Tingkat kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator di suatu negara, dimana angka kematian maternal dan neonatal masih tinggi, hubungan antara persalinan prematur dengan hiperbilirubin pada neonatus. Hiperbilirubin merupakan salah satu penyebab kematian bayi. Angka kematian bayi di Indonesia sekitar 32 per 1000 kelahiran hidup, disebabkan karena kurang pengetahuan orang tuanya dan sudah merasakan kehawatiran yang berlebih, oleh sebab itu dengan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat, maka hiperbilirubin dapat diatasi sejak dini, dan dapat dilakukan pencegahan terjadinya hiperbilirubin dengan memberikan KIE pada ibu hamil agar dapat memeriksakan kehamilannya secara teratur, sehingga petugas kesehatan dapat segera mendeteksi sejak dini jika terdapat kelainan dalam kehamilan.
Bilirubin merupakan produk utama pemecahan sel darah merah oleh sistem retikuloendotelial. Kadar bilirubin serum normal pada bayi baru lahir < 2 mg/dl. Pada konsentrasi > 5 mg/dl bilirubin maka akan tampak secara klinis warna kuning pada kulit dan membran mukosa yang disebut ikterus. Ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 50% bayi cukup bulan aterm dan 75% bayi kurang bulan preterm (Winkjosastro, 2007).
Lebih dari separuh bayi normal dan kira-kira 4 dari 5 bayi prematur mengalami kekuningan, bayi baru lahir dengan hiperbilirubin merupakan suatu kondisi yang paling sering ditemukan, 85% bayi cukup bulan yang akan lahir dan akan datang kembali ke rumah sakit untuk dirawat pada minggu pertama disebabkan oleh hiperbilirubinemia. Di negara-negara ASEAN seperti Singapura 3/1000 per kelahiran hidup, Malaysia 5,5/1000 per kelahiran hidup, Thailand 17/1000 per kelahiran hidup, Vietnam 18/1000 per kelahiran hidup, dan Philipina 26/1000 per kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia cukup tinggi yakni 26,9/2000 perkelahiran hidup (Depkes, 2007).
Di Amerika Serikat terdapat sekitar 60% dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya mengalami ikterus dan sekitar 10% neonatus memerlukan fototerapi dan hanya 2 dari 833 bayi (0,24%) yang menerima transfusi tukar. Tujuan dari fototerapi adalah untuk membatasi peningkatan bilirubin serum dan mencegah akumulasi toksiknya di dalam otak yang dapat menyebabkan komplikasi neurologis permanen yang serius yang dikenal sebagai kern ikterus. Di Malaysia ditemukan sekitar 75% bayi mengalami ikterus pada minggu pertama kelahirannya. Di Indonesia sendiri insiden ikterus pada bayi dibeberapa Rumah sakit (RS) pendidikan, bervariasi dari 13,7-85%. Bayi dengan ikterus berpotensi menjadi hiperbilirubinemia, terlebih bila terdapat keadaan patologis yang mendasari (Depkes, 2009).
Pada tahun 2013 Angka kematian bayi di Indonesia 32 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Lampung 30 per 1000 kelahiran hidup. Angka kejadian hiperbilirubin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 42,95%, di Propinsi Lampung 15,38%, dan di RSUD Ahmad Yani Metro 29,4%. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2008 angka kematian bayi (AKB) di Indonesia yaitu sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup, dan terakhir pada tahun 2012 menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup, Salah satu penyebab kematian neonatal menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) antara lain disebabkan oleh hiperbilirubin. sedangkan di Propinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 10,62 per 1.000 kelahiran hidup, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 10,25 per 1.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) ke 4 tahun 2015 sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 telah melampaui target (Dinkes Provinsi Jateng, 2011)
Berbagai cara telah digunakan untuk mengelola bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia indirek. Strategi tersebut termasuk pencegahan, penggunaan farmakologi, fototerapi dan transfusi tukar. American Academy of Pediatrics tahun 2004 mengeluarkan strategi praktis dalam pencegahan dan penanganan hiperbilirubinemia bayi baru lahir (kurang dari 35 minggu atau lebih) dengan tujuan untuk menurunkan insidensi dari neonatal hiperbilirubinemia berat dan ensefalopati bilirubin serta meminimalkan risiko yang tidak menguntungkan seperti kecemasan ibu, berkurangnya breast feeding atau terapi yang tidak diperlukan. Pencegahan dititik beratkan pada pemberian minum sesegera mungkin, sering menyusui untuk menurunkan shunt enterohepatik, menunjang kestabilan bakteri flora normal, dan merangsang aktifitas usus halus (Diakses, 2012).
Hasil Pra survey di RSUD. Dr. R Goeteng Tarunadibrata Purbalingga terdapat 70 bayi baru lahir pada bulan Januari sampai April 2016 kemudian 23 bayi baru lahir mengalami hiperbilirubin dan bayi yang kembali lagi ke RSUD. Dr. R Goeteng Tarunadibrata pada minggu pertama sebanyak 11 bayi, dengan tanda dan gejala pada bayi terlihat kuning di tangan dan kaki, sklera, kuku, hingga bicara lambat, tidak ada koordinasi otot, tangisan yang melengking, feses dan urine terlihat gelap.
Pada tahun 2015 bayi baru lahir yang mengalami hiperbilirubin sebesar 4,5 per 1000 kelahiran hidup, dengan Penanganan yang dilakukan di RSUD. Dr. R Goeteng Tarunadibrata adalah dengan fototerapi. Tujuan dari fototerapi adalah untuk membatasi peningkatan bilirubin serum dan mencegah akumulasi toksiknya di dalam otak yang dapat menyebabkan komplikasi neurologis permanen yang serius yang dikenal sebagai kern ikterus.
Keefektifan suatu fototerapi ditentukan oleh intensitas sinar. Adapun faktor yang mempengaruhi intensitas sinar ini adalah jenis sinar, panjang gelombang sinar, jarak sinar ke pasien yang disinari, luas permukaan tubuh yang terpapar dengan sinar serta penggunaan media pemantulan sinar. Panjang gelombang sinar yang paling efektif untuk menyerap bilirubin adalah sinar biru dengan panjang gelombang 425 – 475 nm (nanometer). Menggeser sinar lebih dekat ke bayi akan meningkatkan intensitas sinar. Luas permukaan terbesar dari tubuh bayi adalah badan bayi, harus diposisikan di pusat sinar, tempat intensitas sinar paling tinggi. jarak sinar fototerapi 20 cm ke permukaan tubuh neonatus lebih efektif dan cepat dalam menurunkan kadar bilirubin dibandingkan dengan jarak 40 cm karena intensitas yang lebih tinggi, penangan yang seperti ini yang biasa dilakukan.
Biasanya, hiperbilirubin dengan kompleks (Afiksia) penanganan menggunakan fototerapi dan pemberian obat. Kadar Hiperbilirubin yang melebihi dari 10 mg% yang akan dilakukan fototerapi. Apabila hiperbilirubin pada bayi tidak bisa ditangani dengan baik maka kondisinya akan mengancam jiwa (RSUD. Dr. R Goeteng Tarunadibrata Purbalingga, 2016). Hiperbilirubinemia Asuhan Keperawatan Pada Bayi
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI. NY. E DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUD. Dr. R GOETENG TARUNADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id