<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2193">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  nyeri akut  pada  Ny.A  dengan  Diabetes  Mellitus  Di  RSUD  Hj.  Anna  Lasmanah  Banjarnegara]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Maria Nuryunita Larasati</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Diabetes Melitus  merupakan  penyakit metabolik atau yang lebih dikenal penyakit gula, penyakit  ini  mematikan manusia secara mendadak atau “silent killer” yang dikarakteristikkan oleh tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) karena defek sekresi insulin, defek kerja insulin atau kombinasi keduanya (Smeltzer & Bare, 2013). Diabetes juga dikenal sebagai “Mother of Disease” Merupakan induk dari penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kebutaan. Gejala Diabetes Mellitus yang bervariasi dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga penderita tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang lebih banyak, buang air kecil lebih sering, mudah lapar, serta berat badan menurun. Gejala tersebut berlangsung lama tanpa memperhatikan diet, olah raga, dan pengobatan sampai orang tersebut memeriksakan kadar gula darahnya (Murwani, 2009). 
Diabetes  Mellitus  disebabkan  oleh  beberapa  faktor  diantaranya  faktor  genetik,  imunologi  dan  lingkungan.  Faktor  lain  yang  dapat  menyebabkan  diabetes  mellitus  terjadi  karena  usia,  obesitas,  kegagalan  italic  sel  beta  dan  resistensi  insulin  yang  kadang  tidak  disadari  oleh  penderita  diabetes  mellitus. Seringkali manusia tidak menyadari apabila dirinya  telah  terkena  penyakit  diabetes sehingga terjadi keterlambatan dalam  penanganan  yang  menyebabkan  terjadinya  komplikasi. Pada penderita diabetes mellitus biasanya  
terjadi komplikasi bersifat akut yaitu koma, hipoglikemia, ketoasidosis, koma hipersolar nonketotatik. Komplikasi diabetes mellitus bersifat kronik yaitu mikroangiopati yang mengenai pembuluh darah kecil dan makroangiopati mengenai pembuluh darah besar (Atun, 2010).
Menurut World Health Organitation (WHO) pada tahun 2016, dari 415 juta orang dewasa mengalami diabetes, kenaikan ini merupakan kenaikan yang cukup besar sekitar 4 kali lipat dari 108 juta orang pada tahun 1980. Prevalensi global diabetes antara orang dewasa di atas usia 18 tahun telah meningkat menjadi 8,5% pada tahun 2015. Dari 3,7 juta kematian yang terjadi akibat gula darah tinggi sekitar 1,5 juta kematian secara langsung disebabkan oleh diabetes. WHO memproyeksikan bahwa diabetes akan menjadi penyebab utama 7 kematian pada tahun 2030. 
Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah (2013) menunjukan prevalensi DM tipe II di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari 0,63% menjadi 0,55% pada tahun 2012 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013). DM menduduki urutan kedua pada pola penyakit tidak menular berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kota Surakarta 2014. Prevalensi DM tipe I sebanyak 2.480 kasus pada tahun 2013 kemudian meningkat menjadi 3.001 kasus pada tahun 2014, untuk penderita DM tipe II sebanyak 31.608 kasus pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 46.741 kasus pada tahun 2014
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi non-obat dan terapi obat. Penyakit DM memerlukan perawatan medis dan penyuluhan untuk self management yang berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis. Penanganan  untuk  mencegah  dan  menghambat  komplikasi  mikrovaskuler dan  makrovaskuler, penatalaksanaan  diabetes  ditujukan  untuk pengendalian faktor metabolik dan faktor risiko kardiovaskuler. Kontrol glukosa darah merupakan hal yang terpenting di dalam pengendalian dan pengelolaan DM (Arviana, 2015).
Penderita diabetes melitus dapat mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke. Kerusakan pada pembuluh darah mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus mengalami cuci darah (hemodialisa). Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah. Berkurangnya  aliran  darah  ke  kulit  dapat  menyebabkan ulkus  dan  semua  penyembuhan  luka  berjalan  lambat. Ulkus di kaki dapat sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya  lama  sehingga  tungkai  harus diamputasi (Maulana, 2008).
