homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.R DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI WISMA SADEWA RSJ PROF. Dr. SOEROJO MAGELANG

XML
Pengarang
Galih Bekti Sejati - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2017
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Kesehatan jiwamenurut Undang – Undang No. 3 tahun 1996, adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang yang selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis dan memperhatikan segi kehidupan manusia dengan cara berhubungan dengan orang lain (Kusumawati, 2010).
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi perasaan sejahtera secara subyektif, suatu penilaian diri tentang perasaan yang mencakup aspek konsep diri, kebugaran, dan kemampuan pengendalian diri. Indikator mengenai keadaan sehat mental/ psikologis/ jiwa yang minimal adalah individu tidak merasa tertekan atau depresi(Riyadi dan Teguh, 2013). Kesehatan Jiwa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor individual, faktor interpersonal, dan faktor sosial/budaya yang dapat menyebabkan gangguan jiwa pada seseorang (Videbeck, 2008).
Zaman dahulu gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan atau hukuman karena pelanggaran sosial, agama atau norma sosial. Sedangkan pada zaman dahulu di Indonesia tindakan yang dilakukan terhadap penderita gangguan jiwa secara turun-temurun adalah penderita dibuang ke hutan, penderita dipasung dan diikat. Bila tidak membahayakan penderita dibiarkan berkeliaran menjadi tontonan ataupun objek lelucon bahkan ada yang menganggap orang sakti atau linuwih(Riyadi dan Teguh, 2013).
WHO pada tahun 2013 menyebutkan masalah gangguan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius dengan angka perkiraan pada tahun 2013 terdapat 450 juta orang mengalami gangguan jiwa dengan ratio rata – rata 1 dari 4 orang di dunia. Satu dari empat keluarga sedikitnya mempunyai seorang dari anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Setiap empat orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, seorang diantaranya mengalami gangguan jiwa dan tidak terdiagnosa secara tepat sehingga kurang mendapat pengobatan dan perawatan secara tepat (Prasetyo 2006 dalam Yosep 2009).
Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (24,3%), diikuti Nanggroe Aceh Darussalam (18,5%), Sumatera Barat (17,7%), NTB (10,9%), Sumatera Selatan (9,2%), dan Jawa Tengah (6,8%) (Depkes RI 2008). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan prevalensi gangguan jiwa nasional mencapai 5,6% dari jumlah penduduk. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penderita gangguan jiwa di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat. Menurut Dinas Kesehatan Kota Jawa Tengah tahun 2012, angka penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar antara 3.300 orang sampai 9.300 orang. Angka ini merupakan penderita gangguan jiwa yang sudah terdiagnosa (Satrio, 2015).
Salah satu penyakit neurologis yang dapat menyebabkan gangguan jiwa adalah skizofrenia (Yosep, 2009). Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi fungsi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, dan perilaku sosialnya (Videbeck, 2008). Skizofrenia disebabkan karena adanya kerusakan dalam sambungan sel otak dalam mengirim pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain (Yosep, 2009). Skizofrenia tidak dapat didefinisikan sebagai penyakit tersendiri, melainkan diduga sebagai suatu sindrom atau proses penyakit yang mencakup banyak jenis dengan berbagai gejala (Videback, 2008).
American Psychiatric Association (APA) tahun 2000 menunjukkan 1% populasi penduduk di dunia menderita skizofrenia, sedangkan di Indonesia penderita skizofrenia sekitar 1% sampai 2% dari total jumlah penduduk. Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah menderita skizofrenia. Menurut Depkes RI tahun 2008, prevalensi gangguan jiwa berat skizofrenia sebesar 12%. Data dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2014, penderita skizofrenia yang dirawat sebanyak 3.613 orang terdiri dari rawat inap dan rawat jalan. Kasus skizofrenia merupakan kasus yang terbanyak dibandingkan kasus gangguan jiwa yang lain yaitu sebanyak 2.589 orang atau 71,66% total penderita gangguan jiwa (Peristianto, 2016). Angka tertinggi terjadinya skizofrenia terdapat pada kelompok usia 20-64 tahun. Angka prevalensi keseluruhan untuk pria dan wanita adalah 0,4% (O’Brien, Patricia G, 2013).
