rofil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2014 mengungkapkan bahwa cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2014 adalah sebesar 53,70%, menurun bila dibandingkan cakupan pada tahun 2013 (58,58%) dimana kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi (100%) adalah Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pekalongan, sedangkan Kabupaten dengan cakupan terendah adalah Kabupaten Banyumas (3,31%). Bila diban-dingkan dengan target pelayanan kesehatan lansia sebesar 60%, maka selama lima tahun terakhir target tersebut belum pernah tercapai.
Usia yang semakin bertambah akan diikuti oleh berbagai macam penurunan fungsi fisiologis akibat proses penuaan sehingga beberapa penyakit tidak menular seperti radang sendi atau rematik banyak muncul pada usia lanjut (Pusdatin Kemenkes RI, 2013). Sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Andry et al. (2009) pada bulan Januari sampai Maret 2008 di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes mengungkapkan bahwa selama kurun waktu 3 – 4 bulan ditemukan kenaikan pemeriksaan kadar asam urat dengan hasil di atas normal sebesar 6,95%.
Gout merupakan contoh klasik inflamasi sendi sinovial yang dipacu oleh kristal. Endapan kristal Monosodium Urat (MSU) dalam ruang sendi menimbulkan serangan rasa nyeri sendi yang hebat dan pembengkakan yang
timbul berulang-ulang. Episode-episode serangan ini dapat sembuh spontan sempurna dalam satu minggu tanpa pengobatan, namun jika tidak diobati dan dirawat dengan benar, penyakit ini dapat berubah menjadi penyakit kronik yang bersifat destruktif yang menyebabkan rasa sakit berulang dan juga dapat menyebabkan deformitas sendi (McPhee & Ganong, 2011).
Perawat berperan penting dalam membantu klien lansia mengatasi dan memilih perilaku mempertahankan kesehatan yang dapat meningkatkan kua-litas hidup mereka. Penuaan dan penyakit tidak identik, serta dampak proses penuaan saja tidak cukup untuk dijadikan sebagai penyebab utama ketuna-dayaan dan penyakit pada lansia. Perubahan patologis yang terjadi bersamaan dengan perubahan normal penuaan sangat berdampak pada ketunadayaan lansia. Lansia dapat merasa, melihat dan berpikir dengan cara yang sama sebagaimana saat mereka masih muda. Keyakinan dan perilaku mereka terkait kesehatan, serta kebutuhan mereka untuk mempertahankan kesehatan tidak berubah drastis ketika mereka harus menjalani masa transisi ke masa lansia (Mass et al., 2011).
Menurut Martono & Pranaka (2014), pengkajian geriatrik adalah suatu prosedur diagnosis yang ditujukan untuk lansia, yang memang berbeda prose-durnya dengan prosedur diagnosis pada populasi lain oleh karena konsep kese-hatan dan sifat penyakit pada lansia yang berbeda. Pengkajian ini pada dasar-nya bertujuan untuk mendiagnosis kelainan fisik/psikis yang bersifat fisiologis maupun patologis untuk mencari adanya gangguan organ/sistem, disabilitas dan handikap (ketidakmampuan sosial), untuk kemudian dilakukan terapi atas kelainan tersebut. Nyeri dan Hambatan Mobilitas Fisik merupakan masalah keperawatan yang paling umum dijumpai pada lansia dengan penyakit radang sendi. Selain itu, diagnosis keperawatan lain seperti Risiko Jatuh dan Gang-guan Pemeliharaan Kesehatan juga dapat muncul seiring dengan adanya per-masalahan fisik berupa nyeri dan keterbatasan rentang gerak sebagai akibat dari penyakit radang sendi yang dialami (Mass et al., 2011).
Penulis mengambil sebuah panti werdha di daerah Cilacap, Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata, sebagai tempat penelitian karena ber-dasarkan pengamatan yang telah penulis dan kelompok penulis lakukan pada saat menjalani praktik keperawatan Gerontik mulai tanggal 12 sampai dengan tanggal 24 Desember 2016 yang lalu, penulis menemukan tiga orang lansia dengan gejala dan keluhan arthritis gout yang cukup jelas. Data status kese-hatan lansia pada tanggal 28 Januari 2016 yang lalu mencatat setidaknya 23 lansia mengalami sakit hipertensi, 21 lansia mengalami rheumatoid arthritis dan 3 lansia mengalami arthritis gout. Namun tidak semua lansia mengikuti pemeriksaan, terutama para lansia dengan kategori eks-psikotik terlantar. Data yang penulis dapatkan hanya menunjukkan 52 lansia saja yang mengikuti pemeriksaan di poliklinik. Rata-rata lansia yang mengalami penyakit arthritis gout berada pada usia di atas 65 tahun, dengan keluhan utama yang sering diungkapkan adalah nyeri dan kekakuan pada sendi setelah duduk terlalu lama, atau ketika bangun pagi.
Menurut pengamatan yang telah penulis lakukan selama dua minggu di lingkungan panti, jadwal kegiatan lansia sehari-hari hanya terfokus pada intervensi keperawatan berupa peningkatan aktivitas fisik dan spiritual lansia, serta pengurangan efek nyeri dari penyakit yang diderita oleh lansia dengan kolaborasi obat-obatan. Sedangkan intervensi keperawatan lain seperti stimu-lasi atau pertahanan fungsi kognitif dan edukasi kesehatan lansia masih sangat jarang dilaksanakan. Arthritis Gout
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. W DENGAN ARTHRITIS GOUT
DI WISMA PANDU BALAI PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
DEWANATA CILACAP. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id