Stroke non hemoragik dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder, kesadaran umum baik (Muttaqin, 2008).
Menurut WHO stroke merupakan adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan cacat yang berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berfikir daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).
Berdasarkan data statistik dari seluruh dunia, diketahui bahwa penyakit jantung koroner dan stroke adalah penyebab kematian tersering pertama dan kedua, serta menempati urutan kelima dan keenam sebagai penyebab terjadinya kecacatan. Sedangkan evaluasi database mortalitas WHO mengisyaratkan bahwa faktor utama yang berkaitan dengan “epidemi” atau peningkatan kasus penyakit jantung koroner dan stroke
adalah perubahan global dalam gizi dan merokok, ditambah urbanisasi dan menuanya populasi (Farida, 2009).
Di negara Indonesia stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di rumah sakit. Stroke sebenarnya dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat contohnya berolahraga secara teratur, hindari minuman beralkohol, jangan mengkonsumsi makanan yang berkolesterol tinggi, tidak merokok. Kesibukan yang padat bisa berakibat terjadinya stres, maka perlu relaksasi. Pengobatan stroke sangat kompleks, memerlukan waktu yang lama, biaya tidak sedikit, perlu dukungan dari keluarga. 500.000 penduduk terkena stroke, 1/3 dapat pulih kembali, 1/3 terjadi gangguan fungsional ringan sampai sedang dan 1/3 terjadi gangguan fungsional berat (Pudiastuti, 2011).
Berdasarkan riset kesehatan dasar nasional tahun 2013, prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar tujuh per mil dan yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan atau gejala sekitar 12,1 per mil. Jadi sebanyak 57,9 % penyakit stroke telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara (10,8%), diikuti Yogyakarta (10,3%), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil, sedangkan Sumatra Barat 7,4 per mil. Prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi selatan (17,9%), Yogyakarta (16,9%), Sulawesi Tengah (16,6%), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil sedangkan Sumatra Barat sebesar 12,2 per mil (Profil Kesehatan Indonesia, 2013).
Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2012 adalah 0,07 lebih tinggi dari tahun 2011 (0,03%). Prevalensi tertinggi tahun 2012 adalah kabupaten Kudus sebesar 1,84%. Sedangkan prevalensi stroke Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 35 non hemoragik pada tahun 2011 (0,09%). Prevalensi tertinggi adalah Kota Salatiga sebesar 1,16%, menurut (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012).
Studi pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga menunjukan jumlah kasus stroke semakin meningkat setiap tahunnya. Perhitungan jumlah kasus stroke pada tahun 2015 mencapai 554 untuk jumlah pasien keluar hidup dan untuk pasien keluar mati 110. Pada tahun 2016 sebanyak 603 untuk pasien keluar hidup dan pasien keluar mati sebanyak 123, untuk semua kasus stroke hemoragik maupun non hemoragik.
Untuk stroke non hemoragik pada tahun 2015 sejumlah 372 kasus, mulai dari umur 24-44 tahun untuk laki-laki sejumlah 6 orang dan untuk perempuan sebanyak 12 orang, umur 45-64 tahun untuk laki-laki sebanyak 108 orang, perempuan sebanyak 76 orang, dan untuk umur >65 keatas untuk laki-laki sebanyak 83 orang, perempuan 84 orang. Pada tahun 2016 angka kejadian stroke non hemoragik sebanyak 192 untuk laki-laki dan perempuan sebanyak 187 orang. Dimulai dari umur 25-44 tahun laki-laki sebanyak 8 orang dan perempuan sebanyak 9 orang. Pada umur 45-64 tahun laki-laki sebanyak 74 orang dan perempuan sebanyak 91 orang. Dan pada umur >65 tahun laki-laki sebanyak 103 dan perempuan sebanyak 83 orang. Kejadian stroke dapat menimbulkan kecacatan bagi penderita yang mampu bertahan hidup.
Penyebab dari stroke non hemoragik itu sendiri adalah adanya penyumbatan daerah pembuluh darah otak yaitu dapat berupa trombolik dan embolik. Penyebab lain yang dapat terjadi adalah karena ada faktor yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Faktor yang dapat dikendalikan seperti kadar kolesterol darah, kadar gula darah, kebiasaan merokok, hipertensi, penyakit jantung, konsumsi obat-obatan terlarang, dan akibat cedera kepala dan leher. Faktor yang dapat dikendalikan tersebut dapat dicegah dengan cara pola hidup sehat. Faktor yang tidak dapat dikenalikan adalah usia, jenis kelamin, ras/etnik, dan riwayat keluarga (Junaidi, 2011).
Tanda gejala yang dapat muncul dari kejadian stroke non hemoragik adalah terasa semutan seperti terbakar, lumpuh separo badan kanan/kiri, sulit untuk menelan, sering tersedak, mulutnya menjadi mencong dan sulit untuk bicara, berjalan susah, dan kehilangan keseimbangan, kepala pusing atau sakit kepala secara mendadak tanpa diketahui sebabnya, gangguan pengelihatan, kelopak mata sulit dibuka, gerakan tidak terkontrol, bingung dan koma (Pudiastuti, 2011).
Penatalaksanaan pasien stroke non hemoragik adalah menjalani program rehabilitas secara tuntas hingga semua fungsi tubuh kembali normal seperti semula, menjalani pola diet sehat bagi pasien yang pernah mengalami stroke, mengkonsumsi obat secara teratur, berhenti merokok, rutin melakukan olahraga ringan, secara berkala melakukan pengukuran tekanan darah, melakukan tes darah dan urine secara rutin jika sebelumnya pernah menderita penyakit tertentu seperti diabetes, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia dan gout) (Lingga, 2013).
Komplikasi yang dapat terjadi adalah edema serebri, infark miokard, pneumonia, ketidakseimbangan cairan, disritmia, peningkatan tekanan intrakranial, kontraktur, gagal nafas, kematian (Ariani, 2013). Komplikasi juga dapat menyebabkan disritmia, peningkatan tekanan intrakranial, kontraktur, gagal nafas, dan berakhir dengan kematian. (Pudiastuti, 2011)
Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Stroke Non Hemoragik dilakukan pengkajian meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga. Selain dilakukan pengkajian dilakukan pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, tingkat kesadaran dan perumusan diagnosa keperawatan yang muncul, yaitu: perfusi jaringan serebral, hambatan mobilitas fisik, risiko gangguan integritas kulit, defisit perawatan diri, kerusakan komunikasi verbal, risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gangguan eliminasi urine, dan ketidakefektifan bersihan jalan nafas (Muttaqin, 2008). Stroke non hemoragik
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S DENGAN DIAGNOSA MEDIS STROKE NON HEMORAGIK DI RUANG ANGGREK RSUD Dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id