Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia. (Utaminingsih, 2009). Hipertensi memiliki sebutan silent killer karena penderitanya sering kali tidak menyadari atau tidak merasakan suatu gangguan atau gejala dan jika tekanan darah tidak terkontrol dengan baik, risiko kematian semakin besar bagi penderitanya. (Puspitorini, 2008). Menurut Depkes (2013) hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.
Sebanyak 1 milyar orang di dunia atau 1 dari 4 orang dewasa menderita penyakit ini. Hipertensi ini bisa menyerang siapa saja, baik tua maupun muda. (Utaminingsih, 2009).
Menurut AHA (American Heart Association) di Amerika, tekanan darah tinggi ditemukan satu dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dan 28% atau 59 juta orang mengidap prehipertensi. Semua orang yang mengidap hipertensi hanya satu pertiganya yang mengetahui keadaannnya dan hanya 61% yang mendapat medikasi. (Wahdah, 2011)
Prevalensi hipertensi pada umur ≥ 18 tahun di Indonesia sebesar 9,4 persen, sedangkan yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat hipertensi sendiri sebesar 9,5 persen. (Depkes, 2013)
Prevalensi kasus hipertensi essensial di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 2,00%, menurun bila dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 2,13%. Terdapat satu kabupaten/kota dengan prevalensi sangat tinggi di atas 10% yaitu Kota Magelang sebesar 11,85%. (Dinkes Jateng, 2010)
Prevalensi hipertensi di Kabupaten Banyumas, hipertensi essensial mencapai 6.398 dan hipertensi non essensial 1.523. Angka kejadian tertinggi terdapatdi kecamatan Sumbang sebanyak 1070 kasus, diikuti oleh Kecamatan Patikraja sebanyak 888 kasus. Sedangkan di Kecamatan Kedungbanteng terdapat 45 kasus hipertensi. (Dinkes Banyumas, 2015)
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai (Depkes, 2013). Pengobatan dan perawatan pada hipertensi sangatlah penting karena dapat mencegah timbulnya komplikasi pada beberapa organ tubuh tersebut. (Muttaqin, 2009)
Asuhan keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan berfokus pada klien dan berorientasi pada tujuan (Hidayat, 2011). Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, merupakan klien keperawatan atau penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Keberhasilan keperawatan dirumah sakit dapat menjadi sia-sia jika tidak dilanjutkan oleh keluarga. Pendekatan yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan, serta mengevaluasi asuhan yang telah diberikan (Jhonson dan Leny, 2010). hipertensi Asuhan Keperawatan Keluarga
. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Keluarga TN. S Dengan Masalah Khusus Hipertensi Pada NY. W Di Desa Keniten Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id