DM dapat disebut juga dengan the silent killer sebab penyakit ini dapat menyerang beberapa organ tubuh dan mengakibatkan berbagai macam keluhan. DM tidak dapat disembuhkan tetapi glukosa darah dapat dikendalikan melalui 5 pilar penatalaksanaan DM seperti edukasi, diet, olah raga, obat-obatan dan follow up. Faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian kadar gula darah yakni pengobatan DM yang bermanfaat untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal. Selain itu, untuk menjaga kadar gula darah agar tetap terkontrol sebaiknya penderita DM menjaga asupan gula, selalu rutin berolahraga, tidak merokok dan selalu menjalani pengobatan (Ahmad, 2014)
DM seringkali tidak terdeteksi sebelum diagnosis dilakukan, sehingga morbiditas (terjadinya penyakit atau kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup) dan mortalitas (kematian) dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini. Uji diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala/tanda dengan salah satu risiko DM yaitu usia ≥ 45 tahun dan usia lebih muda yang disertai dengan faktor risiko seperti kebiasaan tidak aktif (tidak banyak bergerak), turunan pertama dari orang tua dengan DM, riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram, riwayat DM-gestasional, hipertensi, kolesterol HDL ≤ 35 mg/dL, trigliserida ≥ 250 mg/dL, menderita keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin, adanya riwayat toleransi glukosa yang terganggu atau glukosa darah puasa terganggu sebelumnya, dan memiliki riwayat penyakit kardiovaskular (Soegondo dkk, 2013).
Penderita DM di Indonesia yang mengalami komplikasi diantaranya, komplikasi neuropati (63,5%), retinopati (42%), nefropati (7,3%), makrovaskuler (16%), mikrovaskuler (6%), luka kaki diabetik (15%) (Purwanti, 2013). Banyaknya komplikasi yang ditimbulkan, maka tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh penderita DM untuk mencegah timbulnya komplikasi, yaitu dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara rutin, patuh dalam diit rendah gula, pemeriksaan rutin gula darah, latihan jasmani, konsumsi obat anti diabetik, dan perawatan kaki diabetik yang penting dilakukan oleh penderita DM (Arisman, 2011).
World Health Organization (WHO) menyatakan prevalensi global penderita DM pada usia di atas 18 tahun telah meningkat dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% tahun 2014. Data baru menunjukkan bahwa sekitar 150 juta orang menderita DM di seluruh dunia. Jumlah tersebut mungkin akan meningkat dua kali lipat tahun 2025. Sebagian besar peningkatan ini akan terjadi di negara berkembang dan akan terjadi karena pertumbuhan penduduk, penuaan, diet tidak sehat, obesitas dan gaya hidup. WHO memproyeksikan bahwa DM akan menjadi penyebab utama 7 kematian di tahun 2030 (WHO, 2016).
Berdasarkan data Internatonal Diabetes Federatiaon (IDF), bahwa tingkat prevalensi global penderita DM setiap tahun meningkat. Prevalensi DM pada tahun 2015 yaitu 1 dari 11 orang dewasa menderita DM (415 juta), 46,5% dari orang dewasa dengan diabetes yang tidak terdiagnosa, 12% dari pengeluaran kesehatan global dihabiskan untuk DM, 1 dari 7 kelahiran anak mengalami DM gestational, 542,000 anak menderita DM tipe 1, setiap 6 detik seseorang meninggal yang disebabkan oleh DM (5,0 juta kematian), dan diperkirakan pada tahun 2040 jumlah insiden DM akan mengalami peningkatan menjadi 640 juta kasus, (IDF, 2015).
Pusat data dan informasi Kemenkes RI tahun 2016, bahwa dari hasil Riskesdas tahun 2013 terjadi peningkatan prevalensi DM di Indonesia pada tahun 2007 yakni sebesar 1,1% menjadi 2,1% pada tahun 2013. Hasil analisis gambaran prevalensi DM berdasarkan jenis kelamin di Indonesia pada tahun 2013 juga menunjukkan bahwa prevalensi DM pada wanita lebih banyak (1,7%) dibandingkan pada laki-laki (1,4%). Prevalensi DM berdasarkan wilayahnya, prevalensi DM di Indonesia tahun 2013 lebih besar di perkotaan (2%) dibandingkan dengan di pedesaan (1%) (Kemenkes RI, 2016).
Berdasarkan data dari profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 bahwa DM menempati urutan ke 2 dari 12 penyakit yang tidak menular (PTM) di Jawa Tengah yaitu sebanyak 110.702 kasus (18,33%) dari 603.840 kasus PTM. Prevalensi DM di provinsi Jawa Tengah tahun 2013 sebesar 152.301 kasus, terjadi penurunan menjadi 102.858 kasus pada tahun 2014, dan kemudian meningkat menjadi 110.702 kasus pada tahun 2015 (Dinkes Jateng, 2016).
Prevalensi dari seluruh puskesmas di Kabupaten Purbalingga tahun 2015, bahwa DM menduduki peringkat ketiga dari penyakit tidak menular (PTM) lainnya yaitu sebanyak 2.409 kasus (13,67%) dari 17.623 kasus PTM. Kasus tertinggi PTM adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah, antara lain penyakit Hipertensi Esensial yaitu sebanyak 6.854 kasus. Prevalensi DM di Kabupaten Purbalingga mengalami penurunan dalam kurun 3 tahun terakhir, tahun 2013 sebanyak 2.750 kasus, menurun menjadi 2.640 kasus pada tahun 2014, dan 2.400 kasus pada tahun 2015. (Dinkes Purbalingga, 2016 ).
Hasil data rekam medik yang didapatkan dari RSUD dr. R. Goetheng Tarunadibrata Purbalingga bahwa kasus DM pada tahun 2015 terdiri dari DM tipe 2 sebanyak 4 kasus, DM YTT sebanyak 264 kasus, sedangkan kasus DM pada tahun 2016 terdiri dari DM tipe 2 sebanyak 8 kasus, DM YTT sebanyak 404 kasus. Berdasarkan data tersebut kasus DM menunjukan peningkatan dari tahun 2015 sampai tahun 2016.
Peran perawat sangat diperlukan dalam menangani klien dengan DM. Penanganan masalah fisiolagis DM, perawat harus lebih memfokuskan pada perbaikan cairan/ elektrolit dan keseimbangan asam basa, karena merupakan gejala awal pada penderita DM. Selain itu perawat juga harus memperhatikan pemasukan nutrisi, karena biasanya pada penderita DM nafsu makan menurun, karena kasus DM kejadiannya berhubungan dengan riwayat malnutrisi (Waspadji, 2009).
Peran perawat sebagai edukator juga sangat butuhkan oleh pasien DM, karena DM merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Diabetes Mellitus
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PA DA NY.S DENGAN DIABETES MELLITUS
TIPE II DI RUANG LAVENDER RSUD DR. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id