<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2264">
<titleInfo>
<title><![CDATA[asuhan keperawatan pada ibu post operasi sectio caesarea dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI pada Ny. A dengan sectio caesarea di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Anwar Sultoni</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Fakultas Ilmu Kesehatan SHB]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[STIKES Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Post partum atau masa nifas dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini pengobatan dan komplikasi penyakit yang mungkin terjadi (Prawirohardjo, 2010). Sectio caesarea merupakan tindakan melahirkan bayi melalui insisi (membuat sayatan) didepan uterus. Sectio caesarea merupakan metode yang paling umum untuk melahirkan bayi, tetapi masih merupakan prosedur operasi besar, dilakukan pada ibu dalam keadaan sadar kecuali dalam keadaan darurat. Setelah dilakukan tindakan persalinan post sectio caesarea, ibu akan memasuki masa nifas atau masa setelah melahirkan (Hartono, 2014). 
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2015 standar rata-rata sectio caesarea di sebuah negara adalah sekitar 5-15 % per 1000 kelahiran di dunia. Rumah sakit pemerintah kira-kira 11% sementara rumah sakit swasta bisa lebih dari 30%. Menurut WHO peningkatan persalinan dengan sectio caesarea di seluruh negara selama tahun 2010- 2013 yaitu 110.000 per kelahiran di seluruh Asia. Di Indonesia angka kejadian sectio caesarea mengalami peningkatan pada tahun 2000 jumlah ibu bersalin dengan sectio caesarea 47,22%, tahun 2007 sebesar 45,19%, tahun 2009 sebesar 47,13%, tahun 2013 sebesar 46,87%, tahun 2014 sebesar 53,2%, tahun 2015 sebesar 51,59%, dan tahun 2016 sebesar 53,68%.
Jumlah angka tindakan operasi caesar di Indonesia sudah melewati batas maksimal standar WHO yaitu 5-15%. Tingkat persalinan sectio caesarea di Indonesia 15,3% data ini diperoleh dari 20.591 ibu yang melahirkan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yang  diwawancarai di 33 propinsi. Gambaran adanya faktor resiko ibu saat melahirkan atau di operasi caesarea adalah 13,4%, karena ketuban pecah dini 5,49%, pre eklamsia 5,14%, perdarahan 4,40%, karena jalan lahir tertutup 2,3% karena rahim sobek (Suryani, 2013).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis di RSUD dr. R.  Goeteng Troenadibrata Purbalingga didapatkan bahwa ibu yang menjalani operasi sectio caesarea pada tahun 2017 sebanyak 659 ibu. Bulan November 2017 terdapat sebanyak 58 ibu yang menjalani operasi sectio caesarea. Penyebab seorang dilakukan tindakan sectio caesarea karena pada proses persalinan terdapat masalah bayi tidak dapat lahir secara normal atau spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvik, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, preeklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Perawatan pasien dengan sectio caesarea (SC) merupakan masalah yang rawan karena banyaknya komplikasi (Wiknjosastro, 2010).
Komplikasi yang didapatkan baik pada ibu dan janin seperti aspirasi metabolisme pulmonari, infeksi pada luka, infeksi saluran kemih, cedera bladder atau bowel dan komplikasi  akibat  anastesi  diantaranya  adalah  perubahan  pola  nafas, brakikardi maupun kelemahan fisik (Cuningham, 2012). Selain itu, salah satu perubahan yang terjadi adalah proses menyusui atau laktasi yaitu rangkaian proses mulai dari ASI diproduksi, disekresi dan pengeluaran ASI sampai pada proses bayi menghisap dan menelan ASI dari payudara ibu (Marmi, 2012).
Menyusui merupakan suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. ASI mengandung zat yang membantu melindungi bayi terhadap penyakit. Akan tetapi, menyusui tidak selamanya berjalan dengan normal, ketidaktahuan dan kurangnya informasi menyusui membuat ibu kurang termotivasi untuk melakukan inisiasi menyusui, dalam proses inisiasi menyusui. Hambatan utama pemberian ASI yaitu kurang sampainya pengetahuan yang benar tentang proses menyusui pada ibu. Menyusui merupakan proses yang didapat secara alami, walau demikian dibutuhkan keterampilan untuk dapat menyusui secara efektif. Proses menyusui yang efektif didukung oleh posisi ibu dan bayi yang benar, perlekatan bayi yang tepat, keefektifan hisapan bayi pada payudara, dan transfer ASI (Bintang, 2011).
Hambatan tersebut dapat menimbulkan ketidakefektifan pemberian ASI atau dapat diartikan sebagai ketidakpuasan atau kesulitan ibu, bayi atau anak menjalani proses pemberian ASI. Seorang perawat yang merupakan pelaksana pelayanan keperawatan berkewajiban untuk memberikan informasi dan melatih teknik perawatan payudara, karena bila ibu kurang mengetahui tentang teknik perawatan paudara akan berdampak payudara tidak terawat sehingga akan menimbulkan masalah pada awal laktasi seperti putting susu lecet, payudara bengkak dan air susu tersumbat. Keadaan tersebut akan menimbulkan ketidakefektifan pemberian ASI (Herdman, 2012). Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada ibu post operasi sectio caesarea dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI pada Ny. A dengan sectio caesarea di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[SHB-2737]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="950" url="" path="/8ba1f563f3750a553c88eb8797e3900c.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[asuhan keperawatan pada ibu post operasi sectio caesarea dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI pada Ny. A dengan sectio caesarea di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2264]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-04 14:04:10]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-07-04 14:04:35]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>