Asma bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental, spasme, dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus, akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. Serangan asma bronkial sering dicetuskan oleh Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), merokok, tekanan emosi, aktivitas fisik, dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen (Somantri, 2009).
Berdasarkan data kesehatanduniaWorld Health Organization (WHO), asma mempengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia dan setiap tahun mengalami peningkatan, terutama pada anak-anak. Setiap tahun, WHO memperkirakan bahwa 15 juta kasus penyakit asma, 1,5% diantaranya terjadi pada anak dan 250 ribu kematian asma dilaporkan di seluruh dunia (WHO, 2016).
Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 mendapatkan hasil prevalensi nasional untuk penyakit asma pada semua umur mencapai 4,5 %. Sementara umur 0-12 tahun memiliki prevalensi asma terendah sebesar 1,5 % dan umur 25-34 tahun mempunyai prevalensi asma tertinggi yaitu sebesar 5,7 %. Prevalensi asma untuk provinsi JawaTengah mencapai 4,3 %. Jumlah kasus asma di Jawa Tengah sebanyak 69.448 ribu kasus, kabupaten tertinggi dengan angka kejadian penyakit asma terjadi di Kabupaten Demak sebanyak 6.288 ribu kasus, diikuti Kabupaten Pemalang dengan angka kejadian tertinggi kedua sebanyak 4.070 ribu kasus, sedangkan kabupaten dengan angka kejadian penyakit asma terendah ada di Kabupaten Banjarnegara sebanyak 101 kasus.
Gambaran klinis atau tanda gejala asma adalah sesak napas, batuk terutama pada malam hari, pernapasan yang dangkal dan cepat, mengi yang dapat terdengar pada auskultasi paru biasanya terdengar saat ekspirasi, serta peningkatan usaha napas (Corwin, 2009). Untuk komplikasi dari asma bronkial diantaranya pneumothorak, atelektasi, aspirasi, kegagalan jantung / gangguan irama jantung, sumbatan saluran napas yang meluas / gagal napas, dan asidosis (Saferi & Mariza 2013). Tanda gejala dari asma tersebut memunculkan diagnosa keperawatan ketidakefektifan pola napas. Dampak asma pada anak meliputi terjadinya gangguan atau penurunan kualitas hidup dan dari penelitian ini terlihat dengan adanya penilaian terhadap domain aktifitas sehari-hari, hubungan personal, dan aktifitas lainnya seperti di sekolah angka kehadiran anak di sekolah. Masalah aktifitas yang terjadi meliputi keterbatasan bermain, sering kambuh jika belari, mudah lelah, dan kurang istirahat. (Monalisa, 2011)
Ketidakefektifan pola napas jika tidak ditangani akan mengakibatkan penurunan saturasi oksigen, penurunan kapasitas vital paru, dan mengakibatkan penggunaan otot bantu pernapasan (Setiati,dkk, 2014). Menurut Sudarti (2010) dan Axton (2014) tatalaksana yang dapat dilakukan pada kasus ini yaitu dengan pemberian posisi yang nyaman bagi anak,untuk menjaga kelancaran pernapasan. Pemberian oksigenasi, fisioterapi dada, dan nebulizer.
Hasil pra survei yang dilakukan di RSUD dr.R Goeteng Taroenadibrata angka kasus asma dari kurun waktu tiga tahun terakhir sebanyak 33 kasus. Penatalaksanaan keperawatan pada kasus Asma yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menggunakan SOP yang mengacu pada asuhan keperawatan NANDA, NOC dan NIC misalnya seperti pemberian nebulizer, fisioterapi dada, dan batuk efektif. Asma
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. W DENGAN ASMA DI RUANG CEMPAKA RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id