Hampir 70 % orang mengidap diabetes mengalami beragam tingkat kerusakana saraf. Kerusakan saran ini disebut neuropati. Neuropati sebagai akibat diabetes disebut diabetic neuropathy. Gula darah yang tinggi merusak saraf dan laipasan disekitar saraf, saraf yang rusak tidak dapat menyampaikan sinyal ke dan dari otak dengan baik, akibatnya penderita akan kehilangan sensasi atau meningkatnya sensasi atau rasa sakit pada bagian yang terkena. Kerusakan ini biasanya dimulai dari jemari kaki dan berlanjut ke betis sera paha. Hal ini biasa menyebabkan rasa kebas, rasa kesemutan, rasa terbakar, rasa nyeri yang tumpul, rasa nyeri yang tajam atau kram. Maka dari itu pada ulkus DM mengalami nyeri akibat kerusakan saraf tepi (Ramaimah, 2008) 
Seringkali  pada  komplikasi  ulkus DM disertai  rasa  nyeri  pada  luka jika luka  tidak  kunjung  sembuh, sehingga  dapat  mengganggu  aktifitas  serta rasa kenyamanan dari orang yang mengalami diabetes mellitus (Maulana, 2008). Nyeri menurut International Association for the Study of Pain (2016) adalah pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan sehubungan dengan kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial. Nyeri yang terjadi biasanya  karena  adanya  kerusakan  jaringan pada luka ulkus diabetes mellitus. Penanganan  nyeri pada langkah pertama yang harus dilakukan adalah penanganan non-farmakologi berupa tekhnik relaksasi nafas dalam. Apabila langkah pertama ini belum tercapai, dapat dengan langkah farmakologis berupa terapi analgetik, atau kombinasi keduanya (Sujono, 2008).
Keluhan  nyeri  terutama pada ekstremitas  merupakan keluhan umum pada penderita diabetes mellitus, terutama pada penderita menahun apalagi dengan kendali  glukosa  yang tidak baik.  Penyebab keluhan  ini  dikenal  sebagai  neuropati  perifer,  komplikasi  kronis  diabetes yang sulit  diatasi  dengan  pengobatan.  Kelainan  yang memberikan gejala nyeri  (neuropathic pain)  ini,  akibat  lesi  ataupun  disfungsi  primer  yang  seringkali  terjadi  pada sistem saraf  peerifer  namun juga dapat  bersifat sentral,  mislanya  pada kelainan pasca stroke.  Penanganan  nyeri pada neuropati perifer pada penderita  diabetes mellitus  pada saat  ini  belum  memberi hasil  memuaskan.  Hal  ini  disebabkan  karena secara  struktural  kelainan  jaringan  telah bersifat  ireversibel  terutama  pada  keadaan  diabetes  lanjut.  Permasalahan lain  yang  hampir  selalu  menyertai  nyeri neuropathic  pain  adalah  gangguan  tidur dan gangguan  kejiwaan berupa  anxiety  dan  depresi (smelzer, 2013).
Pengobatan  yang ideal diharapkan  tidak  hanya  dalam  hal  mengatasi  permasalahan  nyeri  yang  mengganggu, tapi  juga  menyangkut  penyakit  dasarnya  serta  sebagai  gejala  tambahan  tersebut.  Mekanisme  dari  sensasi  nyeri  yang dirasakan  adalah  akibat  abnormalis  berupa  hipereksitasi  neuron  presynaptic  sehingga menimbulkan  produksi  neurotransmitter  yang berlebihan.  Oleh karena itu  usaha penanganan  terhadap  neuropathic pain  haruslah  didasarkan  pada  pencegahan  produksi  neurotransmitter  yang  berlebihan  ini.  Pregabalin  merupakan  senyawa  yang bekerja khusus  mengatasi  neurophatic  pain  melalui  titik  tangkapnya  dalam memodulasi  keadaan  hipereksitasi  neuron,  dan  terbukti  jjuga memberi manfaat  tambahan  dalam  memperbaiki  gangguan  tidur  dan  anxiety  terkait nyeri ( Manaf, 2008 ).
Pasien diabetes di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara pada tahun 2017 sebanyak 2.795 kasus  hal tersebut  merupakan  salah  satu  indikator bahwa penanganan dan penanggulangan diabetes mellitus belum optimal. Hal ini  didasarkan  bahwa  setiap  pasien  yang  sudah  mengalami  perawatan rumah  sakit  merupakan  pasien  yang  memerlukan  penanganan  khusus dalam  mengatasi penyakit diabetes ataupun komplikasi yang ditimbulkan. Berdasarkan  hasil  Pra  survei  di  RSUD  Hj.  Anna  Lasmanah  Banjarnegara pada kurun waktu 1 tahum (1 Januari - 27 November 2017), terdapat  kasus diabetes mellitus di rawat jalan sebanyak 2.795 kasus, di  rawat  inap  sebanyak 345 kasus, serta di ruang Dahlia 113 kasus di bandingkan  dengan kejadian  tahun  2016  dalam  1  tahun  sebanyak  1.235  kasus,  ini  menunjukan  adanya  peningkatan  angka  kejadian  diabetes  mellitus.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2665]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="878" url="" path="/fb7949acf741162205f1cda6f8476d3f.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  nyeri akut  pada  Ny.A  dengan  Diabetes  Mellitus  Di  RSUD  Hj.  Anna  Lasmanah  Banjarnegara]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2193]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 13:47:35]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 13:48:15]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>