<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2458">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas Pada NY.S Penyakit Paru Obstruksi Kronis Di Ruang Dahlia RSUD HJ.Anna Lasmanah Banjarnegara]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>TUTUT MEI AFRIYANI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Purwokerto]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[Universitas Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2019]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) adalah suatu kelainan dengan ciri-ciri adanya keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. PPOK mencakup emfisema, dengan ciri-ciri hilangnya elastisitas paru dan kerusakan parenkim paru dengan pelebaran ruang-ruang udara, dan bronkitis kronis, dengan ciri-ciri adanya sumbatan saluran kecil udara dan batuk produktif selama lebih dari dua tahun berturut-turut (Saputra, 2014). 
Penyebab utama PPOK adalah keterpajanan rokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif (WHO, 2016). Prevalensi PPOK di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, salah satunya disebabkan oleh banyaknya jumlah perokok di Indonesia. Kementerian Kesehatan melalui Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013, menemukan bahwa prevalensi PPOK dari hasil RISKESDAS 2013 adalah sebesar 3,7 persen (Kemenkes, 2013). 
Angka kejadian di Indonesia cukup tinggi dengan menggambil beberapa sempel di daerah DKI Jakarta 2.7%, Jawa Barat 4.0%, Jawa Tengah 3.4%, DI Yogyakarta 3.1%, Jawa Timur 3.6% dan Bali 3.6%. PPOK lebih cenderung tinggi laki-laki dibanding perempuan prevalensi lebih tinggi pedesaan di banding perkotaan (Kemenkes, 2013). Jumlah kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan semula 19.557 kasus pada tahun 2012 menjadi 17.014 kasus pada tahun 2013 dan tertinggi di kota Salatiga sebesar 1.744 kasus. Dalam kurun waktu lima tahun prevalensi PPOK semakin menurun (Dinkes, 2013).
Menurut dari data Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara di dapatkan kasus PPOK dari tahun 2018 – 2019 sebanyak 96 kasus dari total pasien 223 di Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.
Patofisiologi terjadinya PPOK adalah peradangan pada saluran pernapasan kecil. Pada PPOK yang stabil, ciri peradangan yang dominan adalah banyaknya sel neutrofilik yang ditarik oleh interkulin . Walaupun jumlah limfosit juga meningkat, namun yang meningkat hanya sel T CD8 helper tipe,  berbeda pada asma, yang dominan adalah eusinofil, sel mast, dan sel T CD4 helper tipe. Ketika terjadi eksaserbasi akut pada PPOK, jumlah eusinofil meningkat 30 kali lipat. Perbedaan jenis sel yang menginfiltrasikan inilah yang menyebabkan perbedaan respon terhadap pengobatan kortikosteroid. Penurunan FEV, per tahun pada PPOK adalah antara 50-70 mL/detik. Jika akhirnya FEV, menjadi di bawah 1 liter angka kesakitannya mencapai 100% (Lemone et al, 2016).
Jika dilakukan pemeriksaan patologik pada pasien yang mengalami obstruksi saluran napas. Diagnosis patologiknya ternyata sering berbeda satu sama lain diagnosis patologik tersebut dapat berupa emfisema sebesar 68%, bronchitis 68% sedangkan bronkiolitis sebesar 41%. Jadi dapat disimpulkan bahwa kelainan patologik yang berbeda menghasilkan gejala klinik yang serupa. Penatalaksanaan keperawatan dari PPOK adalah, mempertahankan patensi jalan nafas, membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas, meningkatkan masukan nutrisi, mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi dan memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan (Lemone et al, 2016).
Pola nafas tidak efektif adalah gangguan yang terjadi pada sistem pernafasan yang di akibatkan oleh adanya gangguan pada proses inspirasi atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Pada penyakit PPOK terjadinya peningkatan gangguan ventilasi udara akibat obstruksi di saluran nafas bagian  bawah (PPNI, 2016). 
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil karya tulis ilmiah “Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas Pada Ny. S Dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis di Ruang Dahlia RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara” 

</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[UHB-0599]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="1145" url="" path="/4e125ef2e815b7813d4efda5bd28dfeb.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas Pada NY.S Penyakit Paru Obstruksi Kronis Di Ruang Dahlia RSUD HJ.Anna Lasmanah Banjarnegara]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2458]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 15:36:31]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 15:37:38]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>