<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2195">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan keperawatan anak pada pasien pneumonia dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas di Puskesmas Purwokerto Selatan Tahun 2017]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Galung Toseh Adi</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penyakit  menular  seksusal  (PMS)  merupakan  berbagai  infeksi  yang  dapat  menular  dari  satu  orang  ke  orang  lain  melalui  kontak  seksual.  PMS  merupakan  satu  diantara  penyebab  penyakit  utama  di  dunia  dan  telah  memberikan  dampak  luas  pada  masalah  kesehatan,  sosial,  dan  ekonomi  di  banyak  negara.  Menurut  The  Centers  for  Disease  Control  and  Prevention  (CDC)  terdapat  sekitar  20  juta  kasus  baru  PMS dilaporkan  per-tahun.  Kelompok  remaja  dan  dewasa  muda  (15-24  tahun)  adalah  kelompok  umur  yang  memiliki  resiko  paling  tinggi  untuk  tertular  PMS,  dimana  3  juta  kasus  baru  tiap  tahun  adalah  dari  kelompok  ini  (CDC,  2010).
       Berdasarkan  data  WHO  (tahun  2010)  negara  dengan  prevalensi  PMS  tertinggi  di  dunia  yaitu  Papua  New  Guenia, dimana  kurang  lebih  2  juta.  PMS  didiagnosa  setiap  tahunnya, diantaranya  gonoroe  sebanyak  34%, sifilis  26%  dan  bakterial  vaginosis  57%  (Handayani, dkk, 2013).
      Angka  kejadian  Penyakit  Menular  Seksual  (PMS)  saat  ini  cenderung  meningkat  di  Indonesia.  Jumlah  kasus  penyakit  menular  seksual  di  Provinsi  Jawa  Tengah  dari  tahun  ke  tahun  semakin  meningkat.  Peningkatan  kasus  ini  dikarenakan  pencatatan  dan  pelaporan  yang  semakin  baik.  Meskipun  demikian  kemungkinan  kasus  yang  sebenarnya  di  populasi  masih  banyak  yang  belum  terdeteksi.  Di  Provinsi  Jawa  Tengah  pada  tahun  2009, kasus  PMS  diobati  sebesar  77,80%, mengalami  penurunan  bila  dibandingkan  dengan  cakupan  tahun  2008  sebesar  98,14%.  Ini  berarti  belum  seluruh  kasus  PMS  yang  ditemukan  diobati  atau  belum  mencapai  target  yaitu  100%  (Dinkes,  2009).  Berdasarkan  data  dari  Dinas  Kesehatan  Kota  Semarang  tahun  2009, ada  beberapa  PMS  yang  mengalami  penurunan  dibandingkan  tahun  2008  diantaranya  kandidiasis  dari  443  menjadi  308,  bakteri  vagina  dari  151  menjadi  144, HIV  dari  114  menjadi  9, gonorrhoe  dari  120  menjadi  71, condyloma  acuminate  dari  95  menjadi  68, herpes  genetalis  dari  68  menjadi  59, AIDS  dari  23  menjadi  17  dan  syphilis  dari  6  menjadi  2.  Meskipun  begitu  belum  semua  unit  pelayanan  baik  rumah  sakit  maupun  Puskesmas  melaporkan  data  PMS  ke  Dinas  Kesehatan  Kota  Semarang  (Mulati, dkk, 2016).
Insidensi  sipilis  mengalami  peningkatan  yang  pesat  yaitu  sebanyak  63%  sejak  tahun  2004  dan  memuncak  pada  tahun  2008  dengan  jumlah  13.500  kasus  termasuk  kejadian  sipilis  primer  dan  sekunder  (CDC, 2009).  Sifilis  adalah  penyakit  yang  disebabkan  oleh  infeksi  treponema  yang  bersifat  akut  dan  kronis  ditandai  dengan  lesi  primer  diikuti  dengan  erupsi  sekunder  pada  kulit  dan  selaput  lendir  kemudian  masuk  ke  dalam  periode  laten  diikuti  dengan  lesi  pada  kulit, lesi  pada  tulang, saluran  pencernaan, sistem  saraf  pusat  dan  sistem  kardiovaskuler.  Lesi  primer  (Chancre=ulkus  durum)  biasanya  muncul  3  minggu  setelah  terpajan  sebanyak  501.  Lesi  biasanya  keras  (indurasi), tidak  sakit, berbentuk  ulkus  dengan  mengeluarkan  eksudat  serosa  di  tempat  masuknya  mikroorganisme.  Masuknya  mikroorganisme  ke  dalam  darah  terjadi  sebelum  lesi  primer  muncul, biasanya  ditandai  dengan  terjadinya  pembesaran  kelenjar  limfe  (bubo)  regional, tidak  sakit, keras  nonfluktuan  (Hutapea, N.O, 2009).
