Apendiks merupakan perluasan sekum yang rata – rata panjangnya adalah 10 cm. Secara fisiologi apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir tersebut normalnya dicurahan ke lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum (Katz, 2009). Apendiks berisi makanan dan mengkosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, apendiks cenderung tersumbat dan rentan terhadap infeksi (Muttaqin & Sari, 2013).
Infeksi yang menyerang apendiks dinamakan appendicitis, yaitu merupakan inflamasi di apendiks yang dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah adanya obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya. Appendicitis yang sering dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah usus buntu adalah peradangan dari apendiks ferimormis, dan merupakan masalah yang paling sering terjadi pada abdomen. (Sujono, 2010).
Menurut Juliansyah (2008, dalam Yusuf dkk, 2013) WHO memperkirakan insiden appendicitis di dunia pada tahun 2007 mencapai 7% dari keseluruhan jumlah penduduk di dunia. Di Indonesia sendiri insiden appendicitis menempati urutan tertinggi diantara kasus kegawatan abdomen lainnya. Survey di 12 provinsi di Indonesia tahun 2008 menunjukan jumlah appendicitis yang dirawat di rumah sakit sebanyak 3.251 kasus. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 1.236 orang.
Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebutkan pada tahun 2009 jumlah kasus appendicitis di Jawa Tengah sebanyak 5.980 penderita dan 177 penderita diantaranya menyebabkan kematian. Departemen Kesehatan menganggap appendicitis merupakan salah satu penyebab dari penyakit akut di abdomen dan beberapa indikasi untuk dilakukan tindakan kegawat daruratan abdomen (Dinkes Jateng, 2009).
Peradangan pada apendiks memerlukan tindakan segera untuk mencegah terjadinya komplikasi berbahaya seperti perforasi, pembentukan abses serta peritonitis. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. Bila diagnosis klinis sudah jelas, maka tindakan paling tepat adalah appendectomy. Appendectomy merupakan tindakan pembedahan segera untuk mengangkat apendiks untuk mengurangi resiko perforasi, tindakan tersebut merupakan satu–satunya pilihan yang baik yang harus segera dilakukan untuk kasus kegawat daruratan abdomen. Appendectomy dapat dilakukan di bawah anatesi umum atau anastesi spinal dengan insisi abdomen bawah (Syamsuhidajat, dkk, 2010).
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada kasus appendectomy salah satunya adalah melakukan pengkajian prabedah, validasi: perawat melakukan konfirmasi kebenaran identitas pasien sebagai data dasar untuk mencocokan prosedur jenis pembedahan, kelengkapan administrasi: status rekam medik, data-data penunjang seperti hasil laboratorium, pemeriksaan radiologi, CT-scan, serta kelengkapan informed consent kelengkapan alat dan sarana: sarana pembedahan seperti benang, cairan intravena, dan obat antibiotik profilaksis sesuai dengan institusi, pemeriksaan fisik: tanda–tanda vital, dan neurovascular (parastesia, kesemutan, paralisis), serta pencukuran rambut pada bagian abdomen bawah dan pubis, serta memberikan informasi tentang proses pembedahan yang akan dilakukan baik kepada pasien atau kepada keluarga pasien (Mutaqin & Sari, 2009).
Hasil pra survey yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 4 Februari 2016 di unit rekam medik RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga tercatat bahwa kasus operasi appendectomy pada tahun 2015 sebanyak 89 kasus, dari 89 kasus tersebut terdiri dari jumlah pasien laki – laki sebanyak 43 dan perempuan sebanyak 46 pasien. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan pengelolaan Asuhan Keperawatan yang dituangkan dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Nn. T dengan Post Operasi Appendectomy Hari Ke-0 Di Ruang Dahlia RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”. Post Appendectomy
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Nn. T Dengan Post Appendectomy Hari Ke - 0 Di Ruang Dahlia RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id