<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2245">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  Nyeri  Akut  Pada  An.  A  Dengan  Post  Operasi  Apendiktomi  Atas  Indikasi  Appendiksitis  Di  Ruang  Dahlia  RSUD  Dr.  R  Goeteng  Taroenadibrata  Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Anastasia Rahmawati</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Appendiksitis  merupakan  peradangan  dari  apendiks  performis,  dan  merupakan  penyebab  abdomen  akut  yang  paling  sering  terjadi.  Appendiksitis  akut  adalah  keadaan  yang  disebabkan  oleh  peradangan  yang  mendadak  pada  suatu  apendiks.  Appendiksitis  merupakan  penyakit  bedah  mayor  yang  paling  sering  terjadi,  walaupun  appendiksitis  dapat  terjadi  setiap  usia,  namun  paling  sering  pada  orang  dewasa  muda,  sebelum  era  antibiotik  (Dermawan  dan  Rahayuningsih,  2010).
      Tingkat  kejadian  appendiksitis  di  negara  maju  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  negara  berkembang.  Appendiksitis  dapat  terjadi  pada  laki-laki  maupun  perempuan  pada  segala  usia.  Appendiksitis  umumnya  terjadi  pada  laki-laki  karena  disebabkan  adanya  peningkatan  limfoid  pada  masa  tersebut  (Kowalak, 2012).
       Appendiksitis  akut  juga  merupakan  suatu  keadaan  yang  sering  membutuhkan  operasi  karena  merupakan  kegawatan  perut  pada  anak.  Satu  diantara  enam  orang  menjalani  apendiktomi  (Jones  &  Irving,  1996  dalam  Sodikin,  2011).  Jarang  ditemukan  di  bawah  usia  dua  tahun,  akan  tetapi  menyerang  semua  kelompok umur  pada  usia  lain,  terutama  pada  anak-anak  dan  dewasa,  insiden  tertinggi  pada  masa  anak-anak  (Kiegman  &  Arvin,  2000  dalam  Sodikin,  2011).
      Berdasarkan  data  dunia  dinegara-negara  berkembang  menurut  World  Health  Organization  (WHO,  2014),  pada  beberapa  negara  berkembang  memiliki  prevalensi  yang  tinggi  seperti  Singapura  berjumlah  15%  pada  anak-anak  16,5%  pada  orang  dewasa,  sedangkan  Thailand  7%  pada  anak-anak  dan  orang  dewasa  10%  (Amalia  &  Susanti,  2014  dalam  Novriyenti,  2016).
      Sementara  untuk  Indonesia  sendiri  pada  data  Biro  Pusat  Statistik  (BPS,  2014)  menyatakan  tingkat  kejadian  kasus  appendiksitis  berjumlah  7%  dari  jumlah  penduduk  Indonesia  atau  sekitar  179.000  jiwa.  Semua  kasus  appendiksitis  di  Indonesia  menempati  peringkat  tertinggi  diantara  kegawatan  pada  abdomen.  Hasil  penelitian  sebelumnya  bahwa  angka  kejadian  kasus  appendiksitis  Indonesia  hingga  saat  ini,  merupakan  kasus  tertinggi  (Amalia  &  Susanti,  2014  dalam  Novriyenti,  2016). 
      Berdasarkan  data  dari  RSUD  Dr.  R  Goeteng  Taroenadibrata  Purbalingga  menunjukkan  bahwa  jumlah  penderita  pada  tahun  2015  berjumlah  116  penderita  dan  terjadi  kenaikan  pada  tahun  2016  menjadi  118  penderita,  sedangkan  data  yang  dihimpun  selama  bulan  Januari  sampai  Oktober  tahun  2017  didapatkan  bahwa  jumlah  keseluruhan  penderita  appendiksitis  berjumlah  99  penderita  dan  23  diantaranya  adalah  anak-anak  dengan  rentang  usia  14  tahun  kebawah.  Dari  semua  penderita  94  diantaranya  menjalani  prosedur  operasi  apendiktomi.
