<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2424">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah Pada NY.M Dengan Diabets Melitus Tipe 2 Di Puskesmas 1 Kedungbanteng]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>DINA AYU HANDAYANI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Purwokerto]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[Universitas Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2019]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang pravalensinya tinggi. Biaya perawatan yang dibutuhkan di Indonesia mencapai Rp. 500 milyar per tahun, maka perlu adanya upaya untuk pencegahan penyakit tersebut. Masyarakat perlu mengetahui faktor-faktor risiko untuk mencegah timbulnya kasus DM (Wicaksono, 2011). Angka kejadian DM menurut data Riskesdas (2013) terjadi peningkatan dari 1,1% di tahun 2007 meningkat menjadi 2,1 % di tahun 2013 dari keseluruhan penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Angka kejadian menurut Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah (2016) jumlah penderita di Jawa Tengah mencapai 154.972 jiwa, dengan jumlah penderita tipe 1 sebanyak 35.572 jiwa sedangkan jumlah penderita tipe 2 sebanyak 119.400 jiwa. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2015 didapatkan angka kejadian kasus tipe II Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) sebanyak 1.542 kasus, sedangkan tipe I Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) sebanyak 563 kasus.
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah, kadar gula darah  dua jam setelah makan sama dengan atau lebih 200mg/dl, dan kadar gula darah saat puasa lebih dari atau sama dengan 126mg/dl (Atun, 2010). Penderita diabetes, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, atau pangkreas dapat menghentikan produksi insulin. Keadaan ini menimbulkan hiperglikemia yang dapat mengakibatkan komplikasi metabolik akut (Brunner dan Suddarth, 2013).
Menurut Smeltzer dan Bare (2013) penyebab DM antara lain: faktor-faktor genetik atau keturunan, faktor imunologi, usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun), obesitas dan faktor lingkungan. Tanda dan gejala yang sering muncul adalah poliuria (sering kencing), polidipsia (banyak minum), dan polifagia (banyak makan). Penderita diabetes melitus yang mengalami kompikasi neuropati (63,5%), retinopati (42%), nefropati (7,3%), makrovaskuler (16%), mikrovaskuler (6%), luka kaki diabetik (15%). Banyaknya komplikasi yang ditimbulkan, maka tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh penderita DM untuk mencegah timbulnya komplikasi, yaitu dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara rutin, latihan jasmani, konsumsi obat anti diabetik dan perawatan kaki diabetik yang penting dilakukan oleh penderita diabetes melitus (Arisman, 2011).
Salah satu masalah keperawatan yang muncul seperti risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah yaitu rentan terhadap variasi kadar glikosa/gula darah dari rentang normal, yang dapat mengganggu kesehatan. Pengkajian pada pasien dengan masalah tersebut meliputi rata-rata aktivitas harian kurang dari yang dianjurkan menurut gender dan usia, tidak menerima diagnosis, stres berlebihan, penambahan berat badan berlebihan, penurunan berat badan berlebihan, pemantauan glukosa darah tidak adekuat, manajemen medikasi tidak efektif, manajemen diabetes tidak tepat, asupan diet kurang, kurang pengetahuan tentang manajemen penyakit, kurang pengetahuan tentang faktor yang dapat diubah, kurang kepatuhan pada rencana manajemen diabtes, keterlambatan perkembangan kognitif, periode pertumbuhan cepat, gangguan status mental, gangguan status kesehatan fisik (NANDA, 2018)
Kriteria yang dapat di tetapkan seperti keparahan hiperglikemia yaitu keparahan dan tanda gejala karena peningkatan kadar glukosa darah. Indikatornya seperti peningkatan urin output, peningkatan haus, lapar berlebihan, kelelahan, pandangan kabur, kehilangan berat badan yang tidak dijelaskan, kehilangan nafsu makan, mual, mulut kering, nafas bau buah dan peningkatan glukosa darah. Intervensi keperawatannya yaitu manajemen hiperglikemi adalah pencegahan dan  perawatan kadar glukosa di atas normal. Aktivitas yang ditawarkan monitor kadar glukosa darah sesuai indikasi, identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemi, intruksikan pasien dan keluarga mengenai pencegahan, pengenalan tanda-tanda hiperglikemi dan manajemen hiperglikemi, dorong pemantauan sendiri kadar glukosa darah, review riwayat kadar glukosa darah pasien.
Alasan pengambilan masalah karena menurut pravalensi data Riskesdas (2013) terjadi peningkatan dari 1,1% di tahun 2007 meningkat menjadi 2,1% di tahun 2013, menurut Profil kesehatan provinsi jawa tengah (2016) jumlah penderita mencapai 154.972 jiwa dengan jumlah tipe 1 sebanyak 35.573 jiwa dan tipe 2 sebanyak 119.400 jiwa, selanjutnya menurut data Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun (2015) angka kejadian kasus tipe 2 sebanyak 1.542 kasus sedangkan tipe 1 sebanyak 563 kasus. Serta dampak jika tidak diobati akan timbul berbagai komplikasi, untuk mencegah timbulnya komplikasi bisa dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara rutin dan latihan jasmani.  
 Orang lanjut usia terjadi peningkatan resistensi insulin, terjadinya resistensi insulin pada otot-otot skeletal disebabkan karena penurunan komposisi otot, faktor lain yang mempengaruhi turunnya toleransi terhadap glukosa adalah perubahan sekresi hormon-hormon derivate jaringan adiposa. Terjadi sekresi insulin yang tidak adekuat juga pada lansia, insulin normanya disekresi dalam dua fase, fase pertama sebagai fase inisial (0-10 menit), yang diikuti oleh fase kedua (10-20 menit) yang secara berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga darah. dalam kondisi euglikemia. 
Berdasarkan latar belakang maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan gerontik secara komprehensif pada salah satu lansia yang menderita penyakit tersebut, dalam karya tulis ilmiah dengan judul ‘’Asuhan Keperawatan Gerontik pada Ny. M dengan Diabetes Melitus di Puskesmas 1 Kedung Banteng’’. 
</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[UHB-0565]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="1111" url="" path="/86665e6dbcbbeb5d09a966597c38b9c0.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Gerontik Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah Pada NY.M Dengan Diabets Melitus Tipe 2 Di Puskesmas 1 Kedungbanteng]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2424]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 13:58:31]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 14:00:13]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>