<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2175">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  Nyeri Akut pada  Tn.  T pasien post operasi TURP  dengan Benigna  Prostat  Hyperplasia  di  Ruang  Edelweis  RSUD  Prof.  Dr.  Margono  Soekarjo  Purwokerto]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Delima Ayu Kusuma Wardani</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Menurut Padila (2013), diseluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun keatas dan di perkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah lanjut usia di Indonesia mencapai 18,78 juta orang lebih. Bertambahnya populasi lanjut usia maka mendatangkan sejumlah konsekuensi antara lain yaitu masalah fisik, mental, sosial, serta kebutuhan pelayanan kesehatan dan keperawatan, terutama akibat penyakit keturunan, salah satu contohnya yaitu Benigna Prostat Hyperplasia (BPH). Penyebab  terjadinya BPH sampai  sekarang  belum  diketahui  secara  pasti,  namun  faktor  usia  dan  hormonal  menjadi faktor predisposisi  terjadinya  BPH. Beberapa  faktor  menyebutkan  bahwa  BPH sangat  erat  kaitannya  dengan  peningkatan  Dihidrotestosteron (DHT), peningkatan  esterogen-testosteron,  interaksi  antar  sel  stroma  dan  sel  epitel  prostat, berkurangnya kematian  sel (Prabowo  dan  Pranata,  2014). 
      Menurut  data  (World Health Organization)  (2013),  memperkirakan  terdapat  sekitar  70  juta kasus  degeneratif.  Salah  satunya   BPH,  dengan  insidensi  di  negara maju  sebanyak  19%,  sedangkan  di  negara  berkembang  sebanyak  5,35%  kasus. Usia yang rentan terhadap BPH  
berada pada  usia  lebih  dari  60  tahun  dan  dilakukan pembedahan  setiap  tahunnya.  Tinggi  kejadian  BPH  di  Indonesia  telah menempatkan   sebagai  penyebab  angka  kesakitan nomor 2  terbanyak setelah  penyakit  batu  pada  saluran  kemih.  Tahun  2013  di  Indonesia  terdapat 9,2  juta  kasus  BPH,  diantaranya  diderita  oleh  pria  berusia  di  atas  60  tahun (Rakhmawati, 2016).
      Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan suatu penyakit pembesaran atau hipertrofi dari prostat. BPH merupakan pembesaran ukuran sel (kualitas) dan diikuti oleh penambahan jumlah sel (kuantitas). Pembesaran pada prostat seringkali menyebabkan gangguan dalam eliminasi urin, khususnya yang cenderung kearah depan atau menekan kandung kemih (vesika urinaria) (Prabowo & Pranata, 2014).
      Zakariyah (2015), menyatakan bahwa pembesaran  pada  Benigna Prostat Hyperplasia  terjadi  secara  bertahap  mulai  dari  zona periuretral  dan  tradisional.  BPH  ini  terjadi  secara  nodular  dan  sering diiringi  oleh  poliferasi  fibromuskular  untuk  dilepas  dari  jaringan  epitel. BPH pada kelenjar prostat dapat menyebabkan rasa tidak nyaman (nyeri), penatalaksanaan yang diberikan yaitu mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, genggam jari dan distraksi, pemberian analgetik dan antibiotik. Pembedahan kelenjar  prostat  pada  pasien  BPH  bertujuan  untuk  menghilangkan  obstruksi  aliran  urin.  Transurethral Resection Prostat  (TURP)  dan  Prostatektomi  menjadi  salah  satu  pilihan  tindakan  pembedahan  untuk  mengatasi  obstruksi  saluran  kemih (Smeltser , 2014). 
      Prosedur  TURP banyak diminati merupakan tindakan invasif yang umum, masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal, merupakan operasi tertutup tanpa insisi terbuka serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram (Haryono, 2013). Operasi TURP yaitu pengangkatan jaringan prostat dengan cara memasukkan alat (retroskop) melalui uretra. Pada pasien selama menjalani operasi TURP tidak mengalami rasa sakit/nyeri dikarenakan masih ada efek anestesi, nyeri akan muncul ketika efek anastesinya hilang dikarenakan terputusnya kontinuitas jaringan akibat pengangkatan kelenjar pada prostat. Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berada pada setiap orang dalam skala atau tingkatanya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Zakiyah, 2015).
      Prostatektomi adalah proses operasi atau pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar prostat. Adapun macam-macam pembedahan prostatektomi yaitu : prostatektomi suprapubis, prostatektomi perineal, prostatektomi retropubik. 
      Dari  hasil  data  yang  didapatkan  di  RSUD  Prof.  Dr.  Margono  Soekarjo  Purwokerto  kasus post  operasi TURP  mengalami  peningkatan  setiap tahun. Pada tanggal 11-17 Desember 2017  selama  satu  minggu terdapat 6 kasus BPH. Pasien BPH di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo sebagian besar dilakukan tindakan Operasi TURP dan mayoritas pasienya mengeluh nyeri setelah dilakukan pembedahan. Penanganan nyeri pada BPH ada dua macam yaitu farmakologi dan nonfarmakologi. Di ruang Edelweis tindakan farmakologi dengan pemberian analgesik seperti ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut derajat sedang hingga berat segera setelah operasi dan non farmakologi dengan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, genggam jari dan distraksi.
      Dengan banyaknya  angka  kejadian  pada  kasus BPH dan  komplikasi  yang  ditimbulkan  pada BPH seperti  yang  dipaparkan  di  atas,  mendorong  penulis  untuk membuat  karya  tulis  ilmiah  dengan  judul  Asuhan  Keperawatan  Nyeri Akut pada  Tn.  T pasien post operasi TURP  dengan Benigna  Prostat  Hyperplasia  di  Ruang  Edelweis  RSUD  Prof.  Dr.  Margono  Soekarjo  Purwokerto.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2648]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="861" url="" path="/a5bb154637ceb228c2ba809838280d87.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  Nyeri Akut pada  Tn.  T pasien post operasi TURP  dengan Benigna  Prostat  Hyperplasia  di  Ruang  Edelweis  RSUD  Prof.  Dr.  Margono  Soekarjo  Purwokerto]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2175]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 10:24:12]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 10:24:40]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>