Remaja adalah individu antara umur 10 dan 19 tahun. Istilah yang lebih luas “Kaum Muda” meliputi umur 15-24 tahun. Masa Remaja adalah masa transisi, pertumbuhan, eksplorasi dan peluang. Pada waktu yang sama, anak remaja kurang mendapat informasi bagaimana cara melindungi kesehatan seksual mereka. Diperkirakan juga dua juta anak perempuan mengalami masalah kesehatan yang tidak baik, misalkan perusakan genital perempuan (genital mutilation) setiap tahun (Sarwono, 2011).
Kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh (tidak semata-mata dari penyakit atau kecacatan) dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Kesehatan reproduksi remaja sulit dipisahkan dari kesehatan remaja secara keseluruhan, karena gangguan remaja akan menimbulkan gangguan pula pada sistem reproduksi (Intan & Iwan, 2012).
Gangguan reproduksi merupakan penyakit yang terjadi pada bagian reproduksi yang dapat disebabkan oleh jamur, bakteri ataupun virus. Bagian reproduksi wanita terdiri dari genitalia eksterna yaitu vulva, mons pubis/mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris, vestibulum, orifisium vagina dan perinueum. Genitalia interna terdiri dari vagina, uterus, serviks uteri, tuba fallopi, ovarium (Intan & Iwan, 2012).
Kista adalah tumor jinak yang terdapat didalam organ reproduksi perempuan. Kista biasanya berbentuk kistik, berisi cairan kental dan adapula yang berbentuk anggur. Selain itu, ada juga yang berisi udara, cairan, nanah atau bahan-bahan lainnya (Nurchasanah, 2009). Kista ovari terbagi menjadi beberapa bagian yaitu kista ovari yang bersifat benigna biasanya tidak bermetastase ke organ lain atau bersifat jinak sedangkan kista ovari yang bersifat maligna dapat melakukan metastase ke organ lain atau bersifat ganas (Sastrawinata, 2010).
Menurut World Health Organization dari survey American Cancer Society (2014) kista ovarium merupakan penyebab kematian utama pada kasus keganasan ginekologi saat ini. Kista ovari merupakan tumor jinak kelima tersering yang membunuh atau menyebabkan kematian wanita setelah kanker paru-paru, kolorektal, payudara dan pancreas. Insiden pada wanita dibawah 50 tahun sebanyak 5,3 /100.000 meningkat menjadi 41,4/ 100.000 pada wanita diatas 50 tahun.
Kista ovari merupakan kasus ginekologi terbanyak dari seluruh keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas insidensi kista ovari, rerata tertinggi di negara skandinavia (14,5 – 15,3 per 100.000 populasi). Di Amerika Serikat insidensi kista ovari semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi (Triyanto, 2009).
Dari data survey kesehatan Indonesia angka kejadian kista ovari mencapai 37,2 % dan paling banyak terjadi pada wanita usia 20-50 tahun dan terkadang juga bisa terjadi pada pubertas (Depkes RI, 2011). Berdasarkan data Dinkes Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012, berdasarkan laporan program dari dinas kesehatan kabupaten/ kota yang berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas kasus penyakit kista ovari terdapat 2.259 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013).
Data catatan medik dari awal bulan Januari 2014 sampai dengan Desember 2016 pada pusat pelayanan rawat inap RSUD. Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto terdapat kasus kista ovari mencapai 455 kasus, sedangkan pada pusat pelayanan rawat jalan kasus kista ovari mencapai 1229 kasus. Pada ruang perawatan Teratai RSUD. Prof. Dr. Margono Soekardjo terdapat kasus kista ovari yang terjadi pada wanita yang belum mengalami menopause ataupun yang sudah mengalami menopause sepanjang tahun 2014 terdapat 155 kasus, pada tahun 2015 terdapat 113 kasus dan pada akhir tahun 2016 kasus kista ovari menjadi 91 kasus.
Penyebab dari kista ovari yaitu ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron (dimana hormon estrogen lebih mendominasi sehingga memicu pertumbuhan kista), polusi udara, adanya riwayat herediter atau keturunan pola makan dimana banyaknya kandungan lemak yang tinggi bisa menjadi penyubur tumbuhnya kista serta obesitas atau kegemukan (Irianto, 2014).
Menurut Sulaiman (2010), komplikasi yang ditimbulkan dari kista ovarium yaitu dengan adanya torsi. Dari torsi tersebut terkadang memunculkan gejala seperti rasa nyeri yang hebat dan terus-menerus. Tetapi ada juga rasa nyeri yang hanya bersifat sementara. Apabila torsi muncul pada ovarium sebelah kanan maka akan menimbulkan gejala seperti mual, muntah, nadi cepat, suhu badan meningkat.
Bila tumor ovarium sudah disertai gejala akut seperti torsi maka harus dilakukan tindakan operasi pada waktu itu juga. Bila pembedahan yang dilakukan hanya untuk mengangkat kista maka operasi ini disebut ovarian cystectomy. Bila pembedahan dilakukan untuk mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi maka disebut salpingo-oophorectomy (William, 2007). Pada penanganan kasus kista ovari di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto dilakukan tindakan medis yaitu dengan dilakukan operasi untuk mengangkat kista. Peran Perawat diperlukan untuk menangani masalah tersebut seperti memberikan terapi non farmakologi dengan mengajarkan teknik relaksasi (nafas dalam) untuk mengurangi nyeri, memberikan terapi kolaborasi dengan memberikan antibiotik untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi. Gangguan Reproduksi dan Kista Ovari
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn.K DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI KISTA OVARI DI RUANG TERATAI
RSUD. Prof. Dr. MARGONO SOEKARDJO
PURWOKERTO. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id