      Tindakan  laparatomi  apendiktomi  merupakan  tindakan  konvensional  dengan  membuka  dinding  abdomen.  Tindakan  ini  juga  digunakan  untuk  melihat  apakah  ada  komplikasi  pada  jaringan  apendiks  maupun  di  sekitar  apendiks.  Tindakan  laparatomi  dilakukan  dengan  membuang  apendiks  yang  terinfeksi  melalui  suatu  insisi  di  regio  kanan  bawah  perut  dengan  lebar  insisi  sekitar  2  hingga  3  inci.  Setelah  menemukan  apendiks  yang  terinfeksi,  apendiks  dipotong  dan  dikeluarkan  dari  perut.   Pada  prosedur  laparatomi  apendiktomi  pasien  akan  mendapatkan  luka  sayatan,  sehingga  diperlukan  manajemen  perawatan  luka  post  operasi  yang  tepat  agar  luka  dapat  sembuh  dengan  baik  tanpa  terjadi  komplikasi.  Ada  beberapa  fase  yang  akan  terjadi  pada  tahapan  penyembuhan  luka  post  operasi,  salah  satunya  adalah  fase  inflamasi,   Pada  fase  ini  pasien  akan  mengalami  tanda-tanda  radang,  yaitu  kalor  (panas),  dolor  (nyeri),  rubor  (kemerahan),  Tumor  (bengkak),  dan  perubahan  fungsi  (Farizal,  2016).
      Pada  umumnya  post  operasi  apendiktomi  mengalami  nyeri  akibat  bedah  luka operasi.  Menurut  Maslow  bahwa  kebutuhan  rasa  nyaman  merupakan  kebutuhan  dasar  setelah  kebutuhan  fisiologis  yang  harus  terpenuhi.  Seorang  yang  mengalami  nyeri  akan  berdampak  pada  aktivitas  sehari-hari.  Seorang  tersebut  akan  terganggu  pemenuhan  kebutuhan  istirahat  tidur,  pemenuhan  individu,  juga  aspek  interaksi  sosialnya  yang  dapat  berupa  menghindari  percakapan,  menarik  diri  dan  menghindari  kontak.  Selain  itu  orang  yang  mengalami  nyeri  hebat  akan  berkelanjutan,  apabila  tidak  ditangani  pada  akhirnya  dapat  mengakibatkan  syok  neurogenic  pada  orang  tersebut. penatalaksanaan  nyeri  harus  menjadi  prioritas  utama  dalam  memenuhi  kebutuhan  akan rasa  nyaman  pada  pasien  post  operasi  apendiktomi  (Ganong, 2008).
      Intervensi  nyeri  dapat  dilakukan  dengan  strategi  penatalaksanaan  nyeri,  mencakup  baik  pendekatan  farmakologi  maupun  non-farmakologi.  Pendekatan  ini  diseleksi  berdasarkan  pada  kebutuhan  dan  tujuan  pasien.  Intervensi  akan  berhasil  bila  nyeri  belum  menjadi  hebat,  dan  keberhasilan  terbesar  sering  dicapai  jika  beberapa  intervensi  diterapkan  secara  stimulant.  Pendekatan  secara  farmakologi  yaitu  dengan  pemberian  obat-obatan  analgesik  dan  penenang.  Sedangkan  pendekatan  secara  non-farmakologi  manajemen  nyeri  dengan  melakukan  terapi  relaksasi,  merupakan  intervensi  eksternal  yang  mempengaruhi  respon  internal  pasien  terhadap  nyeri.  Manajemen  nyeri  dengan  intervensi  relaksasi  mencangkup  latihan  pernapasan  dalam,  relaksasi  progresif,  relaksasi  guided  imagery  (imajinasi  terbimbing),  dan  meditasi  (Smeltzer  &  Bare,  2014).
      Berdasarkan  latar  belakang  maka  penulis  tertarik  untuk  membuat  karya  tulis  ilmiah  dengan  judul  “Asuhan  Keperawatan  Nyeri  Akut  Pada  An.  A  Dengan  Post  Operasi  Apendiktomi  Atas  Indikasi  Appendiksitis  Di  Ruang  Dahlia  RSUD  Dr.  R  Goeteng  Taroenadibrata  Purbalingga”,  sehingga  dapat  melakukan  asuhan  keperawatan  nyeri  akut  pada  pasien  post  operasi  appendiksitis  dengan  baik.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2718]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="931" url="" path="/aec48aff55e089d9b57ab7275787a744.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan  Keperawatan  Nyeri  Akut  Pada  An.  A  Dengan  Post  Operasi  Apendiktomi  Atas  Indikasi  Appendiksitis  Di  Ruang  Dahlia  RSUD  Dr.  R  Goeteng  Taroenadibrata  Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2245]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 14:49:06]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 14:49:43]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>