Asma merupakan penyakit paru dengan karakteristik seperti obstruksi saluran napas yang reversibel (tetapi tidak lengkap pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun dengan pengobatan, inflamasi saluran napas, peningkatan respon saluran napas terhadap berbagai rangsangan (hipereaktivitas). (Lippincott dan Wilkins, 2011)
Menurut data WHO pada tahun 2011, kematian akibat asma di Indonesia mencapai 14.624 jiwa. Angka ini berarti asma menyebabkan sekitar 1% total kematian di Indonesia. Sekitar 1.1% populasi Indonesia menderita asma. Jadi, walau bisa tergolong penyakit yang jarang, asma tetap perlu diwaspadai agar serangannya terkontrol dan tidak dibiarkan mencapai tahap yang membahayakan nyawa. (WHO, 2011)
Menurut data yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Asthma (GINA.2011), diperkirakan sebanyak 300 juta manusia menderita asma. Asma adalah penyakit heterogen, biasanya ditandai dengan napas kronis peradangan. Hal ini ditentukan oleh riwayat gejala pernapasan seperti mengi, sesak napas, sesak dada dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu dan intensitas, bersama-sama dengan variabel keterbatasan aliran udara ekspirasi. ( GINA, 2014 )
Menurut data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas (2014) di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten Banyumas
Purwokerto Jawa Tengah diperkirakan sebanyak 14.210 kasus penyakit tidak menular diantaranya sebanyak 2.286 orang menderita penyakit asma. Untuk data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan diperkirakan sebanyak 79 orang menderita penyakit asma di Kecamatan Baturaden dan sebanyak 40 orang menderita penyakit asma di Puskesmas Baturaden II. Penyakit asma merupakan penyakit tidak menular tertinggi ke dua setelah penyakit hipertensi di Kabupaten Banyumas dan asma merupakan penyakit tidak menular tertinggi di Kecamatan Baturaden.
Berdasarkan hasil penelitian oleh Ratih et al., (2010) Corelationfactors Of Asthma Diseases In Indonesia bahwa Departemen kesehatan RI (2010), memperkirakan penyakit Asma termasuk 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di RS dan diperkirakan dari 25 juta penduduk Indonesia menderita Asma. Angka kejadian Asma dan bayi sekitar 10 – 85% dan lebih tinggi dibanding orang dewasa 10 – 45%.
Pada umumnya semua penyakit dapat dicegah, begitu juga dengan penyakit asma, penyakit ini dapat dicegah sedini mngkin. Masing-masing orang mempunyai penyebab berbeda-beda, maka pencegahan masing-masing orang juga berbeda-beda. Contohnya bila seseorang terkena cuaca dingin, maka orang tersebut harus menghindari cuaca dingin agar asma itu tidak terjadi. (Sintya, 2013)
Orang yang mempunyai penyakit asma akan sangat terganggu aktivitasnya jika penyakit asma kambuh, karena saat asma kambuh orang tersebut akan mengalami sesak nafas sehingga orang tersebut kesulitan untuk bernafas, bahkan asma dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, pengobatan asma sangat penting. Orang yang terkena asma dapat berobat ke puskesmas atau minimal melakukan pencegahan terhadap asma itu sendiri. (Sintya, 2013)
Peran keluarga sangat penting untuk kesehatan klien dalam memberikan dukungan sosial karena individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu yang lebih optimis dan lebih mampu beradaptasi terhadap stress. Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga dapat berupa dukungan emosiaonal, penghargaan, dukungan alat dan dukungan informatif. Oleh karena itu penitngnya dilakukan asuhan keperawatan pada penyakit asma untuk mencegah kekambuhan asma. (Sintya, 2013) Asma Bronkial
. (2016). Asuhan Keperawatan Keluarga TN. G Dengan Masalah Kesehatan Utama Asma Bronkial Pada NY. D Di Desa Rempoah RT 02 RW 05 Kec. Baturaden Kab. Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id