homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. M DENGAN MEGAKOLON / HIRSCHSPRUNG DI RUANG MENUR RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA

XML
Pengarang
Devi Wulandari - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2017
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) merupakan obstruksi mekanis yang disebabkan oleh ketidakadekuatan motilitas bagian usus. Penyakit ini menempati seperempat dari keseluruhan kasus obstruksi neonatal kendati diagnosisnya mungkin baru bisa ditegakkan kemudian dalam masa bayi atau kanak – kanak. Penyakit Hirschsprung atau megakolon empat kali lebih sering mengenai bayi atau anak laki – laki dari pada perempuan, mengikuti pola familia pada sejumlah kecil kasus dan cukup sering dijumpai di antara anak – anak yang menderita sindrom Down. Insidennya adalah 1 : 5000 kelahiran hidup tergantung pada gambaran klinisnya, penyakit ini bisa bersifat akut, dan mengancam kehidupan pasiennya atau suatu kelainan yang kronis (Wong, 2009).
Tahun 1888 (Herald Hirschsprung hidup pada tahun 1830-1916) dalam Sodikin (2011) ahli penyakit anak asal Denmark melaporkan dua kasus bayi meninggal dengan perut kembung oleh kolon yang sangat melebar dan penuh massa feses; penyakit ini kemudian dinamakan dengan Hirschsprung. Penyakit ini disebut juga dengan megakolon kongenitum dan merupakan kelainan yang sering ditemukan sebagai salah satu penyebab obstruksi usus pada neonatus. Pada penyakit Hirschsprung
tidak ditemukan pleksus mienterik atau pleksus dilapisan otot dinding usus (plexus myentericus = Auerbach), akibatnya bagian usus yang terkena tidak dapat berkembang
Setiap anak yang mengalami konstipasi sejak lahir, tanpa mempertimbangkan usia dapat menderita penyakit Hirschsprung. Penyakit ini timbul pada neonatus baik sebagai obstruksi usus besar atau timbul kemudian sebagai konstipasi kronik. Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan bawaan tunggal. Kelainan ini jarang sekali ditemukan pada anak premature atau disertai dengan kelainan bawaan lain (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1996) dalam Sodikin 2011.
Menurut Behrman dan Robert (2010) Penyakit Hirschsprung atau megakolon dihubungkan dengan berbagai sindrom seperti trisomi 21 atau waardenbrug, dan menyebabkan 20% kasus obstruksi intestinal pada neonate. Pada 75% kasus, segmen aganglionik terbatas pada kolon rekto sigmoid, 15% meluas keluar dari fleksura splenik Penyakit Hirschsprung terjadi tiga atau empat kali lebih sering pada laki – laki daripada perempuan, insiden meningkat pada saudara kandung dan turunan dari anak yang terkena. Hirschsprung paling sering terjadi pada anak dengan sindrom Down, penyakit ini menyebabkan 15% sampai 20% obstruksi pada neonates (Betz, 2009).
Meskipun secara signifikan menurun selama dekade terakhir, angka kematian untuk penyakit hirschsprung masih berkisar antara 1 dan 10%. Dari pasien dengan penyakit Hirschsprung dirawat yang meninggal pada periode antara tahun 1993 dan 2010 di Genoa, Italia. Delapan dari serangkaian 313 pasien dengan penyakit Hirschsprung meninggal selama periode penelitian (angka kematian = 2.56%). Enam pasien adalah laki-laki untuk laki - laki untuk perempuan rasio 3 : 1 (Pini, 2011).
Menurut World Health Organization (2013) memperkirakan bahwa dari 206.000 kematian di seluruh dunia pada tahun 2011, terdapat sekitar 7% dari seluruh kematian neonatal, disebabkan oleh cacat lahir / kelainan kongenital. Jumlah penduduk Indonesia 220 juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka di prediksikan setiap tahun akan lahir 1540 bayi dengan penyakit Hirschsprung atau megakolon. Kartono mencatat 40 – 60 pasien penyakit hirschsprung atau megakolon yang dirujuk setiap tahunnya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Bersamaan dengan penyakit Hirschsprung, Down Syndrome (5 – 10%) dan kelainan urologi (3%) adalah kelainan paling sering diantara beberapa kelainan kongenital lainnya (Corputty, 2015).
Diagnosis penyakit Hirschsprung harus dapat ditegakkan
sedini mungkin karena berbagai komplikasi yang dapat
terjadi akan sangat membahayakan pasien seperti terjadinya
konstipasi, enterokolitis, perforasi usus serta sepsis yang
dapat menyebabkan kematian. Enterokolitis merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada penderita penyakit Hirschsprung, Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukan terjadinya enterokolitis pascabedah sebesar 53% dan penelitian lainya melaporkan terjadinya enterokolitis pascabedah sebesar 61%dari kasus – kasus penyakit megakolon yang telat dioperas. Penelitian yang dilakukan di Irlandia menunjukan angka kejadian enterokolitis sebesar 30% pada 135 pasien pascabedah dengan faktor resiko umur, jenis kelamin, dan jenis tindakan bedah yang dilakukan. Penelitian di Skotlandia menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya enterokolitis pascabedah adalah multifactor yaitu adanya bakteri, dilatasi kolon yang mengakibatkan iskemia, kelainan mukosubstan kolon, kenaikan aktivitas prostaglandin E1, dan kelainan Imunologis (Rochadi, 2013).
Menurut Betz dan Linda (2009) komplikasi atau dampak yang terjadi pada pasien dengan megakolon atau hirschsprung adalah : Enterokolitis (akut), Kebocoran anastomosis (pascabedah), Striktur ani (pascabedah), Inkontinensia (jangka panjang). Penatalaksanan keperawatan pada penyakit hirschsprung sendri untuk mengurangi distensi abdomen, dilakukan colok dubur supaya feces dapat keluar, apabila terjadi muntah, dilakukan perawatan muntah agar tidak terjadi aspirasi. (Djitowiyono dan Weni 2010). Pemasangan skorstin atau rectal tube dimana memasukan sebuah tabung rectal yang dapat meringankan ketidaknyamanan distensi abdomen dan flaktus, terjadi penurunan motilitas akibat berbagai kondisi medis atau bedah, obat – obatan tertentu, atau udara bahkan feses, (William & Wilkins 2009).
Perawatan prabedah menurut Wong (2009) bagi anak bergantung pada usia dan kondisi klinisnya. Seorang anak yang menderita malnutrisi mungkin tidak mampu bertahan terhadap pembedahan sebelum kondisi jasmaninya diperbaiki. Kerap kali perbaikan ini meliputi tindakan simtomatik dengan pemberian enema, diet tinggi–kalori tinggi–protein dengan kandungan serat yang rendah, danpada situasi gizi yang sangat buruk, pemberian nutrisi parenteral total (TPN).
Berdasarkan data yang didapat dari laporan Rekam Medik di Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, didapat data adanya jumlah Megakolon atau Hirschsprung sebanyak 1 kasus pada tahun 2016, dengan jumlah pasien anak laki – laki 1 orang dan tidak ada angka kematian. Penatalaksanaan Megakolon di ruang Menur Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Pasien datang langsung diberikan oksigen 1 – 2 liter/menit dan posisikan kepala hiperekstensi selanjutnya diberi terapi irigasi / rektal tube dengan NaCl 0.9% (hangat) 40 – 80cc setiap pagi dan sore hari dan dilakkan pemasangan NGT.

Hirschsprung

URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1753
APA Citation
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. M DENGAN MEGAKOLON / HIRSCHSPRUNG DI RUANG MENUR RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor