Lanjut usia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat berbagai macam penyakit yang menyertai proses menua. Penurunan kemampuan berbagai organ, fungsi, dan sistem tubuh itu bersifat alamiah atau fisiologis. Penurunan tersebut disebabkan berkurangnya jumlah dan kemampuan sel tubuh. Pada umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun (Maryam, 2008).
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan linu di daerah persendian dan sering di sertai timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi penderitanya (Andry & Arif 2009)
Asam urat merupakan kelompok keadaan heterogeneus yang berhubungan dengan efek genetik pada metabolisme purin (Smeltzer & Bare, 2008). Kadar asam urat dalam darah dipengaruhi oleh herediter, jenis kelamin, kelainan enzim spesifik, idiopatik, faktor lingkungan, penyakit tertentu, kegiatan dan diet (Indriawan, 2009).
Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa beberapa ratus juta orang mengalami penyakit sendi dan tulang (reumatik dan asam urat), dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat tajam tahun 2020. Prevalensi asam urat tahun 2004 mencapai 230 juta, dan akan diperkirakan meningkat pada tahun 2020 peningkatan akan banyak terjadi di negara maju karena banyak penduduk yang mengkonsumsi makanan berlemak dan mengandung kadar purin tinggi (Achmad,2008)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (2007). Indonesia menempati prevalensi pertama dengan masalah kesehatan asam urat, dimana penderita asam urat tertinggi di Indonesia berada pada penduduk di daerah pantai dan yang paling tinggi di daerah Manado – Minahasa sebesar 29,2 % pada tahun 2003 dikarenakan kebiasaan atau pola makan ikan dan mengonsumsi alkohol, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas negara akibat dari pada keterbatasan fungsi fisik penderita yang mengefek kualitas hidupnya (Eustice, 2007)
Prevalensi asam urat lebih banyak pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, terutama pada laki-laki dengan usia di atas 40 tahun, dan pada perempuan terutama pada saat menopause. Hal ini kkkndikarenakan pada perempuan mempunyai hormon estrogen yang ikut membantu pembuangan asam urat lewat urine. sedangkan pada laki laki tidak mempunyai hormon tersebut (Hendri, 2008).
Di Jawa Tengah Prevalensi penderita gout hiperurisemia kira-kira 2,6-47,2% yang bervariasi pada berbagai populasi. Sedangkan prevalensi gout juga bervariasi antara 1-15,3%. Pada suatu studi didapatkan insidensi gout 4,9% pada kadar asam urat darah >9 mg/dL, 0,5% pada kadar 7-8,9%, dan 0,1% pada kadar 9 mg/dL (Hidayat, 2009).
Survei epidemiologik yang dilakukan di Bandungan, Jawa Tengah terhadap 4.683 sampel berusia antara 15 – 45 tahun di dapatkan bahwa prevalensi hiperurisemia (kadar asam urat di atas 7.0 mg/dl sebesar 24,3% pada laki-laki dan 6.0 mg/dl sebesar 11,7% pada wanita). Secara keseluruhan prevalensi kedua jenis kelamin adalah 17,6% Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2011 didapat 55 pasien menderita asam urat dari 199 orang atau 27,6 %. Sedangkan pada bulan Januari sampai dengan bulan April pada Tahun 2012 didapat 42 dari 71 pasien menderita asam urat atau 59 %(Darmawan & Tri, 2009).
Panti Wreda merupakan salah satu tempat dimana para lanjut usia tinggal untuk meneruskan sisa hidupnya dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Gout arthritis atau asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh para lansia. Asam Urat
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada NY. W Dengan Asam Urat Di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id