Tanda dan gejala skizofrenia adalah adanya halusinasi dan waham. Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus skizofrenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi (Muhith, 2015). Halusinasi adalah persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak terjadi dalam realitas (Videback, 2008). Respon pasien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan yang nyata dan tidak nyata (Muhith, 2015). Halusinasi merupakan respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologis. Respon ini merupakan respon paling maladaptif. Pada klien yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui pancaindera (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan peradaban), sedangkan pada pasien halusinasi, pasien akan mempersepsikan suatu stimulus pancaindera walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada atau tidak nyata (Muhith, 2015).
Menurut Dermawan (2013), jenis halusinasi ada 5 macam yaitu, halusinasi pendengaran (Auditory), halusinasi penglihatan (Visual), halusinasi penciuman (Olfactory), halusinasi pengecapan (Gusfactory), dan halusinasi perabaan (Taktil). Halusinasi yang paling banyak diderita adalah halusinasi pendengaran yang mencapai lebih kurang 70%, sedangkan halusinasi penglihatan menduduki peringkat kedua dengan rata-rata 20%, sementara jenis halusinasi yang lain seperti, penciuman, pengecapan, perabaan hanya meliputi 10% (Muhith, 2015).
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien skizofrenia khusunya halusinasi menurut Stuart dan Laraia tahun 2005 dalam Muhith tahun 2015 meliputi tindakan keperawatan, psikofarmakologis, dan kolaborasi. Tindakan keperawatan dapat dilakukan dengan melakukan psikoterapi dan rehabilitasi baik individu maupun kelompok yang sangat membantu pasien dalam mempersiapkan pasien kembali ke masyarakat, dan tidak mengasingkan diri sehingga dapat membentuk kebiasaan yang baik. Contoh tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi yaitu dengan membantu pasien mengenal halusinasi dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang di dengar/ di lihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul, dan respon pasien saat halusinasi muncul.
Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas yang terjadwal, dan menggunakan obat secara tertaur. Selain tindakan keperawatan, juga terdapat tindakan psikofarmakologis, yaitu dengan memberikan obat-obatan pada pasien gangguan jiwa. Jika dengan tindakan keperawatan dan tindakan psikofarmakologi keadaan pasien masih belum membaik, dapat dilakukan dengan tindakan kolaborasi dengan melakukan Terapi Kejang Listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT) dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi dengan dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/ s.
Menurut Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas jumlah pasien gangguan jiwa khususnya skizofrenia pada tahun 2016 yang hidup sebanyak 1.751 orang, dengan jumlah pasien terbanyak rata-rata berusia 25-44 tahun, yang terdiri dari 513 pasien laki-laki, dan 432 pasien perempuan. Pada usia 5-14 tahun jumlah pasien 16 orang, yang terdiri dari 10 pasien laki-laki, dan 6 pasien perempuan, pada usia 15-24 tahun jumlah pasien 446 orang, yang terdiri dari 294 pasien laki-laki, dan 152 pasien perempuan. Pada usia 45-65 tahun jumlah pasien 298 orang, yang terdiri dari 135 pasien laki-laki, dan 163 pasien perempuan. Sementara pada usia >65 tahun jumlah pasien 45 orang, yang terdiri dari 22 pasien laki-laki, dan 23 pasien perempuan. Untuk jumlah pasien gangguan jiwa yang meninggal sebanyak 9 orang.
Menurut Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo magelang jumlah pasien gangguan jiwa dengan diagnosa halusinasi pada tahun 2014 sebanyak 4.658, dan pada tahun 2015 jumlah pasien gangguan jiwa dengan diagnosa halusinasi mengalami peningkatan menjadi 5.812, sementara pada tahun 2016 jumlah pasien gangguan jiwa dengan diagnosa hlausinasi mengalami penurunan menjadi 5.783. Sedangkan saat ini yaitu pada tahun 2017 jumlah pasien gangguan jiwa dengan diagnosa halusinasi dari bulan Januari sampai Maret sebanyak 1.422.

gangguan persepsi sensori
halusinasi pendengaran

URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1745
APA Citation
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.R DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI WISMA SADEWA RSJ PROF. Dr. SOEROJO MAGELANG. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor