ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN POST OPERASI TRANSURETRAL RESECTION PROSTATECTOMY (TURP) DI RUANG KENANGA RSUD Prof.Dr MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Benigna Prostat Hyperplasia atau (BPH) merupakan pembesaran kelenjar prostat non-kanker. BPH dapat menyebabkan penekanan pada uretra ditempat uretra menembus prostat sehingga berkemih menjadi sulit, mengurangi kekuatan aliran urin, atau menyebabkan urin menetes (Corwin, 2009).Benigna Prostat Hyperplasia merupakan pembesaran atau hipertrofi, kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar, meluas ke atas menuju kandung kemih dan menghambat aliran keluar urin. Berkemih yang tidak tuntasdan retensi urin yang memicu stasis urin dapat menyebabkan hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi saluran kemih (urinarey tract disease, UTI) (Brunner &Suddarth, 2013).Hiperplasia noduler ditemukan pada sekitar 20 % laki-laki dengan usia 40 tahun, meningkat 70 % pada usia 60 tahun dan menjadi 90 % pada usia 70 tahun. Pembesaran ini bukan merupakan kanker prostat, karena konsep BPH dari karsinoma prostat berbeda. Secara anatomis sebenarnya kelenjar prostat merupakan kelenjar ejakulat yang membantu menyemprotkan sperma dari saluran (ductus). Pada waktu melakukan ejakulasi, secara fisiologis prostat membesar untuk mencegah urin dari vesika urinaria melewati uretra.
tujuan penulisan adalag agar dapat menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi Transuretral Resection Prostatectomy (TURP) secara sistematis, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan secara komprehensif.
Post Operasi Transuretral Resection Prostatectomy TURP
. (2015). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN POST OPERASI TRANSURETRAL RESECTION PROSTATECTOMY (TURP) DI RUANG KENANGA RSUD Prof.Dr MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id