<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2209">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Pada An. R Dengan Skabies di Puskesmas Kedungbanteng Kabupaten Banyumas]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Dian Nurul Azizah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penyakit skabies dikenal juga dengan nama the itch, gudik, atau gatal agogo. Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi (Handoko, 2008). Skabies adalah kondisi pada kulit yang tidakhanya dapat menyebabkan infeksi akan tetapi jugasangat mengganggu dan menyerang jutaan dari orang diseluruh dunia setiap tahun dan dapat menyerang siapapun baik kaya maupun miskin, mudaatau tua. Hal tersebutmenyebabkan penderitaan bagibanyak orang dikarenakan tidak dapat tidur dengantenang pada malam hari disebabkan rasa gatal pada seluruh tubuh.Rasa gatal tersebut muncul karena reaksi tungau yang sedang beraktivitas pada permukaan kulit (Siswono, 2008).
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes skabies dan produknya (Handoko, 2010). Salah satu penyebab munculnya penyakit menular adalah lingkungan yang tidak sehat. Skabies dapat diderita  semua  orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan tetapi lebih sering ditemukan pada anak-anak usia sekolah dan dewasa muda/ remaja (Murtiastutik, 2008).

Skabies sering bermanifestasi sebagai peningkatan iritabilitas (rewel) akibat gatal hebat pada bayi dan anak. Tidak seperti orang dewasa, wajah dan kulit kepala bayi sering terkena. Anak yang lebih tua dan orang dewasa juga mengeluh pruritis, meskipun ekskoriasi biasanya ditemukan di sisi lain tubuh. Biasanya beberapa anggota keluarga lain mengalami gatal dan ekskoriasi pada saat yang sama. Infeksi disebabkan oleh kutu berkaki delapan Sarcoptes scabiei. Kutu ini hidup di epidermis tempat ia melekatkan telur-telurnya (Bernstein & Shelov, 2017).
Faktor yang menyebabkan terjadinya skabies adalah keterkaitannya faktor sosio demografi dengan lingkungan. Penyakit skabies berasosiasi secara kuat dengan kemiskinan dan kepadatan penduduk. Faktor yang mengakibatkan tingginya prevalensi skabies antara lain kelembaban yang tinggi, rendah sanitasi, kepadatan,malnutrisi, personal hygiene yang buruk, pengetahuan, sikap dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat (Baur, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian dari Edison et al (2015), scabies and bacterial superinfection among American samoan children 2011-2012, catatan dari farmasi diidentifikasikasi 1733 anak usia 14 tahun dengan resep untuk krim methrin per- (5%) selama tahun 2011-2012 berjumlah 1.139, dari anak-anak ini memiliki diagnosis skabies dalam catatan medis mereka. Di antara penduduk Amerika Serikat dari 19.425 anak-anak berusia 14 tahun  diidentifikasikan 613 anak dengan skabies selama tahun 2011 dan 526 anak selama tahun 2012. Rata-rata pertahun adalah 570 kasus, atau 29,3 kasus/ 1000 anak. Kejadian skabies juga bervariasi oleh tempat tinggal, anak-anak yang tinggal di daerah masing-masing pada tutuila pulau selain Sa`ole secara bermakna lebih mungkin untuk memiliki skabies daripada mereka yang tinggal di perkotaan Sa`ole (kejadian rasio sekitar 1,8-3,2).
World Health Organization (WHO) menyatakan angka kejadian skabies pada tahun 2014 sebanyak 130 juta orang didunia.Tahun 2014 menurut InternasionalAlliance for the Control Of Scabies (IACS) kejadian skabies bervariasi mulai dari 0,3% menjadi 46%. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Sercoptes scabiei Var hominis.Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Beberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6% - 27% populasi umum, menyerangsemua ras dan kelompok umur serta cenderung tinggipada anak-anak serta remaja (Sungkar, 2011).
