<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2233">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Persepsi&#47;Kognitif:]]></title>
<subTitle><![CDATA[Halusinasi Pendengaran Dengan Skizofrenia di wisma Puntadewa RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Hana Bagus Sidik</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Green, 2016). Masalah kesehatan jasmani dan rohani semakin meningkat, seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya teknologi. Pada masalah kesehatan rohani (gangguan jiwa) yang terganggu tidak hanya gejala-gejala patologik domain yang berasal dari unsur psikologis saja. Hal ini tidak berarti unsur yang lain tidak terganggu. Perlu ditekankan bahwa yang sakit dan menderita adalah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya, lingkungannya saja (Keliat dan Akemat, 2012).
	Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) dan World Health Organization (WHO) pada tahun 2010 memperkirakan tidak kurang dari 450 juta penderita gangguan jiwa ditemukan di dunia. Bahkan berdasarkan data World Bank dibeberapa negara menunjukkan 8,1% dari kesehatan global masyarakat ( Global Burden Disease ) menderita gangguan jiwa (Rabba,  2014 ).
	Dari laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2013 prevalensi gangguan jiwa berat adalah 1,7‰ (permil) di Indonesia. Urutan pertama provinsi Aceh (2,7‰) dan DI Yogyakarta (2,7‰).  
Selanjutnya Provinsi Sulawesi Selatan (2,6‰) dan Bali (2,3‰). Sedangkan untuk urutan terakhir ditempati oleh provinsi Jawa Tengah sebanyak (2,3‰) ( Kemenkes, 2013).
	Data yang diterima dari Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang dari tahun 2013-2015 diperoleh hasil penelitian tentang halusinasi dengan skizofrenia mengalami jumlah fluktuatif. Pada tahun 2013 jumlah pasien mencapai 4.010 orang (58% pasien skizofrenia) dan menurun di tahun 2014 menjadi 1.825 orang (17% pasien skizofrenia) atau mengalami penurunan sebanyak 2.825 orang sekitar  (70%), akan tetapi, pada tahun 2015 jumlah pasien skizofrenia meningkat menjadi 1.674 orang atau (24% pasien skizofrenia)  mengalami peningkatan sebanyak 489 orang (41% pasien skizofrenia) ( Prabowo,  2015 ).
Menurut Stuart (2013) menyatakan bahwa pasien dengan diagnosis medis skizofrenia sebanyak 20% mengalamai halusinasi pendengaran dan penglihatan secara bersamaan, 70% mengalami halusinasi pendengaran, 20% mengalami halusinasi penglihatan, dan 10% mengalami halusinasi lainnya. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jenis halusinasi yang paling banyak adalah halusinasi pendengaran. Data di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta tahun 2012 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang menderita halusinasi memiliki presentasi 78% dari jumlah pasien rawat inap seluruhnya di tahun tersebut. Data lain menunjukkan bahwa jumlah penderita halusinasi pada bulan Januari 2012 (128 orang), bulan Februari 2012 ( 90 orang), bulan Maret 2012 (132 orang), serta bulan April 2012 (140 orang), dengan 70% di antaranya memiliki diagnosis keperawatan halusinasi pendengaran (Kemenkes, 2012).
Tingginya angka kejadian halusinasi, menunjukkan semakin jelas bahwa dibutuhkan peran perawat untuk membantu pasien agar dapat mengontrol halusinasinya. Tanda dan gejala halusinasi yang mungkin muncul yaitu: menarik diri, tersenyum sendiri, duduk terpaku, bicara sendiri, memandang satu arah, menyerang, tiba-tiba marah, gelisah (Kusumawati,  2010). 
Halusinasi dapat mengakibatkan risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Risiko tersebut diakibatkan karena pasien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk melakukan sesuatu hal diluar kesadarannya (Iskandar,  2012).
Menurut Rogers (2009) halusinasi jika tidak ditangani secara baik, maka dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan diri pasien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan halusinasi dengar pasien sering berisikan perintah melukai dirinya sendiri maupun orang lain. Secara klinik dan evidence base, halusinasi dengar tersebut telah terbukti dapat menyebabkan distress pada individu.
	Hasil dari beberapa penelitian menunjukan pemberian asuhan keperawatan sesuai standar  dengan penerapan strategi pelaksanaan halusinasi di rumah sakit memberikan dampak perbaikan pada kondisi pasien, serta membantu menurunkan tanda dan gejala halusinasi.                                               Pasien gangguan jiwa yang menjalani rawat inap di rumah sakit banyak yang menunjukan perbaikan pada kondisinya dan di perbolehkan untuk pulang, akan tetapi banyak juga pasien yang kembali lagi ke rumah sakit, hal ini sebagian besar di sebabkan kurangnya pengarahan terhadap keluarga pasien terkait dengan penanganan dirumah menjelang pasien pulang.
Berdasarkan data dan fenomena diatas khususnya pada Provinsi Jawa Tengah masalah gangguan jiwa yang paling banyak di alami oleh masyarakat adalah halusinasi dan lebih didominasi halusinasi pendengaran. Pasien dengan halusinasi yang menjalani rawat inap di rumah sakit kemudian dilakukan penatalaksanaan halusinasi baik farmakologis maupun non-farmakologis banyak yang menunjukan perbaikan pada kondisinya dan dinyatakan sembuh, akan tetapi banyak juga pasien yang kembali lagi ke rumah sakit. Sehingga penulis tertarik membuat Karya Tulis Ilmiah tentang “ Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Persepsi/Kognitif: Halusinasi Pendengaran Dengan Skizofrenia di wisma Puntadewa RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang ? ”.
Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengelolaan pasien gangguan jiwa dengan halusinasi pendengaran. Diharapkan dari penelitian tersebut peneliti dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat tersebut.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2706]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="919" url="" path="/e34625ab3cde968ee6f018ac0e9a9bba.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Persepsi/Kognitif: Halusinasi Pendengaran Dengan Skizofrenia di wisma Puntadewa RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2233]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 13:49:55]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 13:50:20]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>