<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2223">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Ny. B Dengan Ganggguan Konsep Diri :]]></title>
<subTitle><![CDATA[Harga Diri Rendah Kronis Di Wisma Endang Pergiwa RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Nur Fitriyanti</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik maupun dengan mental (Yosep, 2014). Menurut World Health Organization (WHO, 2009 dalam Yosep, 2014) memperkirakan 450 juta orang diseluruh dunia mengalami gangguan mental, sekitar 10% adalah orang dewasa dan 29% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama hidupnya. Gangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan kemungkinan akan berkembang menjadi 25% ditahun 2030. Menurut National Institute of Mental Health (NIMH) berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2004, diperkirakan 26,2% penduduk yang berusia 18 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa (NIMH, 2011).  
       Prevelensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil (Riskesdas, 2013). Jumlah kunjungan gangguan jiwa di Jawa Tengah tahun 2015 sebanyak 317.504 orang. Angka kejadian ini merupakan penderita yang datang ke pelayanan kesehatan. Persentase kunjungan gangguan terbesar adalah di rumah sakit yaitu 60,59%. Presentase gangguan kesehatan jiwa itu akan terus bertambah seiring dengan meningkatya beban hidup masyarakat (Dinkes, 2015)..  
       Gangguan jiwa yang menjadi salah satu masalah utama di Negara-negara berkembang adalah Skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persiten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2009). Gejala skizofrenia dibagi menjadi 2 kategori yaitu positif meliputi adanya waham, halusinasi, disorientasi pikiran, bicara dan perilaku yang tidak teratur. Sedangkan gejala negative meliputi afek datar, tidak memiliki kemauan, menarik diri dari masyaakat atau mengisolasi diri (Videbeck, 2008). 
       Gejala negatif yang menyertai gangguan ini antara lain berupa harga diri rendah,. Menurut (Patricia D.Barry, 2003 dalam Yosep, 2014) Harga diri rendah adalah perasaan seseorang bahwa dirinya tidak diterima di lingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang dirinya.. Harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan negative terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri (Dermawan dan Rusdi, 2013)..
       Ketika seseorang mengalami harga diri rendah, maka akan berdampak mengisolasi diri dari kelompoknya, orang tersebut akan cenderung menyendiri dan menarik diri. Pasien dengan harga diri rendah beresiko muncul masalah gangguan jiwa lain apabila tidak segera diberikan terapi dengan benar, karena pasien dengan harga diri rendah cenderung mengurung diri dan menyendiri, kebiasaan itulah yang memicu masalah lain diantaranya isolasi sosial, halusinasi juga bisa terjadi karena kebiasaan tersebut memungkinkan suara atau bisikan muncul, masalah lain yang kemudian terjadi adalah resiko perilaku kekerasan rasa tidak terima tentang suatu hal karena merasa direndahkan seseorang maupun suara bisikan yang menghasut untuk melakukan tindakan merusak lingkungan dan mencederai orang lain (Prabowo, 2014). 
       Perawat memiliki peran yang cukup besar dalam membantu pasien yang dirawat di rumah sakit agar dapat mengontol perilaku sekaligus meningkatkan harga diri. Beberapa peran perawat dalam menangani pasien dengan masalah gangguan harga diri rendah kronis di rumah sakit, diantara lain melakukan penerapan standar asuhan keperawatan, yaitu menerapkan strategi pelaksanaan secara individu dan melaksanakan terapi aktivitas kelompok (TAK) pada pasien serta melatih keluarga untuk merawat pasien dengan harga diri rendah (Prabowo, 2014).
       Strategi pelaksanaan komunikasi adalah pelaksaan standar asuhan keperawatan terjadwal yang diterapkan pada pasien yang bertujuan untuk mengurangi masalah keperawatan jiwa yang ditangani Strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien harga diri rendah mencakup kegiatan yang dimulai dari mengidentifikasi hingga melatih kemampuan yang masih dimiliki pasien sehingga semua kemampuan dapat dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki akan meningkatkan harga diri pasien (Fitria, 2009).
       Setelah diberikan terapi aktivitas kelompok terjadi peningkatan harga diri rendah dari respons perilaku dan kognitif berdasarkan pre test, dan post test. Faktor lain yang mendukung adalah komunikasi, perubahan lingkungan, perilaku, dan psikofarmakologi (Wahyuni, 2008). Selain  pemberian terapi aktivitas kelompok, pemberian terapi generalisasi HDR dan terapi kognitif mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan harga diri remaja yang ditandai dengan adanya perbedaan harga diri sebelum dan sesudah diberikan terapi generalisasi HDR dan terapi kognitif pada kelompok perlakuan. Kesimpulan ini didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Effendi, dkk (2016).   
       Hasil data yang didapat jumlah pasien pada bulan Juli – September 2017 di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang  sebanyak 2549 pasien. 
       Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan Asuhan Keperawatan Pada Ny. B Dengan Ganggguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Kronis Di Wisma Endang Pergiwa RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2696]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="909" url="" path="/626937ccbc4078749cb00c3d0e72b4b8.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Ny. B Dengan Ganggguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Kronis Di Wisma Endang Pergiwa RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2223]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 11:36:14]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 11:36:45]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>