Diare sampai saat ini masih menjadi masalah utama di masyarakat yang sulit ditanggulangi. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2009 menunjukan angka kejadian diare diseluruh dunia mencapai 2 miliar kasus pertahun dengan angka kematian 1,5 juta pertahun (WHO, 2009). Berdasarkan data dari profil kesehatan Indonesia pada tahun 2014, kasus diare pada tahun 2013 terjadi penurunan secara signifikan dibandingkan tahun 2012 dari 1654 kasus menjadi 646 kasus. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare pada tahun 2013 terjadi di enam provinsi dengan penderita terbanyak berada di Jawa Tengah yang mencapai 294 kasus (KEMENKES, 2014).
Berdasarkan profil kesehatan Purbalingga pada tahun 2013, diare menduduki peringkat kedua setelah penyakit TB paru. Angka kejadian diare mengalami peningkatan pada tahun sebelumnya. Tahun 2013 terdapat kejadian kasus sebesar 37,10% sedangkan tahun 2012 sebesar 30,10%. Dari sejumlah kasus diare yang ada pada tahun 2013 terdapat 5 kasus kematian yang diakibatkan oleh kasus penyakit diare (KEMENKES, 2014).
Diare adalah perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan air dalam tinja melebihi normal (10 mL/kgBB/hari) dengan peningkatan frekuensi defekasi lebih dari 3 kali dalam 24 jam (Tanto, dkk,2014). Etiologi diare menurut World Gastroenterology Organization
global guideslines (2006) dibagi menjadi empat meliputi bakteri, virus, parasit dan non-infeksi. Bakteri yang paling sering menyebabkan diare ini adalah Escherichia coli, Shigella sp., Salmonella sp, Vibrio cholera, Pseudomonas sp, Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, Klabsiella sp. Virus yang menyebabkan diare adalah rotavirus, adenovirus, Norwalk virus. Parasit yang menyebabkan diare yaitu Entamoeba histolitica, Giardia lamblia. Cacing yang menyebabkan diare adalah Ascaris lumbricoides, cacing tambang.. Selain itu, diare dapat disebabkan oleh non-infeksi yaitu imunodefisiensi (hipogamaglobulinemia), terapi obat antibiotik, kemoterapi, antasida (Wenny, 2008).
Manifestasi klinis pada pasien dengan diare biasanya suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Gejala muntah dapat timbul setelah atau sebelum diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit nampak kering (Muttaqin, 2011).
Hasil pre survey yang dilakukan penulis pada tanggal 4 februari 2016 di unit rekam medik RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata tercatat bahwa kasus diare yang terjadi pada tahun 2015 sebanyak 736 kasus, dari 736 kasus tersebut terdiri dari jumlah pasien laki-laki sebanyak 402 dan perempuan sebanyak 334 pasien. Berdasarkan uraian tersebut, angka kejadian kasus diare masih cukup tinggi dan masih memerlukan perawatan komperhensif sehingga derajat kesehatan pasien dapat meningkat. Diare Akut Dehidrasi Ringan
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Ny. E Dengan Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang Di Ruang Kenanga RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id