<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2418">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Akut Pada NY.S Dengan Arthritis Gout Di Puskesmas Kedung Banteng Banyumas]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>NANDA MAHARANI PUTRI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Purwokerto]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[Universitas Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2019]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penyakit arthritis gout adalah peradangan sendi sebagai manifestasi dari endapan kristal monosodium urat didalam tubuh.  Arthritis gout merupakan hasil akhir metabolisme dari asupan purin yaitu komponen asam nukleat yang terdapat didalam inti sel tubuh.  Penyebab terjadinya penumpukan kristal di persendian mengakibatkan kandungan purin meningkat kadar urat dalam darah antara 0,5 hingga 0,75 g/ml dari purin yang dikonsumsi (Jaliana, Suhadi & Sety, 2018).
	Rothschild menyatakan arthritis gout merupakan penyakit yang dapat ditemukan diseluruh dunia.  Prevalensi yang bervariasi tiap negara disebabkan adanya perbedaan seperti lingkungan, diet sehari-hari, dan juga karena faktor genetik (Widyanto, 2014).  Penelitian National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) di Amerika Serikat pada tahun 2007-2008 menunjukkan prevalensi penyakit gout sebesar 3,9% dengan prevalensi hiperurisemia sebesar 21,4%.  Prevalensi Hiperurisemia di Asia Tenggara lebih besar daripada di Amerika Serikat.  Penelitian di Taiwan menunjukkan peningkatan prevalensi gout sebesar 4,74% dan kejadian hiperurisemia pada lansia sebesar 36% (Mulyasari & Dieny, 2015).  World Health Organization mendata penderita gangguan sendi di Indonesia mencapai 81% dari populasi. Survei badan kesehatan dunia tersebut menunjukan rincian bahwa di Indonesia 
penyakit arthritis gout 35% terjadi pada pria usia 34 tahun ke bawah (Penioktaviani, 2017).  Kasus kejadian arthritis gout di Jawa Tengah sebesar 35,7%.  Kasus arthritis gout di Puskesmas Kedung Banteng Banyumas sebesar 15,7% pada bulan November-Desember 2018.  Penderita arthritis gout lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki (Fadlilah & Sucipto, 2018).
	Etiologi arthritis gout meliputi usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, obesitas, konsumsi purin dan alkohol.  Wanita berisiko mengalami arthritis gout pada masa menopause karena saat usia 45 tahun terjadi penurunan hormon estrogen sebab estrogen memiliki efek urikosurik yaitu menghambat reabsorpsi asam urat di tubulus ginjal sehingga ekskresi asam urat meningkat (Widyanto, 2014).  
	Risiko terkena penyakit arthritis gout bertambah dengan pola asupan yang tidak seimbang.  Banyaknya makanan tinggi purin yang dikonsumsi akan memperbesar risiko terkena arthritis gout pada kaum wanita lanjut usia karena imunitas pada tubuh menurun.  Jenis makanan yang menyebabkan kadar asam urat dalam darah menjadi tidak normal, seperti makanan yang tinggi purin, makanan yang berprotein tinggi, dan konsumsi alkohol.  Asupan gizi yang baik diperlukan untuk membantu menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit gout atau asam urat (Lumunon, Bidjuni & Hamel, 2015).
	Arthritis gout ditandai oleh adanya peningkatan asam urat darah, terdapat kristal urat yang khas dalam cairan sendi, terjadi lebih dari satu kali serangan nyeri di persendian, adanya serangan di satu sendi terutama sendi di ibu jari kaki, sendi tampak kemerahan, adanya pembengkakan tidak simetris di satu sendi, dan tidak adanya bakteri saat terjadi serangan serta inflamasi.  Gejala penyakit arthritis gout biasanya timbul serangan asam urat secara tiba-tiba, gejala khas yang dirasakan yaitu nyeri di satu atau lebih sendi.  Nyeri akan semakin terasa pada malam hari, bahkan persendian menjadi bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan (Kusumayanti et al, 2014).  
	Arthritis gout merupakan penyakit yang sangat mengganggu.  Penderita arthritis gout banyak mengeluhkan dampak penyakit ini terhadap kehidupan mereka seperti merasa nyeri, sendi-sendi sakit saat digerakkan, bengkak sehingga membuat mereka tidak mampu bekerja dan beraktivitas.  Lansia dengan arthritis gout akan mengalami masalah fisik sehari-hari seperti gangguan aktivitas, gangguan pola tidur, dan gangguan rasa nyaman nyeri sehingga pemeliharaan kesehatan lansia dengan arthritis gout harus ditingkatkan agar tidak mengancam jiwa penderitanya dan menimbulkan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh penyakit arthritis gout (Kusumayanti et al, 2014). 
	Masalah keperawatan yang muncul pada arthritis gout adalah nyeri akut.  Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association for the of Pain), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.  Batasan karakteristik yang ditemukan pada diagnosa keperawatan tersebut, yaitu bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang tidak dapat mengungkapkannya, diaforesis, dilatasi pupil, ekspresi wajah nyeri misalnya mata kurang bercahaya, tampak kacau, meringis, fokus pada diri sendiri, perilaku distraksi, perubahan posisi untuk menghindari nyeri, perubahan pada parameter fisiologis misalnya tekanan darah, frekuensi jantung, frekuensi pernapasan dan sikap melindungi area nyeri.  Batasan karakteristik yang muncul dalam masalah keperawatan untuk menentukan faktor yang berhubungan dengan diagnosa terkait seperti agen cedera biologis, agen cedera fisik, dan agen cedera kimiawi (Herdman & Kamitsuru, 2015).  
	Tindakan yang dilakukan untuk mengukur nyeri akut yaitu dengan kontrol nyeri dan tingkat nyeri.   Salah satu rencana keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi nyeri akut adalah tingkat nyeri dengan indikator seperti nyeri yang dilaporkan, panjangnya episode nyeri, ekspresi wajah nyeri, tidak bisa beristirahat, fokus menyempit, dan dapat kehilangan nafsu makan (Moorhead et al, 2016).  
	Tahap ketiga yaitu menggambarkan intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh klien dengan manajemen nyeri seperti kaji pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri, observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif, lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus, berikan informasi yang akurat untuk meningkatkan pengetahuan dan respon keluarga terhadap pengalaman nyeri, kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim kesehatan lainnya untuk  memilih tindakan pereda nyeri nonfarmakologi, sesuai kebutuhan (Bulecheck, Butcher, Dochterman & Wagner, 2016).  
	Penting melibatkan keluarga dalam rencana perawatan yang efektif, maka perawat membina hubungan yang terapeutik dengan pasien dan memberikan penyuluhan tentang nyeri kepada klien, sehingga hasil akhir yang diharapkan untuk pasien nyeri akut yaitu pasien menyatakan merasa sehat dan nyaman, pasien mempertahankan kemampuan untuk melakukan perawatan diri, pasien mempertahankan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki, pasien menjelaskan faktor-faktor penyebab ia merasa nyeri dan pasien menggunakan terapi yang diberikan di rumah dengan aman (Potter dan Perry, 2012).	
 	Berdasarkan data arthritis gout, penulis tertarik untuk melakukan proses asuhan keperawatan gerontik yang difokuskan mengenai pemberian asuhan keperawatan gerontik pada Ny. S yang mengalami arthritis gout di Puskesmas Kedung Banteng Banyumas.

</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[UHB-0559]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="1105" url="" path="/f1df5a028fc0b790df0ef3b580f9ac75.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Akut Pada NY.S Dengan Arthritis Gout Di Puskesmas Kedung Banteng Banyumas]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2418]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 13:40:32]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 13:41:37]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>