VOA  Indonesia  mengatakan  penyakit kejiwaan  di  tahun  2016  meliputi  32%  dari  semua  jenis  kecataan  diseluruh  dunia.  Angka  tersebut  meningkat  dari  tahun  sebelumnya.  Permasalahan  gangguan  jiwa  di  Indonesia  masih  diperlukan  perhatian khusus.
      Berdasarkan  data  Riset  Kesehatan  Dasar  (2013),  menunjukan bahwa  prevalensi  gangguan  jiwa  secara  nasional  mencapai  5,6   per mil  dari  jumlah  penduduk,  dengan  kata  lain  menunjukan  bahwa  pada  setiap  1000  orang  penduduk  terdapat  empat  sampai  lima  orang  menderita  gangguan  jiwa. Berdasarkan  dari  data  tersebut  bahwa  data  pertahun  di  Indonesia  yang  mengalami  gangguan  jiwa  selalu  meningkat.  prevalensi  gangguan  jiwa  tertinggi  terdapat  di provinsi  Daerah  Khusus Ibu kota Jakarta  (24,3%),  diikuti Nagroe Aceh Darussalam  (18,5%),  Sumatera  Barat  (17,7%),  NTB  (10,9%),  Sumatera  Selatan  (9,2%)  dan  Jawa  Tengah  (6,8%).  Jawa  Tengah menduduki  peringkat  5  provinsi  dengan  masalah  gangguan  jiwa  terbanyak,  walau  demikian  angka  prevalensi  gangguan  jiwa  di  Jawa Tengah  mencapai  angka  2,3  per  mil  diatas  angka  prevalensi  Nasional yaitu  1,7   per  mil.
      Berdasarkan  data  pra  survey  pada  bulan  Januari tahun  2016 di  RSJ.  Prof.  Dr. Soerojo Magelang  didapatkan data  dari  delapan  wisma  di  RSJ. Soerojo Magelang,  ada 70  pasien  dengan  gangguan  jiwa. didapatkan  5  orang  mengalami  masalah  defisit  perawatan  diri,  7  orang mengalami  isolasi  sosial,  8  mengalami  resiko  perilaku  kekerasan,  9  mengalami  harga  diri  rendah  dan  41  mengalami  halusinasi.  Masalah  keperawatan  utama  dengan  defisit  perawatan  diri  memang  paling  sedikit  jumlahnya  dibandingkan  dengan  yang  lain,  dan  rata-rata  defisit  perawatan  diri  ini  adalah  diagnosa  penyerta  pasien  yang  masuk  ke  RSJ. Prof.Dr. Soerojo  Magelang.
Namun  walaupun  jumlahnya  paling  sedikit,  defisit  perawatan  diri  ini  penting  untuk  segera  ditangani. kurangnya  pengetahuan  masyarakat  tentang  penyakit  gangguan  jiwa  serta  stigma  pasien  dengan  gangguan  jiwa defisit  perawatan  diri  yang dinilai  memalukan  dan  tidak  bisa  di  sembuhkan,  hanya  membuat  kondisi  penderita  semakin  memburuk.  Padahal  defisit  perawatan  diri  ini  dapat  disembuhkan  dengan  catatan  pasien  harus  disiplin  dalam  minum  obat  dan  mau  mengikuti  program  terapi  yang  diberikan  oleh  perawat. selain  itu  perlu  diingat  bahwa  penyakit  gangguan  jiwa  ini  membutuhkan  waktu  yang  cukup  lama  untuk  sembuh  secara  total,  untuk  itu  kepatuhan  pasien  dan kesabaran  keluarga  sangat  dibutuhkan (Damaiyanti & Iskandar, 2014). 
Penderita gangguan jiwa  akan  mengalami penurunan  keinginan  untuk melakukan kegiatan sehari-hari, kemampuan bekerja, melakukan hubungan  sosial, dan  melakukan  hal-hal yang menyenangkan. menurunnya  keinginan  melakukan kegiatan disebabkan oleh kurangnya motivasi,  sehingga penderita  gangguan jiwa tidak mampu melakukan kegiatan termasuk kegiatan  perawatan  diri  (Dermawan  &  Rusdi,  2013).
      Salah  satu masalah  dalam  perawatan  diri  adalah defisit  perawatan diri. kurang perawatan diri pada penderita  dengan gangguan  jiwa merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kerusakan kemampuan untuk menyelesaikan kegiatan hidup sendiri. kurangnya perawatan diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. kurang perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berrhias  diri, dan toileting buang air besar/buang air kecil  (Damayanti, 2008).
      Beberapa  faktor  yang  dapat  mempengaruhi penderita kurang perawatan diri dirumah antara lain pengetahuan, pendidikan, informasi,  ekonomi,  dan  keluarga.  (Wawan  & Dwi, 2010  dalam  Hastuti  2017).  Berdasarkan hasil penelitian (Hasriana, 2013) berasumsi bahwa semakin  tinggi  pendidikan seorang maka semakin  baik  pula pengetahuan  terhadap  perawatan diri sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang maka semakin kurang pula  pengetahuan  terhadap  perawatan  keluarga  sebagai  sumber dukungan sosial  dapat menjadi  faktor kunci  dalam  penyembuhan  penderita  ganguan  jiwa. walaupun  anggota  keluarga  tidak  selalu  merupakan  sumber  positif  dalam kesehatan  jiwa, mereka  paling  sering  menjadi  bagian  penyembuhan (Videbeck, 2008). keberhasilan  perawat  dirumah  sakit  dapat  sia-sia jika  tidak  diteruskan  dirumah  yang  kemudian  mengakibatkan  penderita   harus  dirawat   kembali  (kambuh),  masalah  yang  terjadi  pada  pasien perlu  dikaji   lebih  lanjut  tentang  gangguan  yang  terjadi  pada  pasien yang  memicu  terjadinya  defisit  perawatan  diri  (Achir, 2009).
Berdasarkan latar belakang di atas penulis bermaksud melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah Defisit Perawatan Diri.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2639]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="852" url="" path="/073ddd1418d19f2bf07a528dc6a4d983.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah Defisit Perawatan Diri]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2166]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 08:14:45]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 15:31:59]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>