Saat ini badan dunia menganggap penyakit skabies sebagai pengganggu dan perusak kesehatan yang tidakdapat disepelekan  juga tidak dianggap lagi hanya sekedar penyakitnya orang miskin karena penyakit skabiesmasakini telah merebak menjadi penyakit kosmopolit yang menyerang semua tingkat sosial (Agoes, 2009).Kejadian skabies pada tahun 2015 juga berprevalensi tinggi di beberapa Negara diantaranya Nigeria diperoleh (10,5%), Kenya (8,3%), Mesir (4,4%), Mali (4%), dan Malawi (0,7%). Insiden tertinggi terdapat pada anak-anak dan remaja (Hegab, 2015).
Prevalensi penyakit skabiesdi Indonesia masih cukup tinggi karena termasuk negara tropis. Penyakit ini banyak ditemukan pada tempat dengan penghuni padat seperti asrama tentara, penjara dan Pondok Pesantren. Tempat yang berpenghuni padat ditambah lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya akan memudahkan transmisi dan penularan tungau skabies (Soemirat, 2011). Menurut Depkes RI berdasarkan data dari puskesmas seluruh Indonesia tahun 2008, angka kejadian skabies adalah 5,6-12,95%. Skabies di Indonesia menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit tersering, dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh kasus baru. Prevalensi tahun 2009 sebesar 5,60% - 12,96%. Pada tahun 2011 jumlah penderita skabies sebesar (2,9%) dari jumlah penduduk 238.452.952 jiwa. Tahun 2012 yang jumlah penderita skabies sebesar 3,6% dari jumlah penduduk dan data terakhir yang didapat tercatat prevalensi skabies di Indonesia tahun 2013 yaitu 3,9%-6%. Walaupun terjadi penurunan prevalensi namun dapat dikatakan bahwa Indonesia belum terbebas dari penyakit skabies dan masih menjadi salah satu masalah penyakit menular di Indonesia.
Menurut analisis data statistik Islam (2012), Pondok Pesantren yang memiliki jumlah siswa penderita skabies tertinggi yaitu terletak di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten, sekitar 78,6% dari total pesantren di Indonesia.
Berdasarkan pra-survey diPuskesmas Kedungbanteng Kabupaten Banyumas  didapatkan hasil data diagnosis penyakit skabies pada tahun 2017 dari bulan Januari sampai bulan September jumlah orang yang didiagnosa penyakit skabies berjumlah 408 orang, setiap bulannya jumlah penderita skabies didaerah tersebut 23-69 orang,meliputi balita, anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Terapi yang biasa diberikan pada pasien tersebut yaitu scabimite sebagai obat topikal, amoxicillin 500 mg untuk antibiotik, dexamethasone 0,5 mg sebagaiobat antiinflamasi dan CTM untuk mengobati rasa gatal.
Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan skabies yaitu: kerusakan integritas kulit, gangguan rasa nyaman, resiko infeksi, resiko gangguan konsep diri (harga diri rendah situasional), gangguan pola tidur. Masalah keperawatan utama yang harus ditangani pada pasien tersebut yaitu kerusakan integritas kulit dengan gejala adanya lesi yang khas berupa terowongan, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel biasanya terdapat pada sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan, aerola mammae (wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria),dan perut bagian bawah, biasanya penderita akan merasakan rasa gatal tersebut muncul karena reaksi tungau yang sedang beraktifitas pada permukaan kulitsehingga penderita tidak bisa menghindari untuk menggaruk, jika tidak segera ditangani maka akan menyebabkan komplikasi berupa dermatitis akibat garukan yang dilakukan terus menerus.Untuk itu, perlu suatu tindakan berupa penyuluhan untuk menambah wawasan masyarakat dan juga tindakan pencegahan dari masyarakat agar keadaan tidak menjadi memburuk. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin menggambarkan asuhan keperawatan kerusakan integritas kulit pada anak dengan skabies.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2781]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="894" url="" path="/a42636a995760855f6c178c744138f6c.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[asuhan keperawatan kerusakan integritas kulit padaAn. Rdengan skabies di Puskesmas Kedungbanteng Kabupaten Banyumas]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2209]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 15:14:38]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-02 15:17:07]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>