<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2199">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Secara Komprehensif Yang Ditunjukan Kepada Klien Lanjut Usia Dengan Penyakit Arthtritis Gout Pada Lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Mila Apriliani</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Asam urat merupakan hasil dari sisa pengahancuran purin dimana sumber utama purin dalam tubuh berasal dari makanan dan dari hasil 2 metabolisme DNA tubuh. Purin berasal dari makanan merupakan hasil dari pemecahan nukleoprotein makanan yang dilakukan oleh dinding saluran cerna. Sehingga peningkatan kadar asam urat darah diakibatkan oleh seseorang mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi purin (Sukri, 2012).
Data penelitian asam urat di Sinjai (Sulawesi Selatan) didapatkan angka 10% pada pria dan 4% pada wanita. Di Bandungan (Jawa Tengah) diperoleh data kejadian asam urat sekitar 24,3% pada pria dan 11,7% pada wanita. Di Minahasa diperoleh data kejadian asam urat sekitar 34,30% pada pria dan 23,31% pada usia dewasa muda (Aaltje dan Widdy, 2011) Asam urat merupakan hasil dari sisa penghancuran purin (Gout) dapat menyebabkan menurunnya kualitas hidup bagi penderitanya. Berdasarkan 3 hasil penelitian di wilayah Kabupaten Cilacap Jawa Tengah sebagaian besar subyek tidak menderita penyakit gout (55,2%) dan semuanya memiliki kualitas hidup baik. Subyek juga jarang mengalami keluhan - keluhan fisik yang menghambat aktivitas ( Sari, 2013 ).
Gout merupakan contoh klasik inflamasi sendi sinovial yang dipacu oleh kristal. Penyakit ini umum dijumpai, yang mengenai sekitar 1 – 4% pria dewasa. Endapan kristal Monosodium Urat (MSU) dalam ruang sendi menimbulkan serangan rasa nyeri sendi yang hebat dan pembengkakan yang timbul berulang-ulang (terutama di jempol kaki, kaki bagian tengah, pergelangan kaki dan lutut). Episode-episode serangan ini dapat sembuh spontan sempurna dalam satu minggu tanpa pengobatan. Namun, jika tidak diobati dengan benar, penyakit akut yang dapat sembuh dengan sendirinya ini dapat berubah menjadi penyakit kronik yang bersifat destruktif yang menyebabkan rasa sakit berulang yang lebih sering dan lebih lama dan juga dapat menyebabkan deformitas sendi (McPhee & Ganong, 2011).
Menurut Kane (1993) dan Rockwood et al. (1998) dalam Mass et al. (2011), pengkajian terhadap lansia untuk penegakan diagnosis dan manajemen hambatan mobilitas fisik harus dilakukan dengan mengumpulkan data tentang kemampuan fisiologis dan psikologis individu, lingkungan fisik dan sosial individu, serta interaksi individu dengan lingkungan. Hal ini perlu dilakukan karena mobilitas fisik (juga kesehatan fungsi) dipengaruhi oleh gabungan faktor, dan gabungan spesifik berbeda bagi masing-masing lansia. Data dasar yang komprehensif dan perinci memudahkan perawat mengidentifikasi faktor spesifik yang berhubungan dengan hambatan mobilitas klien dan menganalisis luas, tingkat kendali dan durasi gangguan tersebut. Perawat dapat mengambil tindakan khusus untuk mengatasi hambatan mobilitas dengan penilaian ini. Hasil utama yang diharapkan pada asuhan keperawatan individu yang mengalami hambatan mobilitas fisik adalah peningkatan aktivitas dan mobilitas, namun kemampuan lansia untuk dapat berpindah kerap dipersulit oleh beberapa etiologi yang membuat mobilisasi menjadi sangat nyeri atau membutuhkan usaha lebih banyak. Lansia mungkin dapat merasa bahwa terapi mobilitas yang diberikan kepadanya tidak memiliki tujuan atau tidak dapat memperbaiki status kesehatannya. Beberapa bentuk latihan fisik aktif seperti senam lansia dan Latihan Rentang Gerak (Range of Motion) merupakan intervensi yang dapat memulihkan atau mempertahankan tonus dan kekuatan otot untuk aktivitas dan mobilitas maksimum. Tetapi perawat mungkin perlu mengintervensi etiologi lain dari hambatan mobilitas sebelum lansia dapat/akan terlibat dalam latihan aktif; perawat perlu mengadakan latihan fisik untuk lansia saat terdapat defisit yang dapat menghambat partisipasi lansia dalam latihan fisik aktif.
Diagnosa keperawatan yang umum terjadi pada klien lanjut usia dengan arthritis gout adalah Nyeri Kronis (00133) dan Hambatan Mobilitas Fisik (00085). Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan sebagai suatu kerusakan (International Association for the study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat, terjadi konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung lebih dari tiga bulan. Batasan karakteristik pada diagnosa keperawatan ini dapat berupa laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas dan perubahan pola tidur. Sedangkan faktor yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan ini dapat berupa agen cidera biologis dan kimiawi yang berasal dari proses fagositosis oleh leukosit terhadap kristal urat. Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik pada satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. Batasan karakteristik pada diagnosa keperawatan ini dapat berupa keterbatasan rentang gerak, ketidaknyamanan dan penurunan kemampuan melakukan keterampilan motorik halus/kasar. Sedangkan faktor yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan ini dapat berupa gangguan metabolisme purin dan kekakuan pada sendi (Herdman & Kamitsuru, 2015).
Proses keperawatan mencakup langkah pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan (termasuk identifikasi hasil yang diperkirakan), implementasi, dan evaluasi. Setiap langkah proses keperawatan penting untuk pemecahan masalah yang akurat dan dengan erat saling berhubungan satu sama lain (Potter & Perry, 2005). Menurut Pranaka (2014), pengkajian geriatrik adalah suatu prosedur diagnosis yang ditujukan untuk lansia, yang memang berbeda prosedurnya dengan prosedur diagnosis pada populasi lain karena konsep kesehatan dan sifat penyakit pada lansia yang berbeda. Pengkajian ini pada dasarnya bertujuan untuk mendiagnosis kelainan fisik/psikis yang bersifat fisiologik maupun patologik, mencari adanya gangguan organ/sistem, disabilitas dan handikap (ketidakmampuan sosial), untuk kemudian dilakukan terapi atas kelainan tersebut.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2670]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="884" url="" path="/f2e8ff73b9ee951276ddc14146474064.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[asuhan keperawatan secara komprehensif yang ditunjukan kepada klien lanjut usia dengan penyakit arthtritis gout pada lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2199]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 14:18:42]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 15:24:47]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>