Kemajuan di bidang sosial ekonomi, pelayanan kesehatan, dan peningkatan pengetahuan masyarakat menyebabkan meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) seseorang. Menurut Eka Viora, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, rata – rata umur masyarakat Indonesia pada tahun 2014 diperkirakan akan mencapai usia 72 tahun. Peningkatan tersebut menyebabkan bertambahnya populasi penduduk berusia lanjut atau usia di atas 60 tahun (Depkes RI, 2013).
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah melebihi batas normal yang di tunjukan oleh angka systolik (bagian atas) dan diastolik (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi darah yang menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa air raksa (sphygmanometer) ataupun alat digital lainnya, batas tekanan darah yang masih dianggap normal bila tekanan darah kurang dari 130/85 mmHg, jika lebih dari 140/90 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi (Wahdah, 2011).
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia. Sebanyak 1 milyar orang di dunia atau 1 dari 4 orang dewasa menderita penyakit ini, hipertensi bisa menyerang siapa saja, baik tua maupun muda (Utaminingsih, 2009).
Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia, kondisi ini yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer, hal ini merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdes 2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat – obatan yang efektif banyak tersedia (Depkes, 2013).
Hipertensi esensial atau hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, sedangkan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit. Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi, sedangkan 10% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Prevalansi kasus hipertensi esensial di Kabupaten Banyumas mencapai 6.398 dan hipertensi jenis lain mencapai 1.523. Dengan angka kejadian 100 hipertensi esensial dan 5 hipertensi jenis lain di Baturaden dua (Dinkes Banyumas, 2014). Tingginya kasus hipertensi pada lansia perlu dilakukan tindakan keperawatan agar tidak terjadinya komplikasi.
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung coroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai (Depkes, 2013). Pengobatan dan perawatan pada hipertensi sangatlah penting karena dapat mencegah timbulnya komplikasi pada beberapa organ tubuh tersebut (Muttaqin, 2009).
Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga sebagai unit pelayanan keperawatan, sebagai unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, sebagai kelompok keluarga dapat menimbulkan, mencegah, atau memperbaiki masalah – masalah kesehatan. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit yang di derita salah satu anggota akan mempengaruhi, karena keluarga merupakan perantara yang efektif. Perawat dapat menjangkau masyarakat melalui keluarga, Tujuan perawatan kesehatan keluarga adalah memungkinkan keluarga untuk mengelola masalah kesehatan, mempertahankan fungsi keluarga, melindungi, dan memperkuat pelayanan masyarakat tentang perawatan kesehatan (Harmoko, 2012). hipertensi
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Tn. Na Dengan Masalah Kesehatan Hipertensi Pada Ny. N Di Desa Karangsalam Kec. Baturaden Kab. Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id