<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2254">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan CHF (Congestive Heart Failure) di IGD Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goetheng Taroenadibrata Purbalingga.]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Setianingsih</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Gagal jantung merupakan salah satu penyebab mordibilitas dan mortalitas. Akhir-akhir ini insiden gagal jantung mengalami peningkatan. Saat ini Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat insiden dan pravelensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% per tahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, CHF merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit, meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal. World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 2020 hampir 25 juta kematian diseluruh dunia diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler (Ardiansyah,2012).
Congestive Heart Failure (CHF)merupakan penyakit kardiovaskuler penyebab utama dari banyak kematian di dunia, sekitar 13 juta jiwa meninggal dunia tiap tahunnya, dan angka tersebut meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan American Heart Association (AHA) menyatakan bahwa prevalensi gagal jantung Amerika Serikat pada tahun 2008 sebesar 2,5% yaitu 2,8% pada laki-laki, dan 2,2% pada perempuan, kemudian pada 2010 mengalami peningkatan menjadi 2,6% yaitu 3,1% pada laki-laki dan 2,1% pada perempuan dengan jumlah kematian akibat gagal jantung 282.800 orang (Alvin, 2011).
Penyebab gagal jantung dapat dibagi menjadi dua, meliputi penyakit pada miokard antara lain penyakit jantung koroner, kardiomiopati, miokarditis dan gangguan mekanis pada miokard antara lain hipertensi,stenosis aorta, koartasio aorta. Penyebab pemicukardiovaskular ini dapat digunakan untuk menilai kemungkinan morbiditas kardiovaskuar(Aaronson&Ward, 2010).
Akibat bendungan di berbagai organ dan low output, pada kasus gagal jantung akut gejala yang khas ialah gejala edema paru yang meliputidyspnea, orthopnea, tachypnea, batuk-batuk dengan sputum berbusa, hemoptisis ditambah gejala low output seperti takikardia, hipotensi dan oliguri, beserta gejala-gejala penyakit penyebab atau pencetuslainnya seperti keluhan angina pektoris pada infark miokard akut. Padakeadaan sangat berat akan terjadi syok kardiogenik(Aaronson&Ward, 2010).
Manifestasi klinis dari gagal jantung dikelompokan menjadi gagal jantung akut dan kronik yang meliputi anoreksia, asites, nokturia, intoleransi aktivitas, peningkatan BB, fatigue, takikardi, penurunan urine output dan Congestive Heart Failure ini dapat menjadi kronik apabila disertai penyakit lain seperti hipertensi, penyakit katup jantung, kardiomiopati, dan lain-lain (Ardiansyah, 2012).
Menurut data dari Departemen Kesehatan penderita gagal jantung atau CHF di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 14.449 jiwa penderita yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Pada tahun 2012 di Jawa Tengah terdapat 520 penderita CHF dan menjalani rawat inap selain itu, penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit adalah gagal jantung, walaupun pengobatan dengan rawat jalan telah diberikan secara optimal. Hal serupa juga dibenarkan oleh Rubeinstein (2007) bahwa sekitar 44% pasien Medicare yang dirawat dengan diagnosis CHF akan dirawat kembali pada 6 bulan kemudian(Depkes RI, 2012).
Pada umumnya CHF diderita lansia yang berusia lebih dari 50 tahun, CHF merupakan alasan yang paling umum bagi lansia untuk dirawat di rumah sakit (usia 65–75 tahun mencapai persentase sekitar 75% pasien yang dirawat dengan CHF). Resiko kematian yang diakibatkan oleh CHF adalah sekitar 5-10 % per tahun pada kasus gagal jantung ringan, dan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Menurut penelitian, sebagian besar lansia yang didiagnosis menderita CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun (Kowalak, 2011 ).
Kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler adalah 17,5 per 100.000 penduduk dengan kematian yang berkaitan dengan penyakit tersebut adalah 27,4 per 100.000 penduduk. SKRT 1992 mengukuhkan bahwa penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang masih menduduki persentase tertinggi yang menyebabkan kematian (33,2%) (Ruhyanudin, 2007). Indonesia belum ada data yang akurat mengenai angka kematian ini, tetapi Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta melaporkan sekitar 400-450 kasus infark miokard setiap tahunnya (Irnizarifka, 2011).
Berdasarkan laporan dari rumah sakit dan puskesmas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006, prevalensi kasus CHF sebesar 12,96 per 1000 penduduk. Dan hal ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2005, yaitu dimana prevalensi kasus CHF sebesar 9,89 per 1000 penduduk (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006).
Berdasarkan data yang diperoleh di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga tahun 2016 didapatkan penderita yang didiagnosis terkena CHF menjalani rawat inap adalah sebanyak 89,5 %, dan 10,4 %penderita yang meninggal dunia di rumah sakit. Berdasarkan data 27 pasien tersebut 17 pasien yang masuk ke dalam kategori lansia dan dari 27 pasien tersebut, 10 pasien mengalami perawatan ulang. 
Untuk penanganan yang diberikan pada pasien CHF berupa non farmakoterapi dan farmakoterapi. Penanganan non farmakoterapi yang diberikan adalah tirah baring, kurangi aktivitas berat, dan minum obat teratur. Penanganan farmakoterapi yang diberikan adalah oksigenasi 3 liter per menit, pemasangan intra vena (IV) line ringer laktat 10 tetes permenit, injeksi furosemid 1 ampul per 8 jam, tablet tyarit 200mg 2 kali per hari, tablet aspilet 80mg 1 kali per hari, tablet cardace 2,5mg 1 kali perhari. Pada pasien ini dilakukan pemantauan keadaan umum, EKG dan tanda vital setiap hari.
Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik untuk menggambarkan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan dalam sebuah karya tulis ilmiah dengan judul: “ Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan CHF (Congestive Heart Failure) di IGD Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goetheng Taroenadibrata Purbalingga.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2727]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="940" url="" path="/76a8ace2f143eb162286dd029354d5d0.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan CHF (Congestive Heart Failure) di IGD Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goetheng Taroenadibrata Purbalingga.]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2254]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 15:42:28]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-03 15:42:57]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>