Lanjut usia keadan yang biasanya ditandai dengan kondisi lemah atau terjadi penurunan fungsi. Prevalensi hipertensi di Indonesia pada umur 50 tahun mencapai 10%, dan di atas 60 tahun angka tersebut terus meningkat mencapai 20-30%. Dari berbagai penelitian melaporkan bahwa 1.3-28.6% penduduk yang berusia di atas 20 tahun merupakan penderita hipertensi. Prevalensi hipertensi pada usia kurang dari 31 tahun sebesar 5%, usia antara 31-44 tahun 8-10%, usia lebih dari 45 tahun sebesar 20% (Nurrahmani, 2012).
Menurut WHO (World Health Organization), batas normal tekanan darah adalah 120-140 mmHg sistolik dan 80-90 mmHg diastolik. Kondisi hipertensi terjadi apabila tekanan darah berada di atas 140/90 mmHg. Hipertensi termasuk penyakit dengan angka kejadian (prevalensi) yang cukup tinggi, dan dikaitkan dengan kematian dari hampir 14 ribu pria di Amerika setiap tahunnya. Hipertensi mempunyai peluang 12 kali lebih besar bagi penderitanya untuk menderita stroke dan 6 kali lebih besar untuk serangan jantung, serta 5 kali lebih besar kemungkinan meninggal karena gagal jantung (congestive heart failure). Berdasarkan data dari WHO dari 50% penderita hipertensi yang diketahui, 25% yang mendapat pengobatan dan hanya 12.5% yang diobati dengan baik.
Di Amerika diperkirakan sekitar 64 juta lebih penduduknya yang berusia antara 18 tahun sampai 75 tahun menderita hipertensi. Mereka yang mengidap hipertensi dapat diselamatkan bila lebih awal memeriksakan diri dan selanjutnya melakukan upaya untuk mengendalikannya. Setelah terdiagnosa, penderita hipertensi perlu melakukan pemeriksaan tekanan darah rutin setiap satu bulan sekali. Kemudian berusaha mengurangi asupan garam dan lemak dan melakukan olahraga yang teratur beberapa kali dalam seminggu. Selain itu, terbiasa mengkonsumsi alkohol, maka kebiasaan yang satu ini pun harus dihentikan. Gaya hidup yang lebih sehat akan dapat mengontrol hipertensi (Sustrani, 2006).
Peningkatan jumlah penduduk terjadi secara global, tidak terkecuali di Indonesia. Adapun peningkatan tajam terjadi pada kelompok penduduk lanjut usia (lansia). Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lansia terbanyak di dunia mencapai 18.1 juta jiwa (9.6% jumlah penduduk). Bappenas memprediksi jumlah lansia akan meningkat menjadi dua kali lipat (36 juta) pada tahun 2025 (Hardywinoto, 2005).
Data Depkes (2007) menunjukan, di Indonesia ada 21% penderita hipertensi dan sebagian besar tidak terdeteksi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (2007) juga menunjukan cakupan tenaga kesehatan terhadap kasus hipertensi di masyarakat masih rendah, hanya 24.2% untuk prevalensi hipertensi di Indonesia yang berjumlah 32.2%. Data Riskeda (2007) juga menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-laki (48%). Data lain menunjukan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31.7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Dari jumlah itu, 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke (Agusman, 2013). Di Jawa Tengah kasus hipertensi yaitu sebanyak 554.771% kasus (67.57%) (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang abnormal dan diukur pada tiga waktu yang berbeda. Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik. Kondisi prahipertensi adalah tekanan darah yang mencapai antara 120 dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk diastolik (Elizabet, 2009).
Pada umumnya hipertensi pada lansia disebabkan oleh menurunnya elastisitas arteri pada proses menua, sehingga tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Hipertensi yang tidak tertangani dapat memicu terjadinya stroke atau kerusakan pembuluh darah (anteriosklerosis), serangan gagal jantung, dan gagal ginjal (Atun, 2010).
Upaya peningkatan kesehatan pada lanjut usia di Indonesia perlu ditunjang oleh asuhan keperawatan yang baik, empati, dan teraupetik. Asuhan keperawatan pada lanjut usia yang terkena hipertensi memerlukan keterampilan khusus mengingat kompleknya penyakit (multipatologi), gejala penyakit tidak khas, perubahan fatal tubuh, dan berbagai problem psikososial. Dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia dituntut kesabaran, ketelatenan yang tinggi, penuh perhatian, kasih sayang, serta penuh kejujuran dan keikhlasan (Nugroho, 2008).
Sebelum dilakukan tindakan asuhan keperawatan sebagai seorang perawat harus melakukan suatu rangkaian kegiatan asuhan keperawatan secara umum meliputi pengkajian dengan memperhatikan kebutuhan biofisik, psikologis, kultural dan spiritual. Menganalisa suatu masalah kesehatan atau keperawatan dan membuat diagnosa keperawatan, membuat perencanaan, melaksanakan perencanaan, serta terakhir melakukan evaluasi (Maryam, 2008).
Berdasarkan pra survey tanggal 29 Januari 2015 di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap data yang didapatkan sejumlah 100 klien, 28 klien yang menderita hipertensi, diantaranya 10 laki-laki (35%) dan 18 perempuan (64%). hipertensi
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Tn. A Dengan Hipertensi Di Wisma Dewi Ratih Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id