<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2219">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial Pada Tn. S Dengan Gangguan Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Dani Irawan</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kesetabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan perseorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008). 
			Data statistik yang dikemukakan oleh (WHO) (2012) menyebutkan bahwa sekitar 450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan kesehatan jiwa. Sepertiga diantaranya terjadi di negara berkembang. Data yang ditemukan oleh 2 peneliti di Harvard University dan University College London, mengatakan penyakit kejiwaan pada tahun 2016 meliputi 32% dari semua jenis kecacatan di seluruh dunia. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya (Berman, 2016).
 
	Menurut WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevalensi gangguan jiwa berat yaitu 1,7 permil di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah (2,3 permil) berada pada urutan ke lima setelah DI Yogyakarta (2,7 permil), Aceh (2,7 permil), Sulawesi Selatan (2,6 permil) dan Bali (2,3 permil) (Riskesdas, 2013).
	Salah satu bentuk gangguan jiwa yaitu yaitu isolasi sosial. Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Pasien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup lagi berpengalaman (Yosep, 2014).
	Menurut Stuart dan Sundeen dalam Damaiyanti (2014), belum ada suatu kesimpulan yang spesifik tentang penyebab gangguan yang mempengaruhi isolasi sosial. Faktor yang mungkin mempengaruhi antara lain faktor perkembangan, faktor biologis, faktor sosial budaya, faktor presipitasi. Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat  ditimbulkan oleh faktor internal maupun eksternal meliputi stresor sosial budaya dan stresor biokimia.
Menurut Mustika dalam Damaiyanti (2014) tanda dan gejala terjadinya isolasi sosial ada beberapa yaitu,  kurang spontan, apatis (kurang acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri, afek tumpul, tidak merawat dan memperlihatkan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun, menyendiri, pasien tampak memisahkan diri dari orang lain, tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar, pemasukan makanan dan minuman terganggu, retensi urine dan feses, aktivitas menurun, harga diri rendah posisi janin saat tidur, menolak hubungan dengan orang lain (pasien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
	Masalah keperawatan isolasi sosial menarik diri jika tidak dilakukan intervensi lebih lanjut maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori  halusinasi. Resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain, bahkan lingkungan, selain itu perilaku tertutup dengan orang lain.  Juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas yang akan berpengaruh terhadap menurunnya kemampuan perawatan diri (Fitria dalam Widyastuti, 2013).
	Gangguan isolasi sosial meliputi pengobatan dengan farmakologi, Electri Convulsive Therapy (ECT), terapi kelompok, dan terapi lingkungan. Electri Convulsive Therapy (ECT) atau yang lebih dikenal dengan elektroshock adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam usaha pengobatannya. Untuk penatalaksanaan selanjutnya yaitu terapi kelompok, terapi ini merupakan suatu psikotherapy yang dilakukan sekelompok pasien bersama – sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang diarahkan oleh petugas kesehatan jiwa. Selanjutnya terapi lingkungan, lingkungan berkaitan erat dengan stimulus psikologi seseorang yang akan berdampak pada kesembuhan, karena lingkungan akan memberikan dampak baik pada kondisi fisik maupun kondisi psikologis seseorang. Sedangkan terapi Farmakologi merupakan terapi pemberian terapi pengguaan obat (Dermawan dan Rusdi, 2013). 
Data yang penulis peroleh dari RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada tahun 2017 pada bulan Januari sampai Oktober tercatat 1133 pasien gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan, sedangkan untuk masalah halusinasi ada 4012 pasien, perilaku kekerasan 1188 pasien harga diri rendah 446 pasien, isolasi sosial 259 pasien dan untuk defisit perawatan diri ada 996 pasien.        Berdasarkan data di atas maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif pada salah satu pasien yang menderita penyakit tersebut, dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial Pada Tn. S Dengan Gangguan Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang”. 
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2692]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="905" url="" path="/1a8a3e7f8117cea1cdbaad9fe7931db3.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial Pada Tn. S Dengan Gangguan Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2219]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 11:15:21]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 11:15:54]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>