Demam berdarah dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik. Pada DHF terjadi pembesaran plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shick syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Sudoyo et al., 2009 dalam Nurarif et al., 2015).
Kasus demam berdarah telah tumbuh secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Angka yang sebenarnya dari kasus Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) tidak dilaporkan dan banyak kasus kesalahan klasifikasi. Salah satu perkiraan terbaru menunjukkan 390 juta infeksi dengue, dimana 96 juta manifestasi klinis (dengan keparahan penyakit). Studi lain, dari prevalensi demam berdarah, memperkirakan bahwa 3,9 miliar orang di 128 negara, berada pada risiko infeksi dengan virus dengue. Jumlah kasus yang dilaporkan meningkat dari 2,2 juta pada tahun 2015. Meskipun beban global penuh penyakit ini tidak pasti, inisiasi kegiatan untuk merekam semua kasus DBD sebagian menjelaskan peningkatan tajam dalam jumlah kasus yang dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir (World Health Organization, 2016).
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sekitar 2,5 miliar orang atau 40% dari populasi dunia, hidup di daerah di mana ada risiko penularan DHF yaitu di daerah Asia, Pasifik, Amerika, Afrika, dan Karibia. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 50 sampai 100 juta infeksi terjadi setiap tahun, termasuk 500.000 kasus DHF dan 22.000 kematian, sebagian besar terjadi pada anak-anak (CDC, 2014).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat jumlah penderita DHF di Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang, dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DHF di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25% (Kementrian Kesehatan RI, 2016).
Penyakit DHF merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah, terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit tersebut. Angka kesakitan atau Incidence Rate (IR) DHF di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 yaitu sebesar 47,9 per 100.000 penduduk, mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2014 yaitu 36,2 per 100.000 penduduk. Hal ini berarti bahwa IR DHF di Jawa Tengah lebih rendah dari target nasional (
Dengue Haemmoragic Fever (DHF)
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. S DENGAN DENGUE HAEMORRHAGIK FEVER (DHF) DI RUANG CEMPAKA
RSUD Dr. R GOETENG TAROENADIBRATA
PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id