Stroke merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini disebabkan oleh cukup tingginya insiden (jumlah kasus baru) stroke yang terjadi di masyarakat, yang melintasi batas sosio-ekonomi, gender, maupun usia (Wahyu. G, 2009).
Menurut WHO (World Health Organitation) tahun 2012, kematian akibat stroke sebesar 15% di seluruh dunia disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Selain itu, diperkirakan sebesar 16% kematian stroke diakibatkan tingginya glukosa darah dalam tubuh. Tingginya kadar gula darah dalam tubuh secara patologis berperan dalam peningkatan kosentrasi glikoprotein, yang merupakan pencetus beberapa penyakit vaskuler. Kadar glukosa darah yang tinggi pada saat stroke akan memperbesar kemungkinan meluasnya area infark karena terbentuknya asam laktat akibat metabolisme glukosa secara anaerobik yang merusak jaringan otak (Rico dkk, 2008).
Di Indonesia, diperkirakan dalam setiap tahunnya ada 500.000 penduduk yang terkena serangan stroke. Sekitar 2,5% meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Angka ini diperkirakan akan semakin meningkat dikemudian hari, oleh karena perubahan gaya hidup, lingkungan yang semakin tidak sehat, jenis makanan yang semakin beragam dan semakin berlemak, dan sebagainya (Sofyan. R, 2010).
Dari data lain menyebutkan, 1 dari 3 orang akan terserang stroke dan 1dari 7 orang akan meninggal karena stroke. Yayasan stroke indonesia (Yastroki) menyebutkan angka kejadian stroke menurut data dasar rumah sakit sekitar 63 per 100.000 penduduk usia diatas 65 tahun terserang stroke. Sedangkan jumlah penderita yang meninggal dunia lebih dari 125.000 jiwa per tahun (Junaidi, Iskandar. 2011).
Prevalensi stroke haemoragik di Jawa Tengah tahun 2012 adalah lebih tinggi dari tahun 2011 (0,03%). Pervalensi tertinggi tahun 2012 adalah kabupaten kudus sebesar 1,84%. Sedangkan prevalensi stroke non haemoragik pada tahun 2012 sebesar 0,7 lebih rendah dibanding tahu 2011 (0,09%). Prevalensi tertinggi adalah kota salatiga sebesar 1,16% (Dinkes Jateng, 2012).
Data penyakit tidak menular yang diperoleh dari puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten Banyumas tahun 2014 memperlihatkan jumlah penderita stroke, baik stroke haemoragik maupun stroke non haemoragik, yaitu sekitar 425 penderita dengan stroke haemoragik 174 kasus dan stroke non haemoragik sebanyak 251 kasus. Di daerah Kedung Banteng tercatat 5 penderita stroke yaitu stroke haemoragik 1 penderita dan stroke non haemoragik sebanyak 4 penderita. Dari data tersebut stroke non haemoragik di Kecamatan Kedung Banteng menduduki peringkat ke 10 terbanyak dari 27 kecamatan di Banyumas. (Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, 2014).
Proses keperawatan merupakan pendekatan untuk menyelesaikan masalah yang memudahkan perawat untuk mengatur dalam pemberian asuhan keperawatan yang terdiri dari lima komponen yaitu pengkajian, analisa data, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Oleh karena itu, berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Tn.W khususnya Tn.W yang mengalami stroke non haemoragik di Puskesmas Kedung Banteng, Banyumas. Keperawatan Keluarga Stroke Non Haemoragik
. (2016). Asuhan Keperawatan Keluarga TN W Khususnya Pada TN W Dengan Masalah Kesehatan Utama Stroke Non Haemoragik Di Puskesmas Kedung Banteng Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id