Tekanan darah tinggi dianggap sebagai faktor resiko utama bagi berkembangnya penyakit jantung dan berbagai penyakit vaskuler pada orang-orang yang telah lanjut usia, hal ini disebabkan ketegangan yang lebih tinggi dalam arteri sehingga menyebabkan hipertensi. Lansia sering terkena hipertensi disebabkan oleh kekakuan pada arteri sehingga tekanan darah cenderung meningkat.
Badan kesehatan dunia atau WHO (world health organization) juga memberikan batasan bahwa seseorang, dengan beragam usia dan jenis kelamin, apabila tekanan darahnya berada pada satuan 140/90 mmHg atau diatas 160/90 mmHg, maka ia sudah dapat dikategorikan sebagai penderita hipertensi (Rusdi dan Nurlaena Isnawati,2009).
Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9.77% dari total jumlah penduduk. Menurut JNC (Joint National Committee) VII tahun 2003, hipertensi ditemukan sebanyak 60-70% pada populasi berusia di atas 65 tahun. Lansia yang berumur di atas 80 tahun sering mengalami hipertensi persisten, dengan tekanan sistolik menetap di atas >160 mmHg. Jenis hipertensi yang khas sering ditemukan pada lansia adalah isolated systolic hypertension (ISH), di mana tekanan sistoliknya saja yang tinggi (di atas 140 mmHg), namun tekanan diastolik tetap normal (di bawah 90 mmHg). Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara maju maupun Negara berkembang. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke(15,4 %) dan tuberkulosis (7,5 %), yakni mencapai 6,8 % dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Angka kejadian hipertensi di seluruh dunia mungkin mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (WHO dalam Depkes RI, 2008).
Menurut Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2012, kasus tertinggi penyakit tidak menular di Jawa Tengah tahun 2012 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit hipertensi esensial, yaitu sebanyak 554.771 kasus (67,57%) lebih rendah dibanding tahun 2011 (634.860 kasus/72,13%).
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2006 penderita hipertensi tercatat 976 orang ( 15,7% ) dari jumlah lansia 6152 jiwa, pada tahun 2007 tercatat 738 orang menderita hipertensi ( 16,5% ) dari jumlah lansia 4467 jiwa. Sedangkan tahun 2008, jumlah penderita Hipertensi mencapai 2.084 jiwa ( 26,7% ) dari jumlah lansia 7657 jiwa. Dan pada tahun 2009 periode Februari 2009 jumlah penderita Hipertensi sebanyak 1736 penderita.
Gambar 1.1 Penderita hipertensi menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.
Diagram hipertensi (sumber: Dinkes ,2013)
Berdasarkan laporan dari profil kesehatan Kota Semarang tahun 2011 prevalensi hipertensi di Jawa Tengah khususnya Kota Semarang cukup tinggi. Pada tahun 2010 presentase penyakit hipertensi adalah 46,8 %, sedangkan pada tahun 2011 prevalensi penyakit hipertensi di Kota Semarang sedikit mengalami penurunan, presentasenya yaitu 42,4% (Dinkes, 2013).
Diperkirakan sekitar 80% kenaikkan kasus hipertensi terutama terjadi di Negara berkembang pada tahun 2025 dari jumlah total 639 juta kasus di tahun 2000. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 1.15 miliar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi dan pertambahan penduduk saat ini (Ardiansyah, 2012). hipertensi
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Tn. A Dengan Hipertensi Di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id