Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Sebagian besar penyakit yang di derita oleh masyarakat saat ini dipengaruhi oleh kebiasaan hidup yang kurang sehat. Hal ini terjadi karena masyarakat belum memahami pentingnya kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga masyarakat cenderung menganggap remeh pencegahan dan pemeliharaan kesehatan mereka, dan pada akhirnya menyebabkan terjadi berbagai macam penyakit (WHO, 2007).
Berdasarkan data Menurut taksiran WHO, sebanyak 20,5 juta jiwa di dunia sudah menderita stroke tahun 2011 dan 5,5 juta jiwa telah meninggal dunia. Sebanyak 28,5% penderita meninggal dunia dan sisanya menderita kelumpuhan. Hanya 15% saja yang dapat sembuh total dari serangan stroke dan kecacatan (WHO, 2007).
Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2008) memperlihatkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Permasalahan yang muncul pada pelayanan stroke di Indonesia adalah kuranya sumber informasi mengenai faktor resiko stroke dan kurang di kenali gejala stroke, belum optimalnya pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk pencegahan stroke berulang (Riskesdas, 2007).
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi penyakit stroke di indonesia meningkat seiring bertambahnya umur. Kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga kesehatan adalah usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu sebesar 0,2%. Prevalensi stroke berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki (7,1%) dibandingkan dengan perempuan (6,8%). Berdasarkan tempat tinggal, prevalensi stroke di perkotaan lebih tinggi (8,2%) dibandingkan dengan daerah pedesaan (5,7%) (Dinkes, 2008).
Prevalensi stroke hemoragik di kabupaten banyumas tahun 2014 yaitu 174 orang, Sedangkan untuk stroke non hemoragiknya 251 orang. Untuk prevalensi stroke hemoragik yang menempati urutan tertinggi yaitu di kecamatan gumelar sebesar 110 orang sedangkan untuk stroke non hemoragik tertinggi di patikraja yaitu sebesar 66 orang (Dinkes, 2014).
Prevalensi stroke hemoragik di kecamatan baturaden Kabupaten Banyumas tahun 2014 adalah 6 orang, sedangkan untuk stroke non hemoragik berjumlah 2 orang. Berdasarkan hasil survey di Kabupaten Banyumas stroke merupakan posisi ke 8 di sebuah Puskesmas. Angka stroke di Puskesmas Baturaden II menduduki posisi ke 8 sekabupaten Banyumas. Sehingga perlunya dilakukan Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Masalah Kesehatan Utama Stroke Non Hemoragik di Dalam Puskesmas Baturaden II (Riskesdas, 2014).
. (2016). Asuhan Keperawatan Keluarga Pada TN. S Dengan Masalah Kesehatan Utama Stroke Di Desa Kemutug Kidul Kec. Baturaden Kab. Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id