<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2459">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Pada AN.L Dengan Bronchoneumonia Di Ruang Cempaka RSUD DR.R.Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>NUR FINA FAIZAH</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Purwokerto]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[Universitas Harapan Bangsa]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2019]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2017 tingkat kematian balita global terjadi sebesar 74% per 1000 kelahiran hidup.  Salah satu penyebab utama kematian pada balita dan anak-anak di tahun 2017 adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah seperti Bronchopneumonia dan pneumonia, dimana pneumonia menyumbang 16% dari seluruh kematian balita dan anak pada tahun 2017. 
Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menyebutkan prevalensi angka kejadian pneumonia pada anak sebesar 3,55% dan mengalami penurunan angka kejadian pneumonia pada anak sebesar 2,0% di tahun 2018.  Bronchopneumonia  pada anak memiliki tingkat Crude Fatality Rate (CFR) di Indonesia yaitu 7,6% .
Penyakit Bronchopneumonia pada anak di Jawa Tengah masih merupakan masalah serius, seluruh kasus Bronchopneumonia pada tahun 2017 mencapai 50,5%,  menurun dibandingkan capaian tahun 2016 sebesar 54,3% yang terjadi di Jawa Tengah.  Berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2017 angka kematian anak dan balita yang disebabkan penyakit bronchopneumonia  mencapai 146 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2017).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Banyumas di tahun 2017 Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 8,43 per 1000 kelahiran hidup.  Pneumonia menyumbang 13% dari seluruh AKB di Kabupaten Banyumas.  Upaya Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam menurunkan AKB adalah pendampingan Puskesmas dan Rumah Sakit, pendampingan Dokter Spesialis Anak di Puskesmas serta kampanye buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di kabupaten Banyumas (Dinas Kesehatan Banyumas, 2017).
Upaya pemerintah dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat bronchopneumonia diantaranya melalui penemuan kasus bronchopneumonia balita dan anak  sedini mungkin di pelayanan kesehatan dasar, penatalaksaan kasus, dan rujukan.  Dampak pada anak yang menderita bronchopneumonia adalah menurunya kemampuan anak dalam bernafas karena terdapat dahak atau sputum yang menghalangi jalan nafas, selain itu dapat terjadi penurunan aktivitas dan latihan sebagai dampak kelemahan fisik pada anak (Depkes RI, 2017).
Beberapa masalah keperawatan yang sering ditemukan pada kasus bronchopneumonia antara lain ketidakefektifan bersihan jalan nafas, ketidakefektifan pola nafas, dan gangguan pertukaran gas.  Ketidakfeketifan bersihan jalan nafas merupakan konsep masalah keperawatan umum dari kasus ini yang menjadi ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk mempertahankan jalan nafas.  Batasan karakteristik dari masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas meliputi adanya batuk, suara nafas tambahan, perubahan frekuensi nafas, sianosis, kesulitan mengeluarkan dahak, dyspnea, sputum dalam jumlah yang berlebih, batuk yang tidak efektif, dan ortopnea (Herdman, 2011). 
Peran perawat dalam masalah bronchopneumonia pada anak adalah untuk memberikan penatalaksanaan pada anak dengan cara mengatur posisi anak agar lebih mudah bernafas, misalnya dengan memposisikan semi fowler, mengajarkan anak cara batuk efektif yaitu dengan menarik nafas panjang kemudian batukkan sambil mengeluarkan sputum atau dahak, bila anak terjadi kejang maka lakukanlah tindakan agar anak tidak terbentur pada tempat tidur atau terjatuh, bila terjadi kenaikan suhu badan pada anak maka lakukanlah tindakan kompres menggunakan air hangat di ketiak atau di daerah selangkangan pada anak (Sudarti, 2010).

</note>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository UHB Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[UHB-0600]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[Perpustakaan SHB]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="1146" url="" path="/0abda97204a73a8e8006a52b2921227c.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Pada AN.L Dengan Bronchoneumonia Di Ruang Cempaka RSUD DR.R.Goeteng Taroenadibrata Purbalingga]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[2459]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 15:39:02]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2019-12-19 15:40:06]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>