Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang dalam kehidupan ini membawa dampak yang sangat signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup, status kesehatan, umur harapan hidup dan bertambahnya usia lanjut yang melebihi pikiran statistik. Kondisi tersebut akan merubah komposisi dari kasus-kasus penyakit. Pada usia lanjut manusia akan mengalami kemunduran atau penurunan fungsi organ tubuh sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar hormon pria, terutama testosterone pada kelenjar prostat.
Kelenjar Prostat adalah organ genital yang hanya ditemukan pada pria. Prostat berbentuk seperti buah kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya sekitar 20 gram. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblas, pembuluh darah, saraf, dan jaringan penyanggah yang lain. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulasi. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan ± 25% dari seluruh volume ejakulat. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat, dan leher kandung kemih. Pada tempat-tempat tersebut banyak terdapat reseptor adrenergik. Rangsangan simpatik menyebabkan tones otot pola tersebut dipertahankan. Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat menghambat uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih (Muttaqin, 2010).
Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit yang jarang mengancam jiwa tetapi cukup memberikan keluahan yang menjengkelkan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya dan sering ditemukan pada pria lanjut usia. Studi yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Olmsted Country didapatkan prevalensi BPH mencapai hingga 13% pada usia diatas usia 40 tahun dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi BPH yang didapat dari studi multisenter yakni, di Asia lebih tinggi dibandingkan di Amerika Serikat yaitu sekitar 18% pada usia diatas 40 tahun (Mandang, 2015).
Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) adalah pembesaran, atau hipertropi, kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar, meluas ke atas menuju kandung kemih dan menghambat aliran keluar urine. Berkemih yang tidak lampias dan retensi urin yang memicu stasis urine dapat menyebabkan hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi saluran kemih. Penyebab gangguan ini tidak dipahami degan baik, tetapi bukti menunjukan adanya pengaruh hormonal. BPH sering terjadi pada pria berusia lebih dari 40 tahun (Brunner & Suddarth, 2013).
Menurut estimasi American Foundation for Urologic Disease, lebih dari setengah laki-laki berumur 50 tahun keatas mengalami pembesaran prostat. Jumlah ini bertambah seiring bertambahnya umur dan pada umur 80 tahun diperkirakan bahwa 80% laki-laki mengalaminya. Jika membesar, kelenjar prostat bisa menutup sebagian aliran urine melalui ureter yang menyebabkan tekanan balik dalam ginjal. Jika tidak diatasi, kondisi ini bisa menimbulkan penyakit ginjal kronis (Abata, 2014).
Untuk di Indonesia BPH merupakan penyakit tersering kedua setelah batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya, diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia diatas 50 tahun, dengan kini usia harapan hidup mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit BPH ini. Selanjutnya, 5 persen pria Indonesia sudah masuk ke dalam lingkungan usia diatas 60 tahun. Oleh karena itu, jika dilihat, dari 200 juta lebih bilangan rakyat Indonesia, maka dapat diperkirakan 100 juta adalah pria, dan yang berusia 60 tahun dan ke atas adalah kira-kira seramai 5 juta, maka dapat secara umumnya dinyatakan bahwa kira-kira 2,5 juta pria Indonesia menderita penyakit BPH (Samida, 2015).
Berdasarkan hasil data yang didapatkan di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto kasus BPH mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2014 dari bulan Januari sampai bulan Desember sebanyak 212 kasus. Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai bulan Desember sebanyak 322 kasus. Kemudian pada tahun 2016 dari bulan Januari sampai bulan Desember sebanyak 353 kasus. Dan pada tahun 2017 bulan januari sebanyak 42 kasus. Benigna Prostat Hiperplasia
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH) DI RUANG EDELWEIS RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id