Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi & Yuliani, 2006). Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Depkes RI, 2011).
Penyakit diare sampai saat ini masih merupakan penyebab kematian utama di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal, dan sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun. Meskipun diare membunuh sekitar 4 juta orang/tahun di negara berkembang, ternyata diare juga masih merupakan masalah utama di negara maju. Diperkirakan 82% kematian akibat gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah (WHO, 2012).
Melihat kondisi negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan, penyakit diare masih menjadi penyakit yang sering menyerang masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat kita yang masih belum menyadari akan pentingnya sarana air bersih (Nursalam, Susilaningrum, Utami, 2005).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar. penyakit diare menempati urutan ke-3 penyakit menular penyebab kematian pada semua umur di Indonesia. Pada tahun 2010 angka kesakitan yang disebabkan oleh diare mencapai 411 per 1000 penduduk. Tingginya angka kesakitan membuat penyakit diare sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Jumlah kasus KLB Diare pada tahun 2010 sebanyak 2.580 dengan kematian sebesar 77 kasus sedangkan pada tahun 2009 KLB Diare sebanyak 3.037 kasus dengan kematian sebesar 21 kasus (Dinas Kesehatan, 2011). Data profil kesehatan Indonesia menyebutkan tahun 2012 jumlah kasus diare yang ditemukan sekitar 213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289, dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya (Depkes RI, 2012).
Cakupan penemuan penderita diare di Jawa Tengah menunjukkan bahwa angka kesakitan diare pada tahun 2012 mencapai jumlah penderita 2.574 orang dengan 33,8% penderita diantaranya adalah balita. Dinkes Jateng telah menargetkan untuk menurunkan angka kejadian diare pada tahun 2012 75% dan 100% pada tahun 2013 dan menurunkan angka kematian untuk tahun 2012 0,003% dan
diare
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada An. A Dengan Diare Di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id