Asuhan Keperawatan Pada Tn. T Dengan Chronic Kidney Disease (CKD) Di Ruang Perawatan Soepardjo Roestam Bawah RSUD PROF. DR. Margono Soekarjo Purwokerto
Data World Health Organization (WHO) tahun 2011 menyebutkan bahwa diperkirakan sekitar 36 juta orang meninggal dunia akibat penyakit Chronic Kidney Disease (CKD). CKD atau penyakit ginjal tahap akhir adalah ganguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progesif dan irreversible. Kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolism dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddart, 2011).
Angka kejadian gangguan ginjal cukup tinggi di negara maju (Santoso, 2008). Prevalensi pasien CKD di Amerika Serikat sekitar 10-13% atau sekitar 25 juta orang (Juanda, 2012). Berdasarkan laporan tahunan United States Renal Data System (USRDS) tahun 2013, lebih dari 615.000 orang Amerika sedang dirawat karena gagal ginjal. Lebih dari 430.000 adalah pasien dialisis dan lebih dari 185.000 melakukan transplantasi ginjal. Penyakit CKD dapat menimbulkan lebih dari 92.000 pasien meninggal akibat komplikasi gagal ginjal.
Orang yang menderita penyakit CKD di Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 2 juta kasus (Yogiantoro, 2012). Berdasarkan data dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) setiap tahunnya terdapat 200.000 kasus baru CKD dengan stadium akhir (Anna, 2013).
Kasus gagal ginjal di Jawa Tengah tahun 2009 dengan tindakan hemodialisa yang berjumlah sekitar 32010 tindakan. Sementara itu, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi penyakit CKD di Jawa Tengah sebanyak 0,3% atau sekitar 99.810 pasien. Penyakit gagal ginjal juga menempati urutan ke 10 dalam penyakit tidak menular (Depkes, 2013).
Data pra survey di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto menunjukkan penderita penyakit CKD yang menjalani rawat inap pada tahun 2014 terdapat 140 pasien atau sekitar 11, 6%, di tahun 2015 terjadi peningkatan sebanyak 253 atau sekitar 21, 08% pasien dan sampai bulan Januari tahun 2016 terdapat 34 pasien atau sekitar 2,83% yang tersebar dalam berbagai ruang penyakit dalam. Data di atas bisa disimpulkan bahwa penderita CKD di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto meningkat setiap tahunnya.
Chronic Kidney Disease (CKD) disebabkan oleh penyakit infeksi, penyakit peradangan, penyakit vaskular hipertensif, gangguan jaringan ikat, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik, nefropati toksik, nefropati obstruktif (Price dan Wilson, 2006). Penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi yang komplek diantaranya penumpukan cairan, edema paru, edema perifer, gangguan keseimbangan biokimia (hiperkalemia, hiponatremi, asidosis metabolik), gangguan keseimbangan kalsium fosfat lama kelamaan mengakibatkan demineralisasi tulang neuropati perifer, pruritis, pernafasan dangkal, anoreksia, mual, muntah, kelemahan dan keletihan (Suwitra, 2007).
Apabila ginjal sudah mengalami kegagalan fungsi ginjal atau Glomerolur Filtration Rate (GFR) menunjukkan nilai dibawah 15 mL/menit/1.73 m², maka perlu dilakukan dialysis (National Kidney Foundation/NKF dalam Sodikin 2010). Hemodialysis merupakan salah satu Terapi Pengganti Ginjal (TPG) buatan dengan tujuan untuk membuang sisa–sisa produk metabolisme (protein) dan mengurangi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit antara kompartemen darah dan dialisat melalui selaput membrane semipermiabel yang berperan sebagai ginjal buatan (Sukandar, 2006).
Asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal lebih penekanan pada support system untuk mempertahankan kondisi keseimbangan dalam tubuh. Anamnesa penyakit CKD meliputi pengeluaran urine output, riwayat penyakit dahulu (penyakit ISK, payah jantung), penggunaan obat, pemeriksaan fisik head to toe dan pemeriksaan abdomen (Prabowo & Pranata, 2014). Implementasi asuhan keperawatan pada pasien CKD, perawat harus dapat memprioritaskan untuk mempertahankan pola nafas yang efektif dengan cara memposisikan semi fowler, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, meningkatkan asupan nutrisi yang adekuat, meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi dan mencegah injury. Perawat harus mampu memberikan pendidikan kesehatan tentang perbatasan diet dan cairan. Penjelasan perlu diberikan secara perlahan dan diulang karena seringkali ingatan pasien terganggu, secara khusus penyuluhan kesehatan pada pasien meliputi diet rendah protein dengan protein hewani bisa diganti dengan protein nabati seperti kedelai, hindari sayur dan buah tinggi kalium jika pasien mengalami hiperkalemi. Hindari/ batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites (Haryono, 2013).
Mengingat begitu kompleksnya akibat yang ditimbulkan pada klien dengan CKD dan banyaknya komplikasi yang terjadi, hal tersebut yang melatar belakangi penulis mengambil proposal karya tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan pada pasien Chronic Kidney Disease di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebagai pemenuhan tugas akhir. Chronic Kidney Disease
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Tn. T Dengan Chronic Kidney Disease (CKD) Di Ruang Perawatan Soepardjo Roestam Bawah RSUD PROF. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id