      Penularan  sifilis  biasanya  melalui  kontak  seksual  dengan  pasangan  yang  terinfeksi, kontak  langsung  dengan  lesi/luka  yang  terinfeksi  atau  dari  ibu  yang  menderita  sifilis  ke  janinnya  melalui  plasenta  pada  stadium  akhir  kehamilan  (Efrida, 2014).  Sedangkan, Sifilis  dapat  disembuhkkan  pada  tahap  awal  infeksi, tetapi  apabila  dibiarkan  penyakit  ini  dapat  menjadi  infeksi  yang  sistemik  dan  kronik.  Infeksi  sifilis  dibagi  menjadi  sifilis  stadium  dini  dan  lanjut.  Sifilis  stadium  dini  terbagi  menjadi  sifilis  primer, sekunder, dan  laten  dini  (Efrida, 2014).  Sifilis  primer  ditandai  dengan  munculnya  lesi  di  daerah  vulva, labia, vagina  biasanya  tidak  disertai  rasa  nyeri.  Akan  tetapi  pada  sifilis  primer  tidak  diobati  akan  mengakibatkan  sifilis  sekunder  yang  ditandai  rasa  nyeri  kepala  dan  vagina.  Setelah  sifilis  sekunder  menghilang, pasien  memasuki  tahap  laten  yaitu  tidak  ada  manifestasi  klinis  penyakit  meskipun  hasil  serologi  positif  (Andrews, 2009).  Sifilis  stadium  lanjut  termasuk  sifilis  tersier  serta  sifilis  laten  lanjut  (Efrida, 2014).  Segera  memeriksakan  diri  serta  melakukan  konseling  ke  dokter  atau  petugas  kesehatan  apabila  mengalami  tanda  dan  gejala  penyakit  menular  seksual,   meliputi  rasa  sakit  atau  nyeri  pada  saat  kencing  atau  berhubungan  seksual, rasa  nyeri  pada  bagian  vagina, pengeluaran  lendir  pada  vagina/alat  kelamin,  kemerahan  pada  alat  kelamin  atau  sekitarnya  (Mulati, 2016).  
        Sedangkan  peran  perawat  untuk  pasien  sifilis  yaitu  lindungi  masyarakat  dari  infeksi  sifilis  dengan  cara  mencegah  dan  mengendalikan  PMS  pada  para  pekerja  seks  komersial  (PSK)  dan  pelanggan  mereka  melalui  penyuluhan  tentang  bahayanya  memiliki  banyak  pasangan  seksual  dan  hindari  hubungan  seksual  dengan  orang  yang  tidak  dikenal.  Penyuluhan  tentang  tindakan  profilaksi  untuk  mencegah  infeksi  sebelum, pada  waktu  dan  sesudah  pemajanan, terutama  di  ajarkan  tentang  cara  penggunaan  kondom  yang  tepat  dan  konsisten.  Sediakan  fasilitas  pelayanan  kesehatan  untuk  diagnosis  dini  dan  pengobatan  dini  PMS.  Jelaskan  tentang  manfaat  fasilitas  tersebut  melalui  penyuluhan  kesehatan  masyarakat  dan  jelaskan  gejala  PMS  dan  cara  penyebarannya, bentuk  fasilitas  pelayanan  kesehatan  ini  hendaknya  sesuai  dengan  budaya  setempat  dan  mudah  diakses  dan  dapat  diterima  oleh  masyarakat, tanpa  mempertimbangkan  status  sosial  ekonomi  seseorang.  Buatlah  program  penemuan  kasus  secara  intensif  termasuk  kegiatan  melakukan  anamnesis  penderita, motifikasi  pasangan  seksual  mereka.  Lakukan  pemeriksaan  serologis  ulang  untuk  sifilis  di  wilayah  di  mana  prevalensi  PMS  nya  tinggi.  Lakukan  pemeriksaan  serologis  lain  untuk  mengesampingkan  kemungkinan  infeksi  PMS  lainnya  atau  infeksi  HIV  (WHO, 2009).
             Berdasarkan  hasil  pra  survey  di  Puskesmas  Purwokerto  Selatan  selama  kurun  waktu  2  minggu  (2  November  2017  sampai  16  November  2017), terdapat  kasus  Sifilis  sebanyak  2  kasus  dari  162  orang  yang  memeriksakan  di  KIA  Puskesmas  Purwokerto  Selatan, dibandingkan  dengan  kejadian  tahun  2016  tidak  ada  kasus  Sifilis.  Ini  menunjukkan  adanya  peningkatan  angka  kejadian  Sifilis.  Sedangkan  untuk  penanganan  penyakit  Sifilis  di  Puskesmas  Purwokerto  Selatan  yaitu  dengan  suntik  penisilin.
       Berdasarkan  hal  tersebut  diatas  maka  dari  itu, penulis  tertarik  untuk  mengangkat  laporan  kasus  dengan  judul  “Asuhan  Keperawatan  Nyeri  Akut  Pada  Ny.S  dengan  PMS  (Penyakit  Menular  Seksual)  di  Puskesmas  Purwokerto  Selatan.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2667]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="880" url="" path="/06d77c9fb3e8e39bb2287e0e5a39e1bb.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  Nyeri  Akut  Pada  Ny.S  dengan  PMS  (Penyakit  Menular  Seksual)  di  Puskesmas  Purwokerto  Selatan]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2195]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 13:58:32]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 13:58:57]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>