World Heatlh Organization (WHO), Menjelaskan kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta serta mampu mengatasi tantangan hidup dapat menerima orang lain sebagai mana adanya, serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi yang dinamis dari rentang sehat jiwa masalah psikososial sampai dengan gangguan jiwa (Keliat, 2007).
Kesehatan jiwa menurut undang-undang No 3 tahun 1966, adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis dan memperhatikan segi kehidupan manusia dan cara berhubungan dengan orang lain (Riadi & Purwanto, 2013).
Menurut National Institute Of Mental Health (NIMH, 2011) gangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi 25%di tahun 2030. Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkatnya prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun di berbagai negara. Berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2004, diperkirakan 26,2% penduduk yang berusia 18-30 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa
Pada studi terbaru WHO di 14 negara menunjukan bahwa pada negara-negara berkembang, sekitar 76-85 % kasus gangguan jiwa tergolong parah dan tidak dapat pengobatan apapun. WHO (2009) memperkirakan 450 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan mental, sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama hidupnya. Usia ini biasanya terjadi pada dewasa muda antara usia 18-21 tahun (WHO, 2009).
Berdasarkan data Departemen Kesehatan (2007), menunjukan bahwa prevalensi gangguan jiwa secara nasional 4,5% dari jumlah penduduk, dengan kata lain menunjukan bahwa pada setiap 100 orang penduduk terdapat lima sampai enam orang menderita gangguan jiwa. Berdasarkan dari data tersebut bahwa data pertahun di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa selalu meningkat. Menurut arif (2006),
Prevalensi penderita skizofrenia di indonesia adalah 0,3 sampai 1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18 sampai 45 tahun, namun ada juga yang berusia 11 sampai 12 tahun sudah menderita skizofrenia. Sedangkan 4% dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Prevalensi gangguan jiwa di Jawa Tengah menurut Depkes (2007) sebesar 6,8%.
Berdasarkan Riskesdas (2013) menunjukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukan dengan gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. Jumlah seluruh responden dengan gangguan jiwa berat berdasarkan data Riskesdas 2013 ada sebanyak 1.728 orang. Prevalensi psikosis tertinggi di DI Yogyakarta dan Aceh (masing-masing 2,7%), sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat (0,7%) sedangkan Provinsi Jawa Tengah 2,3 per mil. Prevalensi gangguan jiwa berat Nasional sebesar 1,7per mil.
Gangguan jiwa merupakan masalah klinis dan sosial yang harus di atasi karena sangat meresahkan masyarakat baik dalam bentuk dampak penyimpangan perilaku maupun semakin tingginya jumlah penderita gangguan jiwa. Oleh karenaitu, perawat sangat berperan dalam proses pemulihan penderita gangguan jiwa melalui promosi kesehatan tentang pendidikan kesehatan jiwa dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat cara meningkatkan kesehatan jiwa, seperti dengan mengajarkan sikap asertif, kuratif tentang pengobatan pada klien gangguan jiwa yang dilakukan perawat berkolaborasi dengan dokter dan rehabilitatif meliputi dukungan kluarga serta lingkungan pada klien dengan gangguan jiwa agar kembali bisa berinteraksi dengan orang lain (Yosep, 2014).
RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang merupakan salah satu rumah sakit jiwa di Jawa Tengah yang menangani berbagai penyakit yang diakibatkan oleh gangguan mental dan kejiwaan. Hasil pra survey yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2015 di RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang didapatkan data dari 8 wisma ada sekitar 128 orang dengan gangguan jiwa. Dari 128 orang dengan gangguan jiwa terdapat 10 orang mengalami defisit perawatan diri, 38 orang mengalami resiko perilaku kekerasan, 15 orang mengalami isolai sosial, 45 orang mengalami halusinasi dan 20 orang mengalami harga diri rendah. Dari data tersebut masalah paling banyak adalah gangguan persepsi sensori : halusinasi dengan presentasi sebesar 35%. Walaupun begitu bukan berarti yang perlu ditangani hanya masalah gangguan persepsi sensori : halusinasi, semua masalah juga perlu ditangani, seperti resiko perilaku menarik diri : isolasi sosial, dari data tersebut hanya 15 orang, penyebab dari isolasi sendiri menurut Fitriana 2009, yaitu seseorang menilai dirinya rendah sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori : halusinasi dan resiko mencederai diri sendiri. klien dengan isolasi sosial sulit diintervensi karena hilang ketertarikan untuk bersosialisasi.
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan lingkungan (Dalami, dkk.2009). atau suatu keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku isolasi sosial (Keliat, 2006).. Isolasi Sosial
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada TN. M Dengan Perilaku Menarik Diri: Isolasi Sosial Di Wisma Basukarna Rumah Sakit Jiwa PROF. DR. Soeroyo Magelang. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id