penulis Reumatoid Artritis (RA) merupakan gangguan kesehatan inflamasi sistematik yang diperantai oleh imunitas. Tidak jelas mengapa individu dapat terkena reumatoid artritis, tetapi statistik menunjukan bahwa wanita memiliki peluang lebih besar untuk terkena reumatoid artritis dan insiden memucak pada usia empat puluhan hingga enam puluhan tahun (Chang, 2009).
Reumatoid artritis adalah penyakit peradangan sistemis kronis dengan manifestasi pada sendi perifer dengan pola simetris. Tanda gejala termasuk kelelahan, malaise, dan kekauan pada pagi hari. Reumatoid artritis sering melibatkan organ ekstra-artikular seperti kulit, jantung, paru-paru, dan mata. Reumatoid artritis menyebabkan kerusakan sendi dan dengan demikian sering menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup besar (Helmi, 2012).
Kejadian tahunan reumatoid artritis di seluruh dunia sekitar tiga kasus per10.000 penduduk, dan tingkat prevalensi sekitar 1%. Remisi klinis spontan bersifat jarang (sekitar 5-10%). Reumatoid artritis terjadi dua - tiga kali lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria. Frekuensi reumatoid artritis puncaknya terjadi pada usia 35 - 50 tahun. Data penderita reumatoid artritis di Indonesia belum banyak dikaji. Pada tahun 2006 diketahui sebanyak 0,3-0,6 % penduduk Indonesia menderita reumatoid artritis (Helmi, 2012). Dampak keadaan ini dapat mengancam jiwa penderitanya dan menimbulkan gangguan kenyamanan. Masalah yang disebabkan oleh penyakit rematik tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas dan aktivitas hidup sehari-hari juga efek siskemik yang tidak jelas, tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian. RA dapat mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri, serta gangguan tidur (Helmi, 2012).
Data pengkajian sering didapatkan adanya keluhan nyeri, pembengkakan, dan kekakuan sendi yang mengalami rematik. Keluhan tersebut bisa diikuti keluhan lain seperti malaise, demam, mudah lelah, penurunan berat badan, mialgia. Pasien mungkin mengeluh adanya kesulitan melakukan aktivitas hidup sehari – hari (misalnya berdiri, berjalan, dan keberhasilan pribadi dengan menggunakan tangan mereka) (Helmi, 2012).
Berdasarkan studi pendekatan praktik keperawatan selama 2 minggu Di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap pada bulan Oktober tahun 2016 melihat sebagian besar penderita reumatoid artritis terjadi pada usia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 21 dari 52 pasien yang memeriksakan kesehatannya di panti. Tanda klinis diantaranya mobilitas terbatas sebanyak 15 orang, kekakuan pada pagi hari sebanyak 21 orang, nyeri pada persendian sebanyak 21 orang, kesemutan yang berlangsung lama. Penanganan yang dilakukan untuk mengatasi reumatoid artritis antara lain Range Of Motion (ROM) dan senam lansia yang dilakukan setiap pagi hari diharapkan mengatasi sedikit gejala yang timbul. Pemberian terapi tersebut diberikan karena tidak ada tenaga medis dalam memberikan perawatan di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.
Reumatoid Artritis
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.T
DENGAN REUMATOID ARTRITIS DI WISMA III DRUPADI
BALAI PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DEWANATA
CILACAP. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id