Gagal ginjal kronik (Chronic Renal Failure) merupakan kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya, jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal) (Nursalam, 2009). Gagal ginjal kronik ialah kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama dan menetap yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolik (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat bekerja dengan baik. Gagal ginjal kronik terjadi apabila kedua ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan dalam untuk kelangsungan hidup. Kerusakan pada kedua ginjal ini menyebabkan ireversible, eksaserbasi nefritis, obstruksi saluran kemih, kerusakan vaskuler akibat diabetes yang mengakibatkan pembentukan jaringan parut pembuluh darah dan hilangnya fungsi ginjal secara progresif (Baradero at all, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO) secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakitgagal ginjal kronik, pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal kronik pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal kronik meningkat 50% pada tahun 2014 (WHO, 2014).Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi gagal ginjal kronik di Indonesia sekitar 0,2%, prevalensi kelompok umur > 75 tahun dengan 0,6% lebih tinggi dari kelompok umur lainnya. Di Sulawesi Utara prevalensi gagal ginjal kronik sebesar 0,4% dimana lebih tinggi dari prevalensi nasional. Berdasarkan data yang dirilis PT. Askes pada tahun 2010 jumlah pasien gagal ginjal ialah mencapai17.507 pasien. Kemudian meningkat lagi pada tahun 2011 dengan jumlah pasti sebesar 23.261 pasien. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan yakni 24.141 pasien. Menurut Yayasan Peduli Ginjal (Yagudi), menyatakan bahwa terdapat 40.000 penderita gagal ginjal kronik (GGK), namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3.000 penderita yang bisa menikmati pelayanan cuci darah atau hemodialisa.
Berdasarkan hasil pra survey di RSUD Dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA,data tahun 2014 terdapat pasien gagal ginjal kronik sebanyak 232 pasien, jumlah pasien gagal ginjal kronik yang hidup sebanyak 218 pasien dan jumlah pasien gagal ginjal kronik yang meninggal dunia sebanyak 14 pasien. Jumlah pasien gagal ginjal kronik mengalami penurunanpada tahun 2015 sebanyak 1 pasien dari 232 pasien menjadi 231 pasien, dengan jumlah pasien hidup 213 dan pasien yang meninggal sebanyak 18pasien dan tahun 2016 mengalami penurunan yang signifikan sebanyak 181 pasien dari jumlah pasien pada tahun sebelumnya yaitu 231 pasien menjadi 50 pasien, dengan jumlah pasien hidup 42 dan pasien meninggal 8 pasien.Mahasiswa dalam hal ini berperan sebagai perawat ruang penyakit dalam, dimana pada saat melakukan pra survey hal pertama yang dilakukan mahasiswa adalah observasi terkait dengan jumlah pasien dengan gagal ginjal kronik. Dari observasi yang dilakukan mahasiswa, ditemukan data objektif seperti edema, anemis, sesak nafas. Kemudian dari data rekam medik ditemukan adanya gangguan asam basa pada pemeriksaan cairan dan elektrolit, mengingat begitu kompleksnya kondisi pasien dari hasil observasi sehingga perlu dilakukan tindakan keperawatan dengan memberikan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik secara komprehensif. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan pada angka kejadian gagal ginjal kronik sebanyak 182 pasien pada 3 tahun terakhir dan jumlah pasien gagal ginjal kronik yang hidup mengalami penurunan sebanyak 176 pasien pada 3 tahun terakhir.
Menurut Robinson (2013), penyebab gagal ginjal kronik yaitu adanya Infeksi saluran kemih, Penyakit peradangan (glomerulonefritis) primer dan sekunder, penyakit vaskuler hipertensif merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, gangguan jaringan penyambung, penyakit kongenital dan herediter, Penyakit metabolik, Nefropati toksik, Nefropati obstruktif dan penyebab gagal ginjal lainnya seperti, gangguan pembuluh darah ginjal yang dapat menyebabkan iskemik ginjal dan kematian jaringan ginjal, gangguan imunologi, gagguan tubulus primer terjadi nefrotoksis akibat analgetik atau logam berat, obstruksi traktus urinarius oleh batu ginjal, hipertrofi prostat, dan konstriksi uretra.Tanda dan gejala yang muncul pada penyakit gagal ginjal kronik biasanya seperti tekanan darah meningkat karena jumlah cairan berlebihan dan produksi hormon vasoaktif, urea terakumulasi menyebabkan azotemia dan akhirnya uremia, kalium terakumulasi dalam darah yang dikenal sebagai hiperkalemia dengan berbagai gejala, erytropoietin sintesis menurun yang berpotensi menyebabkan anemia karena kelelahan, volume cairan yang berlebihan, hiperfosfatemia karena eksresi fosfat berkurang, serta terkait dengan hipokalsemia (karena kurang vitamin D), dan metabolik asidosis yang merupakan akibat dari akumulasi sulfat, fosfat, asam urat, dan lain-lain.
Komplikasi bisa terjadi pada gagal ginjal kronik karena adanya retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem renin, angiotensin, aldosteron sehingga mengakibatkan hipertensi, terjadinya penurunan eksresi, asidosis metabolic, katabolisme dan masukan diit berlebihan menyebabkan hiperkalemia, sedangkan anemia terjadi karena adanya penurunan eritropoeitin, penurunan rentang usia sel darah merah, perdarahan gastrointestinal akibat iritasi dan asidosis metabolik terjadi karena nefron yang rusak tidak bisa mengekresikan asam yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh. Apabila laju glomerulus menurun 30-40% asidosis metabolik mulai berkembang karena kemampuan tubulus distal untuk mereabsorbsi bikarbonat menurun, Perikarditis terjadi karena efusi pericardial dan temponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat dan penyakit tulang yang diakibatkan oleh retensi fosfat, kadar kalium serum yang rendah metabolisme vitamin D, abnormal dan peningkatan kadar aluminium (Haryono, 2013).
Menurut Prabowo dan Pranata (2014), pengkajian pada pasien gagal ginjal kronik sebenarnya hampir sama dengan pasien gagal ginjal akut yaitu meliputi riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan sekarang, namun disini pengkajian lebih menekankan pada support system untuk mempertahankan kondisi keseimbangan dalam tubuh (hemodynamically process). Dengan tidak optimalnya/ gagalnya fungsi ginjal, maka tubuh akan melakukan upaya kompensasi selagi dalam batas ambang kewajaran. Tetapi, jika kondisi ini berlanjut (kronis), maka akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis yang menandakan gangguan sistem tersebut. Gagal Ginjal Kronik
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. I DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DI RUANG KENANGA RSUD Dr.R.GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id