Bronkopneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, ataupun benda asing yang ditandai dengan gejala panas yang tinggi, gelisah, dispneu, napas cepat dan dangkal, muntah, diare, serta batuk kering dan produktif. Bronkopneumonia terjadi pada bronkiolus terminal yang tersumbat dengan eksudat mukopurulen, yang membentuk bidang yang terkonsolidasi pada lobus-lobus didekatnya; disebut juga pneumonia lobularis (Wong et al, 2009 & Hidayat, 2011).
World Health Organization (WHO) (2016), mengemukakan bahwa bronkopneumonia adalah penyakit infeksi yang terbesar tunggal kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Bronkopneumonia menewaskan 920 anak, 136 adalah anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2015, tercatat 16% dari semua kematian anak di bawah lima tahun. Bronkopneumonia mempengaruhi anak-anak dan keluarga, tetapi yang paling umum di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan (2015), sampai dengan tahun 2014 angka cakupan penemuan bronkopneumonia balita tidak mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara 20% - 30%. Pada tahun 2015 terjadi peningkatan menjadi 63,45% dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak
922.000 balita. Di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 cakupan penemuan bronkopneumonia ditemukan 53, 31 %, meningkat cukup signifikan dibandingkan capaian tahun 2014 yaitu 26,11 %. Kabupaten Purbalingga pada penemuan kasus bronkopneumonia pada tahun 2015 mencapai 42,3 %, dengan jumlah kasus bronkopneumonia yang ditemukan 2.906 balita.
Gambaran klinis bronkopneumonia seringkali tidak spesifik dan dikondisikan oleh banyak faktor. Faktor-faktor ini termasuk kelompok usia tertentu, kehadiran komorbiditas yaitu penampilan bersamaan dari dua penyakit atau lebih, paparan faktor risiko, dilakukan imunisasi. Bronkopneumonia sering terjadi pada anak-anak usia lebih dari 1 tahun yang gizinya baik, biasanya timbul karena komplikasi infeksi saluran napas akut. Pada bayi kurang dari 1 minggu timbul karena aspirasi cairan ketuban atau sekret pada jalan lahir sewaktu bayi dilahirkan. Bronkopneumonia biasanya dicurigai bila bayi menjadi lemah, tidak mau minum dan sesak napas (Sudarti, 2010). Komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus bronkopneumonia antara lain atelektasis, empyema, abses paru, endokarditis, meningitis (Wong dkk, 2008 & Arch, 2016).
Masalah yang terjadi pada pasien bronkpneumonia menurut Nurarif dan Kusuma (2015) seperti ketidakefektifan bersihan jalan nafas, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gangguan pertukaran gas, intoleransi aktivitas dan resiko ketidakseimbangan elektrolit. Menurut Susilaningrum (2013) masalah yang muncul yaitu pola nafas tidak efektif dan defisit volume cairan.
Menurut Sudarti (2010) dan Axton (2014) tatalaksana yang dapat dilakukan pada kasus bronkopneumonia yaitu dengan pemberian posisi yang nyaman bagi anak, untuk menjaga kelancaran pernapasan. Pemberian oksigenasi, fisioterapi dada, pengisapan, dan pemberian bronkodilator. Penatalaksanaan menurut (IDAI, 2012; Bradley et al., 2011) terdiri dari 2 macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus. Penatalaksanaan umumnya yaitu pemberian oksigen 2-4 L/menit, pemasangan infus, asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena. Penatalaksanaan khusus yaitu mukolitik, ekspetoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibiotik awal, obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung, dan pemberian antibiotik.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada tanggal 19 Januari 2017 diperoleh data bronkopneumonia pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 kasus yang ditemukan mencapai 119 anak, dan pada tahun 2015 mencapai 120 anak, kemudian pada tahun 2016 kasus bronkopneumonia menjadi 129 anak.
Berdasarkan hasil wawancara di Ruang Cempaka RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada tanggal 31 Januari 2017, secara umum penatalaksanaan keperawatan pada kasus bronkopneumonia yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menggunakan SOP yang mengacu pada asuhan keperawatan NANDA dan NOC-NIC. Misalnya seperti pemberian terapi nebulizer, fisioterapi dada, dan batuk efektif, sedangkan pemberian obat tergantung pada berat ringannya penyakit tersebut. Kendala yang dialami oleh tenaga kesehatan sekarang yaitu pemberian edukasi kepada keluarga pasien mengenai dampak pola hidup merokok terhadap pasien bronkopneumonia. Bronkopneumonia
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. A DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUANG CEMPAKA RSUD dr. R GOETENG TARUNADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id